MASYARAKAT Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) banyak yang merantau di Kota Makassar. Mereka menggeluti banyak profesi. Mulai dari dosen hingga mahasiswa yang sekaligus bekerja. Budaya leluhur menjadi pengikat mereka.
SALAH seorang tokoh masyarakat Manggarai di Makassar adalah Doktor Arda,MSi. Ia sudah 34 tahun bermukim di kota ini. Hubungan kekerabatan dengan sesama perantau asal Manggarai ia jalin secara berkesinambungan.
”Saya selalu bangga jika menyebut Manggarai. Kurang lebih 34 tahun saya tinggal di Makassar, saya tahun orang Manggarai disukai oleh identitas lain yang ada di kota ini. Terutama mereka yang bergerak di sektor wiraswasta. Karena banyak yang bekerja di situ. Tapi jangan salah persepsi. Orang Manggarai yang bekerja di situ adalah mahasiswa. Karena banyak mahasiswa asal Manggarai yang sekaligus bekerja,” ungkap Arda ketika menjadi narasumber dalam siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Mengenakan songkok dan syal khas Manggarai, doktor sosiologi yang juga dosen Universitas Sawerigading (Unsa) ini, mengaku bangga karena orang Manggarai cukup dipercaya oleh pemilik usaha yang ada di Makassar. Hal itu juga diakui Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo ketika itu, dalam sebuah dialog kebudayaan.
”Orang Manggarai, Flores, dan NTT secara umum disuka karena mereka pekerja yang ulet. Di sisi lain mereka juga tercatat sebagai mahasiswa,” terang Arda.
Dari penelitian yang dilakukannya pada tahun 2017, sebut Arda, tercatat ada 7.010 orang Manggarai yang ada di Makassar. Ia memperkirakan jumlah tersebut terus bertambah, sehingga bisa mencapai belasan ribu saat ini.
Arda mengacu pada alasan bahwa setiap tahun ada banyak orang Manggarai yang datang ke Makassar untuk melanjutkan studi. Sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) mereka tempati kuliah. Di antarasnya Universitas Satria (Unsat) ketika masih beroperasi, di Yayasan Pembangunan Indonesia. Universitas Mega Rezky, Unismuh, serta Universitas Atmajaya. ”Banyak yang memilih kuliah di PTS karena mereka bisa ada peluang untuk bekerja part time,” ujarnya.
Diakui Arda, organisasi terbesar masing-masing perantau Manggarai ada pada tingkat kecamatan. Hal itu tampak dari keterlibatan mereka pada sebuah wadah olahraga paling besar bertitel Turnamen Sepakbola Komodo Cup. Even yang dihelat sejak tahun 2000 ini mempertemukan club sepakbola dari masing-masing kecamatan asal Manggarai yang ada di Makassar.
”Kita juga memberikan keleluasan kepada masing-masing kecamatan untuk membuat lebih dari satu tim. Bahkan ada kecamatan yang membentuk tiga tim. Itu karena banyak mahasiswa dan masyarakatnya yang ada di Makassar. Ini karena orang Manggarai suka sepakbola,” ungkap Arda.
Alat perekat lainnya warga Manggarai di perantauan adalah caci. Bahkan, Arda mengklaim ini adalah budaya paling bergengsi. ”Kalau ada caci, tenggelam yang lain. Ini diakui oleh beberapa komunitas NTT,” imbuhnya.
Dalam atraksi caci, dua orang saling berhadap-hadapan menggunakan peralatan khusus khas Manggarai. Mereka membuka baju lalu saling memukul. Namun, hanya satu kali diperolehkan memukul. Setelah itu bernyanyi dan berjoget.
”Ini bukan sebuah permusuhan, melainkan acara untuk kegembiraan. Dulu dilaksanakan sebagai syukuran pascapanen. Dengan hasil panen melimpah ruah, yang punya kebun mengumpulkan sebagian hasil buminya untuk kemudian dipakai membeli kerbau. Untuk acara syukuran ini diundang kampung tetangga untuk caci,” ungkap Arda.
Sebagai upaya melestarikan budaya, caci biasa dipertunjukkan dalam kegiatan syukuran yang dilaksanakan warga Manggarai di Makassar. Termasuk ambil bagian dalam even pekan budaya yang digelar Pemkot Makassar.
”Caci ini sangat disukai orang Manggarai. Karena bukan sekadar baku pukul satu lawan satu. Tapi ada iramanya mengikuti gendang,” imbuhnya.
Atraksi caci mencirikan orang Manggarai yang punya keberanian untuk memukul. Ketangkasan serta kesiapan untuk menangkis.
Budaya lain yang menjadi pengikat adalah Kumpul Kope. Ini biasanya dilakukan jika ada anak laki-laki dari satu keluarga hendak dinikahkan. Mereka kemudian mengumpulkan uang untuk acara ini.
”Kalau di Makassar, kami laksanakan untuk semua. Kumpul kope dilakukan oleh keluarga dan kerukunan kecamatan. Kemudian bikin undangan kepada siapa saja. Termasuk di luar keluarga. Jadi ada keharusan untuk melakukannya di lain waktu. Ini sebagai bagian dari meringankan beban keluarga. Juga bagaimana tanggung jawab orang tua terhadap anak lelaki yang hendak menikah,” jelas Arda.
Satu lagi yang disebutkan Arda adalah kirim jenazah. Orang Manggarai di Makassar kerap mengumpulkan uang untuk mengirim jenazah ke kampung halaman. ”Asal tahu ada jenazah yang mau dikirim, mereka datang sendiri walau tidak diundang dan mengumpulkan uang duka. Ini menjukkan tanggung jawab sosialnya tinggi,” terang Arda.
Di bagian akhir wawancara, Arda ditanya tentang perjalanannya dari Manggarai hingga sampai di Makassar. ‘”Saya di kampung bukan orang kaya. Bapak saya imam desa yang tidak ada gajinya. Saya datang ke Makassar setelah keduanya meninggal. Saya dibiayai oleh saudara-saudara,” ujar anak kelima dari enam bersaudara ini.
Seperti halnya warga Manggarai lainnya yang datang ke Makassar, Arda kuliah sambil bekerja. Ia bahkan pernah bekerja di sebuah pabrik roti Jalan Mallengkeri. Hal itu disebutnya sebagai latihan untuk mengetahui tentang dunia kerja. (*/rus)

