WAJO, BKM — Dalam upaya menekan angka stunting di Kabupaten Wajo, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Selatan bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wajo mencanangkan Program Kampung Keluarga Berkualitas (KB), sekaligus meluncurkan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat). Kegiatan ini berlangsung di Desa Sogi, Kecamatan Maniangpajo, Kamis, 15 September 2022.
Pencanangan Kampung KB dan Launching Dashat ditandai dengan pemukulan gong oleh Deputi Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan (Lalitbang) BKKBN Prof drh Muh Rizal M Damanik MRepSc,PhD bersama Bupati Wajo Dr H Amran Mahmud,SSos,MSi.
Rangkaian kegiatan pemberdayaan kelompok masyarakat di Kampung KB dalam rangka penurunan stunting di Wajo ini, juga dihadiri Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan Dra Hj Andi Ritamariani,MPd, Ketua Tim Penggerak PPK Wajo Sitti Maryam,SSos, MSi, serta Dandim 1406 Wajo Letkol Inf Muhammad Jaunda.

Bupati Wajo Amran Mahmud, mengatakan program Kampung KB sangat berpengaruh dalam upaya menekan angka stunting yang saat ini jadi fokus nasional. Dirinya pun menyerukan agar program ini dimasifkan di seluruh tingkatan daerah.
Ia menyebut, di Wajo dari tahun 2016 sudah membentuk Kampung KB yang tersebar di 14 kecamatan. Selanjutnya akan dicanangkan 61 Kampung KB baru. Angka ini diharapkan terus bertambah sehingga dapat menekan angka stunting.

Amran Mahmud berharap pembentukan Kampung KB yang merupakan arahan presiden dapat lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Terutama yang berada di wilayah terpencil, tertinggal, pesisir, pegunungan, hingga wilayah padat penduduk dan daerah-daerah miskin.
“Apabila berhasil maka Insyaallah secara bertahap pada tahun-tahun mendatang akan dikembangkan jumlahnya dan dibentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah,” terang kepala daerah bergelar doktor ini.
Terkait program Dashat, Amran Mahmud menjelaskan ini merupakan salah satu program yang dicanangkan BKKBN sebagai upaya penurunan stunting. “Dijadikannya Kampung KB sebagai basis pengembangan Dashat berdasarkan pada realita bahwa di Kampung KB sistem pengelolaan kegiatan, terutama yang terkait dengan Bangga Kencana telah berjalan dengan baik,” jelasnya.

Amran Mahmud berharap pencanangan Kampung KB dan peluncuran Dashat tidak sekadar seremonial. Tetapi jadi pemicu untuk berbuat lebih baik ke depannya, utamanya dalam percepatan penurunan stunting dan Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana).
“Jangan sampai Kampung KB berhenti tanpa kegiatan setelah dilaksanakan pencanangan. Kepada semua pihak supaya bergerak cepat dan sigap dalam melaksanakan berbagai program dan kegiatan program Bangga Kencana,” pesannya.
Sementara, Deputi Lalitbang BKKBN, Prof Rizal Damanik menyampaikan kebanggaannya bisa berkunjung ke Bumi Lamaddukelleng. Secara khusus dirinya memuji adat dan kesopanan orang Wajo. Rizal pun mengapresiasi sambutan dan penerimaan yang sangat baik dari pemerintah daerah dan seluruh masyarakat, khususnya di Desa Sogi.

Pada kesempatan ini, Rizal mengukuhkan Bupati Wajo Amran Mahmud sebagai Duta Bapak Asuh Anak Stunting, dan Ketua TP PKK Wajo Sitti Maryam sebagai Bunda Asuh Anak Stunting. Pengukuhan ditandai pemasangan selempang oleh Deputi Lalitbang BKKBN dan penyerahan piagam penghargaan.
Rizal Damanik dalam kesempatan itu menjelaskan, stunting merupakan gangguan tumbuh dan kembang pada anak akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu yang cukup lama dan infeksi berulang, utamanya pada periode 1000 hari pertama kehidupan sehingga tubuh anak tumbuh lebih pendek dari anak seusianya.
“Perlu di jelaskan bahwa anak pendek belum tentu stunting, tetapi anak stunting sudah tentu pendek. Anak stunting tidak sempurna pertumbuhan dan perkembanganya, sehingga akan membuatnya hidup dalam keterbatasan dan ketergantungan. Ini yang perlu kita cegah, khususnya di 1.000 hari pertama kehidupan,” ungkapnya.
Ditambahkan, berdasarkan data Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 angka prevalensi stunting nasional berada pada angka 24,4 persen, turun dari tahun 2019 sebesar 27,4 persen. “Angka stunting di Sulawesi Selatan masih berada pada angka 27,4 persen di atas rata-rata nasional sebesar 24,4 persen. Sedangkan prevalensi stunting di Wajo berada pada angka 22,4 persen. Angka ini termasuk terendah di Sulsel, namun masih jauh dari target nasional 14 persen tahun 2024” ungkap Rizal Damanik.
Ia menyerukan, dalam pencegahan stunting dilakukan dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif untuk bayi yang baru lahir selama enam bulan, mengingat ASI untuk bayi sangat penting untuk tumbuh kembang anak.
“ASI eksklusif merupakan makanan yang pertama dan paling cocok untuk bayi, sehingga saya dorong ibu-ibu untuk berikan ASI Ekslusif kepada anaknya, bukan dengan susu formula. ASI selain efisien dan juga murah,” kata Rizal Damanik.
Terkait peluncuran Dashat, Rizal Damanik menjelaskan bahwa program ini dalam rangka mencegah stunting, mendorong masyarakat memanfaatkan pangan lokal yang ada di sekitar rumah untuk diolah secara baik dengan benar, menjadi masakan yang kaya akan gizi untuk diberikan kepada anak ataupun dikonsumsi oleh bumil-bumil agar kebutuhan gizinya terpenuhi.
Pada kesempatan ini dilakukan pula kegiatan pelayanan KB, pameran kelompok produk kelompok UPPKA serta pembagian paket bantuan kepada keluarga berisiko stunting ke rumah sasaran. (*/rus)

