pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Daeng Saleh Pedagang Es Poteng (Tape Ubi) Keliling

Bersama Sepeda Tuanya Menyusuri Kota Makassar, Kadang Ban Bocor dan Rem Blong

HIDUP di zaman modern seperti sekarang ini, orang dituntut untuk berani menerjang kerasnya kehidupan. Orang akan lebih merasa sengsara jika tak mau bergerak melewati berbagai rintangan. Sebab orang tidak akan pernah mengenal kata cukup sebelum melewati rintangan tersebut. Seperti kisah Daeng Saleh (71) tahun penjual es poteng keliling.

Penulis: MUH ZAAD-AHMAD DAFFA

Di tengah kepadatan arus kendaraan yang melintas di Jalan AP Petta Rani Makassar, Seorang pria tua berkemeja kotak-kotak, bercelana panjang hitam dan dengan menggunakan topi kerucut di kepalanya mengayuh sepeda sambil berjualan Es Poteng keliling. Dialah
Saleh, Pria Kelahiran Galesong, Sulawesi Selatan berkeliling menjual es poteng atau tape ubi di sekitar Jalan Paotere dan Jalan Sunu.
Saat kami jumpai, Saleh tampak tersenyum. Ia menawarkan es yang ia jual. “ Mau beli es poteng nak (tape ubi). Satunya Rp5.000 saja” kata Saleh, akhir pekan lalu.

Diantara hujan dan cahaya matahari, gerimis mengguyur sepanjang jalan AP Petta Rani, Sosok Saleh dengan perawakan tinggi kurus mengayuh sepedanya menghampiri kerumunan orang-orang yang berada di sekitar bahu jalan untuk menawarkan es poteng dagangannya. Dengan cuaca yang tak menentu di setiap jam, menit bahkan detik senyum manis terlihat di wajah Saleh.
Apalagi ia tak kuasa menahan rasa bahagia jika es poteng dagangannya habis terjual.
Dengan mengayuh sepeda sedikit lambat, laki-laki paruh baya itu menyusuri jalan di sekitaran Jalan AP Petta Rani, Makassar. Dan berteduh di bahu jalan sembari beristirahat.

Kepada penulis, ia mengaku mulai berjualan es poteng dari Tahun 1980-an sampai sekarang. Setiap harinya ia membawa satu boks penuh es untuk didagangkan. Dengan penghasilan Rp 200.000/harinya.
“Tidak selamanya habis nak, namanya orang jualan pasti kadang habis kadang juga tidak, tergantung rezekinya. Sebelum saya berjualan es poteng Tahun 1980-an profesi saya sebagai seorang petani di Galesong,” kata Saleh.
Setiap pagi ia berkeliling berjualan es poteng menggunakan sepeda tua miliknya menyusuri jalan-jalan protokol dan lorong-lorong sempit.
“Biasanya keluar sekitaran jam 10.00 pagi sampai sore. Apalagi sekarang cuaca kadang panas kadang juga hujan ,” tambah Saleh.
Dengan mengayuh sepeda tuanya, Saleh dengan topi khasnya ala petani, mengungkapkan alasannya untuk tetap berjualan es poteng hingga saat ini. Menurutnya hanya sebatas upaya mengais rezeki untuk keluarga meskipun dengan peralatan dagang yang sudah mulai rapuh, tetapi hal ini tidak menjadi alasan kakek paruh baya ini untuk mengais rezeki.

Dengan beban bawaan sebanyak itu, Saleh tak jarang mengeluhkan kakinya yang sering sakit karena pengaruh usianya yang tak lagi muda. Hujan, rem blong, dan ban bocor menjadi kendala saat ia berdagang, tetapi ia tak putus asa demi menghidupi istri dan anak-anaknya.
Meskipun banyak rintangan yang di hadapi, ia tetap bersyukur dan terus berusaha untuk bertahan hidup mencukupi kebutuhan sehari-hari istri dan anak-anaknya. Lelah tentu ia rasakan setiap harinya. Namun ia tidak pernah menyerah begitu saja. Sosoknya begitu tangguh dalam menghadapi segala cobaan. Ia berharap agar usahanya sukses, berjalan lancar dan dicukupkan rezekinya agar dapat membiayai sekolah anak-anaknya.(*)



×


Daeng Saleh Pedagang Es Poteng (Tape Ubi) Keliling

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link