MAKASSAR, BKM — Berbagai program inovasi digital terus dikembangkan Bank BTPN. Salah satu yang menjadi andalan dan prioritas adalah produk Jenius. Secara nasional, hingga akhir Oktober 2022, jumlah pengguna aplikasi Jenius ini mencapai 4,2 juta orang.
Hal tersebut diungkapkan Regional Business Leader Micro Business & Regional Head Indonesia Bagian Timur Bank BTPN, Yusri Asri, pada acara bincang santai dengan kalangan wartawan di Kota Makassar, Rabu (16/11).
Jenius ini adalah sebuah aplikasi perbankan digital dari Bank BTPN. Aplikasi ini membantu penggunanya melakukan aktivitas finansial, seperti menabung, bertransaksi atau mengatur keuangan serta memungkinkan nasabah untuk memiliki rekening bank. Semua dilakukan dari satu tempat, dari ponsel, baik yang berbasis Android maupun IOS.
Yusri mengakui, pengguna Jenius secara nasional maupun di IBT meliputi Sulawesi, Kalimantan, dan Papua, terus mengalami pertumbuhan. Apalagi saat pandemi Covid-19, dimana banyak aktivitas masyarakat dilakukan pembatasan. Termasuk yang berkaitan dengan perbankan. Sehingga penerapan teknologi mutlak dilakukan.
Yusri Asri mengakui, aplikasi Jenius BTPN pada saat ini banyak digunakan kalangan anak muda atau milenial yang memang melek teknologi. ”Tapi itu tidak berarti, jenius BTPN hanya menyasar kalangan anak milenial. Produk bank digital BTPN juga menyasar kelompok purnabakti atau pensiunan pegawai. Perlahan tapi pasti, saat ini kian banyak purnabakti yang mulai menggunakan aplikasi Jenius. Inovasi digital dalam perbankan lewat aplikasi Jenius memudahkan nasabah untuk melakukan transaksi keuangan,” kata Yusri Asri didampingi Communication and Daya Head Bank BTPN.
Pada kesempatan tersebut, Yusri Asri juga menjelaskan mengenai pertumbuhan bisnis Bank BTPN yang semakin baik. Termasuk di Indonesia Bagian Timur (IBT). Pada saat ini, sudah ada 64 kantor cabang di wilayah IBT. Makassar sendiri memberi kontribusi yang baik.
”Perdagangan di Makassar sedang berkembang. Untuk itu, kami memberi perhatian lebih terhadap sektor perdagangan di Makassar. Bank BTPN sendiri saat ini fokus pada tiga segmen. Yakni mikro dan UMKM (usaha mikro kecil menengah), Small Medium Enterprise (SME), serta purnabakti.
Untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) di Bank BTPN, kata Yusri, mengalami pertumbuhan sekitar 10 persen untuk rentang Januari hingga Oktober 2022. Karenanya, tambah Yusri, pihaknya kembali akan memacu penyaluran kredit kepada UMKM. Apalagi perekonomian sudah berangsur pulih pascapandemi Covid-19.
Sementara itu, Communications & Daya Head Bank BTPN, Andrie Darusman, mengatakan, sejak merger dari PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional tahun 2019 dan diambil alih PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia menjadi PT Bank BTPN, Bank BTPN tumbuh dua kali lipat lebih besar dari aset serta menjadi bank universal yang awalnya hanya fokus pada pengolahan dan pinjaman dana pensiun.
”Sejak merger dan diambil alih, aset kini hampir mencapai Rp200 triliun. Bank BTPN tidak hanya konsen pada layanan purnabakti layanan pensiun. Tetapi juga layanan mikro pembiayaan UMKM dan SME pengusaha. Produk- produk yang dikeluarkan pun menyasar segmen milenial,” tutup Andrie. (mir)

