MAKASSAR, BKM — Kota Makassar sebagai kota metropolitan ternyata makin dilirik sejumlah investor untuk menanamkan modalnya di ibukota Provinsi Sulsel ini. Selain investasi pertambangan dan pertanian, investor juga melirik pembangunan hotel dan restoran.
Apalagi, investasi di Kota Makassar terus bertumbuh. Hingga triwulan III tahun 2022 lalu, tercatat nilai investasi yang masuk di ibukota Sulsel ini mencapai Rp3 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PM PTSP), Andi Zulkifli Nanda menjelaskan, Makassar menjadi penyumbang investasi terbesar di Sulsel, yakni 30,23 persen.
Investasi tahun lalu didominasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 2,74 triliun.
Sementara penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp280 miliar lebih.
Realisasi investasi terbesar bersumber dari sektor perhotelan dan restoran, nilainya capai Rp1,37 triliun.
Disusul sektor perumahan, kawasan dan perindustrian sebesar Rp462,55 miliar, sektor konstruksi Rp390,51 miliar.
Jasa lainnya Rp127,28 miliar dan sektor perdagangan dan reparasi senilai Rp124,85 miliar.
“Paling tinggi di sektor hotel dan restoran atau pariwisata, kita berharap potensinya lebih tinggi karena tahun sebelumnya yang paling tinggi adalah konstruksi,” ucap Zulkifli Nanda.
Bahkan, Zul-sapaannya optimistis investasi di sektor hotel dan restoran bisa tembus Rp1,5 triliun di tahun 2022 mengingat belum ada laporan atau rilis investasi keseluruhan untuk tahun 2022.
Menurutnya, ini menandakan bahwa Kota Makassar adalah kota destinasi, banyak orang yang berkunjung ke Makassar.
Makanya para pengusaha atau pelaku usaha melihat iklim investasi yang bagus untuk kota Makassar, mereka akhirnya menanamkan modal dengan membuka usaha di bidang restoran dan hotel.
Pemkot Makassar telah memberikan kemudahan perizinan bagi pelaku usaha, pendaftaran dilakukan secara online dan bisa langsung terbit kalau memang risikonya rendah dan menengah.
“Memang kita lihat kecenderungan di Kota Makassar banyak membuka rumah makan, cafe, restoran karena memang perizinan usahanya mudah dan gampang. Tinggal kita daftar secara online dan kemudian PTSP juga membantu membuat loket konsultasi,” jelasnya.
PTSP juga melakukan pendampingan dan membimbing pelaku usaha untuk membuat izin usaha.
Salah satu inovasinya yakni membuat Satgas Lontara atau Layanan Mobile Rakyat, layanan ini menyasar hingga ke lorong wisata (longwis)
“Laskar Lontara ini turun ke longwis, kemudian membawa laptop dan modem, printer, langsung kami input dengan meminta KTP, NPWP langsung kami buatkan izin usaha,” ungkapnya.
Begitu juga dengan usaha-usaha besar, Pemkot Makassar siapkan loket investasi di PTSP.
Zulkifli memaparkan, nilai investasi Kota Makassar sudah melampaui target yakni Rp2 triliun.
Untuk target di 2023, Pemkot Makassar masih menunggu arahan dari pemerintah pusat. (rhm)

