MAKASSAR, BKM — Memiliki momongan atau anak usai melangsungkan pernikahan memang menjadi harapan bagian setiap pasangan Moms and Dads. Tapi tidak semua pasangan ini bisa langsung mencapai harapannya. Ada yang harus menunggu beberapa tahun untuk bisa mendapatkan momongan. Bahkan, ada di antaranya hingga akhir hayatnya tidak juga memiliki anak.
Sesuai data yang ada, di Provinsi Sulawesi Selatan ada sekitar 72.000 pasangan yang melangsungkan pernikahan setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, terdapat sebelas persen atau 7.920 pasangan Moms & Dads terhambat mendapatkan keturunan dengan berbagai macam faktor.
Ada yang memang sengaja melakukan penundaan dengan alasan mau meniti karier dulu demi kehidupan lebih mapan ke depannya. Namun ada pula karena faktor kesehatan. Semisal kualitas sperma yang kurang baik. Adapun
Ironisnya, banyak pasangan Moms & Dads yang terkendala masalah kesehatan, justru melakukan pembiaran. Mereka enggan memeriksakan diri ke dokter.
Jangan Tunggu Masa Tua
Selama ini banyak pasangan Moms & Dads yang mengalami keterlambatan memiliki anak akibat ketidaksuburan, lebih cenderung melakukan pengobatan secara tradisional. Dibandingkan mereka berobat ke dokter.
Hingga akhirnya Moms & Dads makin menua, namun tak kunjung memiliki anak. Kalau pun ada yang berhasil, jumlahnya sangat minim.
”Padahal, semakin cepat mereka atau pasangan Moms & Dads memeriksakan dirinya ke dokter ahli kebidanan dan kandungan, maka tentu akan cepat didapatkan solusinya. Dan peluang untuk memiliki anak dari program bayi tabung juga terbilang cukup besar,,” tutur Dr dr Samrichard Rambulangi, Sp.OG, Subsp.FER, Spesialis Kebidanan dan Kandungan Primaya IVF dari Primaya Hospital Makassar di hadapan puluhan pasangan Moms & Dads yang akan mengikuti program bayi tabung di Primaya Hospital Makassar.
Menurut Dr Samrichard, perempuan yang berusia 30 tahun ke bawah rerata tingkat keberhasilan program bayi tabungnya dibandingkan perempuan yang telah berusia 40 tahun ke atas. Jika dipersentasekan, maka perempuan yang berusia 30 tahun atau di bawah 30 tahun tingkat keberhasilannya rerata bisa mencapai 57 persen. Untuk perempuan yang berusia 40 tahun atau lebih 40 tahun, tingkat keberhasilannya rerata di angka 23 persen.
‘’Bagi perempuan yang berusia 30 sampai 34 tahun, rerata tingkat keberhasilannya dalam program bayi tabung mencapai 48 persen. Sedangkan perenpuan yang berusia 35 sampai 39 tahun, rerata tingkat keberhasilannya bisa mencapai 42 persen,’’ tambah Samrichard.
Samrichard mengatakan, dalam program bayi tabung ada dikenal sistem inseminasi buatan. Dimana, sperma suami diambil kemudian dilakukan perawatan atau persiapan yang matang. Hal ini untuk meningkatkan kemungkinan kehamilan bagi isteri atau Moms nya menjadi lebih tinggi. Tapi tentunya juga harus turut diperiksa dan dilakukan perawatan sel telur pada rahim isteri.
‘’Biasanya, isteri atau Moms nya disarankan untuk mengonsumsi obat atau vitamin untuk merangsang pertumbuhan folikel pada ovarium, agar peluang pembuahan lebih tinggi. Sehingga kemungkinan kehamilan juga akan lebih besar,’’ ujar Samrichard.
Jika sel sperma suami yang telah menjalani perawatan dalam suatu wadah sudah dianggap baik dan sehat, begitu pula sel telur isteri yang ada di dalam rahimnya sudah dianggap sehat dan siap untuk dibuahi, maka selanjutnya sel sperma itu disuntikkan masuk ke dalam rahim isteri. Ada yang dimasukkan ke dalam serviks, dan ada pula yang melewati leher rahim dan langsung ke dalam rahim.
Samrichard menambahkan, selain program bayi tabung menggunakan sistem inseminasi dengan pembuahan di dalam rahim isteri, ada pula program bayi tabung dengan pembuahan di luar rahim. Dimana, dalam melakukan pembuahan, terlebih dulu dilakukan pengambilan sejumlah sel sperma yang sehat milik suami dan sejumlah sel telur sehat telur milik isteri.
‘’Sel sperma dan sel telur ini kemudian kita persatukan dalam satu wadah di laboratorium. Jika sudah terjadi pembuahan, maka selanjutnya dilakukan penyuntikan ke dalam rahim isteri. Selanjutnya tinggal menunggu saat melahirkan. Namun selama masa kehamilan ini, sebaiknya Moms & Dads tetap menjaga kesehatan. Jaga pola makan dan pola hidup sehari-hari. Buat Moms, untuk tidak merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol. Karena itu bisa memengaruhi kondisi janin,’’ tutur Dr Samrichard.
Tetap Sama
Banyak yang yang menyatakan kalau masa kehamilan dengan melalui program bayi tabung lebih lama dibandingkan kehamilan secara normal.
Dr Samrichard menegaskan, sama seperti kehamilan normal, untuk kehamilan dalam program bayi tabung ini, tetap juga sembilan bulan dan sepuluh hari. Begitu pula saat melahirkannya, tetaplah sama. ‘’Jadi tidak benar jika ada yang mengatakan kalau bayi yang dilahirkan secara normal dengan bayi tabung berbeda, Kalau pun terjadi perbedaan, lebih disebabkan pada pola hidup dan pola makan calon ibunya. Dengan mengonsumsi makanan serta minuman yang sehat, bergizi dan banyak mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh selama masa kehamilan,’’ ujar Samrichard.
Samrichard juga mengungkapkan adanya mitos yang menyebutkan kalau bayi yang terlahir secara normal akan jauh lebih kuat dibandingkan bayi tabung. Karena proses persalinannya melalui perjuangan yang begitu berat. Berbeda dengan bayi tabung yang melalui operasi.
‘’Soal apakah bayi tabung itu mau dilahirkan secara normal atau dengan operasi, itu tergantung juga pada moms-nya. Memang ada risiko jika bayi tabung itu dilahirkan secara normal. Tapi tidak berarti untuk melahirkan melalui program bayi tabung harus dioperasi. Tapi kembali lagi kepada ibunya yang mungkin banyak pertimbangan. Karena kuatir anaknya terlalu lama dalam kandungan sehingga memilih untuk melahirkan dengan cara dioperasi,’’ jelas dokter Samrichard.
Adapun setelah bayi yang prosesnya bukan alami tersebut dilahirkan, kata dr Nathalie V Mappewali, Sp.OG,M.Kes, Spesialis Kebidanan dan Kandungan Primaya IVF, maka tidak perlu dilakukan tindakan khusus. Atau semisal ditempatkan di tempat khusus. Kecuali jika timbul kelainan pada bayinya, Seperti lahir belum cukup bulan maupun kelebihan bulan, maka tentu dilakukan perawatan terlebih dahulu.
‘’Sama juga dengan bayi yang proses produksinya secara alami atau bukan bayi tabung, jika anaknya lahir prematur maupun kelebihan bulan, maka tentu terlebih dahulu dilakukan tindakan perawatan. Jadi soal pemberian tindakan lanjutan kepada bayi yang baru dilahirkan, bukan karena bayi itu bayi tabung atau bukan bayi tabung. Tapi lebih pada kita melihat kondisi bayinya itu sendiri Jadi bayi yang menjalani perawatan lanjutan adalah bayi yang mengalami gangguan atau kelainan,’’ jelas dr Nathalie. (mir)

