MAKASSAR,BKM.COM–NIAT baik datang dari seorang petani milenial. Jamaluddin namanya. Ia ingin membantu mempromosikan 100 pelaku usaha dari seluruh kabupaten dan desa di Sulawesi Selatan melalui media sosial (medsos).
GERAKAN literasi memang sudah lama dilakoni Jamal –sapaan akrabnya–. Rumah Koran digagasnya dari sebuah kampung. Tepatnya di Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa.
Melewati Kota Malino jika dari arah Kota Sungguminasa. Dingin, berkabut, sayuran dan dilintasi sejumlah sungai. Bila berkunjung wajib membawa jaket karena dingin. Itu menjadi ciri khas kampung halamannya yang disebut oleh Jamal.
Ia lalu menggambarkan tentang Rumah Koran yang dirintisnya. ”Berasal dari kandang bebek dan dindingnya ditempeli koran. Ini jadi gerakan literasi. Anak petani, petani, petani yang sudah datang semua datang ke Rumah Koran untuk sama-sama belajar tentang pertanian dan ilmu-ilmu secara umum, agar di pedesaan sama-sama membuat sebuah gerakan. Konsepnya supaya pertanian lebih maju dan potensi alam yang ada di daerah tersebut bisa lebih maksimal,” tuturnya.
Lahir sebagai anak petani, Jamal ingin anak petani banga dengan dirinya sendiri. Setelah sekolah atau kuliah, hendaknya kembali ke desa. Hal itulah yang dilakukannya dengan mendirikan sebuah komunitas. Dengan caranya itu, ia bisa mengekspos pertanian agar bisa lebih maju, mandiri dan lebih modern.
Jamal memang bukan petani biasa. Ia alumni S1 Universitas Bosowa (Unibos) Makassar. Kemudian melanjutkan kuliah ke jenjang S2 di Universitas Muslim Indonesia (UMI) dengan mengambil jurusan Manajemen SDM. Tahun ini, memulai pendidikan Strata Tiga (S3) Prodi Ekonomi Islam Universitas Islan Negeri Alauddin Makassar (UINAM).
”Jadi petani itu harus berpendidikan. Kita harus sekolah dan kuliah hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Bagaimana seorang petani juga bisa sampai di magister hingga doktor. Saya ingin memperlihatkan kepada petani milenial lain, bahwa semasa kita punya waktu luang dan kesempatan itu harus dimanfaatkan dengan baik,” terangnya.
Bagi Jamal, saat ini yang terpenting dilakukan adalah bagaimana bisa mengangkat potensi pertanian yang ada di desa. Sebab, di desa banyak anak-anak muda yang telah melakukan aktivitas di bidang pertanian, apakah itu peternakan, budidaya, hingga pemasaran.
”Yang masih kurang adalah ekspose. Bagaimana agar aktivitas mereka terpublikasi dan diketahui oleh orang lain. Itulah yang coba kami lakukan saat ini,” ungkap Jamal.
Melalui Rumah Koran dan aktivitasnya di dunia maya, Jamal menargetkan bisa membantu 100 pelaku usaha yang kegiatannya diposting di medsos. Apapun kegiatan yang dilakoninya, akan dimasukkan di Facebook, Instagram dan medsos lainnya.
Ia kemudian mencontohkan satu bisang usaha yang telah dipromosikan, yaitu rumah kambingyang ada di Tombolopao. Pemiliknya melakukan aktivitas peternakan kambing, dan Jamal jadir untuk mempublikasikannya. Seperti memberikan informasi tentang harga atau jenis kambing yang dipasarkan. Akhirnya terjalin komunikasi dengan calon pembeli. Nomor kontak pengelola diberikan yang berujung pada terjadinya transaksi.
”Dari Rumah Koran ada promosi, edukasi, dan pasar tani. Promosi benar-benar hadir bagi mereka yang membutuhkan. Di sini ada gerakan membaca dan menulisnya,” jelas Jamal.
Selain program literasi, ada pula sedakah sayur yang digagas bekerja sama dengan Satuan Brimob Polda Sulsel. Ia menyebut nama Ipda Purwanto, seorang personel Satbrimob Polda Sulsel yang telah menjalin kemitraan dengan petani di awal pandemi Covid-19 hingga saat ini.
Komunikasinya bagaimana dua institusi dari kepolisian dan pertani bisa berkolaborasi. Polri menjemput petani memberi.
”Di awal-awal pandemi itu kan sulit untuk tembus ke kecamatan. Di sejumlah titik ada posko-posko yang didirikan. Ketika itu mobil Brimob yang dibawa Ipda Puwanto masuk hingga ke kampung. Selanjutnya diisi dengan penuh sayuran lalu dibawa ke dapur umum. Program ini berjalan pada polres-polres di Sulsel. Termasuk pada wilayah bencana,” terang Jamal.
Seiring berjalannya waktu dan kasus Covid-19 kian melandai, program sedekah sayur menyasar ke panti asuhan dan pondok pesantren. Menurut Jamal, melalui program ini diharapkan muncul petani-petani yang dermawan. Mereka tidak hanya mendapatkan keuntungan dari hasil budidaya yang dilakukan, tapi juga menyisihkan hasil pertaniannya untuk disedekahkan.
”Di program ini kita tidak bicara berapa banyak yang disumbangkan. Berapa saja bisa. Namun, dalam kenyataannya begitu banyak petani yang menyumbangkan sayurnya. Malah, ada di antaranya yang sampai menyerahkan satu lokasi lahannya untuk disumbangkan. Yang penting dipanen sendiri, diangkat lalu dibawa ke panti asuhan.
”Mereka selalu berdoa mudah-mudahan program yang lahir di tengah pandemi ini, dengan bersedekah sayur pandemi bisa segera berlalu,” imbuhnya.
Untuk meyakinkan mereka dengan program ini, Jamal bersama Satbrimob Polda Sulsel menunjukkan konsistensinya. Mereka tak hanya hadir satu atau dua kali. Tapi setiap bulan hadir dan terlihat berada di tengah petani.
Kini, kampung Kanreapia cukup dikenal sebagai Kampung Sayur. Kampung Iklim juga disematkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Identitas ini pun dikenal secara nasional.
Selain Sedekah Sayur, tahun ini Jamal bersama komunitasnya menargetkan untuk berbagi 100 cangkul dan 100 caping ke petani. Mobil Brimob dan Iptu Purwanto tetap akan melakukan rutinitasnya menjemput sayur dari petani untuk didistribusikan ke anak-anak panti asuhan serta pondok pesantren. (*/rus)

