MAKASSAR, BKM — Kota Makassar belum bisa keluar dari kasus stunting anak. Saat ini masih ada sekitar 3.255 anak yang terindikasi stunting. Stunting merupakan masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak.
Meski begitu Pemerintah Kota Makassar menargetkan zero stunting pada 2024 mendatang. Berbagai upaya dan intervensi dilakukan untuk memenuhi target tersebut.
Plt Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kota Makassar Syahruddin menjelaskan, dari 15 kecamatan yang ada di Makassar, terbanyak ditemukan di Kecamatan Tallo dan Biringkanaya.
Berbagai upaya dilakukan agar tidak ada lagi anak stunting ditemukan di Makassar.
Salah satunya, dengan menggagas Bapak Asuh Stunting. Bagaimana Pemerintah Kota Makassar mengkoordinir hadirnya Bapak Asuh untuk setiap anak yang dideteksi stunting.
“Jadi mulai dari pak wali sampai ke pak lurah semua jadi bapak asuh. Satu pejabat satu anak stunting yang ditangani. Saat ini sementara saya buat datanya,” ungkap Syahruddin kepada BKM, Kamis (20/7).
Lebih jauh dikemukakan, pihaknya juga menyiapkan mobil operasional yang akan menjangkau seluruh pelosok Makassar untuk mendata dan menindaklanjuti laporan dengan cepat jika ditemukan ada anak yang terindikasi stunting.
“Mobil operasional itu nantinya akan berkeliling melakukan gerebek stunting. Dimana dibutuhkan penanganan stunting, akan cepat ditindaklanjuti. Ini semua dilakukan oleh tim percepatan yang dipimpin oleh ibu wawali untuk bisa mempercepat masalah stunting,” tambahnya.
Khusus untuk wilayah dengan jumlah anak stunting terbanyak seperti di Kecamatan Tallo, kata Syahruddin, akan diberikan penanganan khusus.
Tim dari Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) bersama kader KB terjun langsung mengawal persoalan ini.
Lebih jauh dikemukakan, beberapa faktor yang menyebabkan banyak anak yang menderita stunting di Kecamatan Tallo karena persoalan sanitasi serta air bersih. Juga dipicu oleh banyaknya warga yang masuk dalam kategori miskin ekstrem di wilayah tersebut.
“Di Tallo itu misalnya masih banyak yang buang air besar (BAB) sembarangan. Itu salah satu penyebab stunting,” ungkapnya.
Saat ini, tercatat kecamatan dengan jumlah anak menderita stunting paling sedikit adalah Kecamatan Ujung Pandang. Di sana, tersisa tujuh penderita stunting. Selain itu, Kecamatan Wajo yang terdata sisa 25 penderita stunting di wilayah tersebut. (rhm)

