MAKASSAR, BKM — Wilayah Sulawesi Selatan mulai terdampak fenomena alam El Nino. Suhu panas di sejumlah daerah kian terasa.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengaku telah mendapat informasi bahwa dampak El Nino sudah terasa di Kabupaten Jeneponto.
“Kalau wilayah selatan, seperti di Jeneponto itu sudah ada. Dampaknya sudah mulai kering,” ucap Prakirawan BMKG Makassar Agusmin, Selasa (15/8).
Selain Jeneponto,
dimungkinkan sudah ada dampak El Nino di daerah lain. Hanya saja, informasi lengkapnya belum diketahui secara pasti.
“Itu kami diinfokan dari BPBD Jeneponto, dan dimungkinkan juga tempat lain sudah ada dampak El Nino,” terangnya.
Ia menjelaskan, fenomena El Nino secara umum sama seperti musim kemarau sehingga terjadi kekeringan. Hanya saja, ketika fenomena ini bersamaan maka intensitas kekeringannya pun semakin tinggi.
“Jadi itu sebenarnya secara kasat mata tidak kelihatan. Namun, memang secara umum masyarakat merasakan kekeringan memang musim kemarau. Tapi kalau ada El Nino lebih tinggi intensitasnya sehingga kekeringan akan terasa,” pungkasnya.
Pemerintah Provinsi Sulsel melalui Dinas Kesehatan menerangkan bahwa salah satu dampak El Nino ialah kekurangan air yang dapat berakibat terhadap kesehatan masyarakat.
“El Nino ini saya kira sangat berkaitan dengan kami, terutama penyakit yang berkaitan dengan lingkungan di tengah cuaca panas. Kita akan ketemu dengan keluhan seperti dehidrasi. Kemudian cakupan layanan air bersih berkurang dari biasanya, dan itu berpotensi menyebabkan penyakit seperti diare, cacingan dan penyakit lain,” jelas Kepala bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulsel Ardadi, kemarin.
“Paling tidak, memang harus dipastikan rasio kecukupan air bersih dan konsumsi air minum masyarakat bisa terpenuhi sehingga pola hidup bersih bisa dikendalikan oleh masyarakat kita,” tambahnya.
Selain itu, El Nino ini juga menimbulkan efek buruk terhadap infeksi saluran pernapasan akibat debu di tengah intensitas kekeringan.
“Selanjutnya saya kira kalau terik seperti ini biasanya banyak debu. Itu berefek pada infeksi saluran pernapasan, seperti influenza. Kemudian rendahnya mutu lingkungan sekitar kita,” ucapnya.
Ia mengatakan, saat ini pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk terus memastikan dampak fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.
“Kita setiap saat berkoordinasi dengan teman-teman BMKG untuk menyampaikan kepada kami tentang peluang-peluang terjadinya perubahan. Informasi itu biasanya kita tindak lanjuti dengan koordinasi kabupaten/kota. Tujuannya agar kita bisa terlindung dan aman dari penyakit akibat paparan cuaca,” terangnya.
Pakar geologi kebencanaan dari Universitas Hasanuddin Adi Maulana yang dihubungi terpisah, menegaskan kepada pemerintah agar melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait mitigasi dampak El Nino.
“Memang ke depan akan seringkali kita temukan fenomena seperti itu bahwa cuaca berubah. Masyarakat harus diberikan pemahaman tentang peningkatan literasi, bahwa fenomena kekeringan ini kita tidak bisa cegah, tapi kita bisa mitigasi. Itu dilakukan dengan sosialisasi secara masif lewat program pemerintah, sehingga masyarakat tahu caranya,” imbuhnya.
Adapun upaya mitigasi yang harus dilakukan dalam fenomena El Nino ini, lanjut Adi Maulana, yakni pentingnya memastikan ketersediaan dan sumber air untuk menghadapi potensi kekeringan terjadi.
“Langkah-langkah mitigasi kalau misalkan kekeringan itu terjadi. Pertama itu hemat air supaya persediaan air tidak habis. Kemudian sumber air di sungai harus dijaga, seperti alih fungsi lahan dikontrol. Kemudian ketiga, kita buat sumur-sumur resapan sehingga bisa menyimpan air,” jelasnya.
Menurut dia, di Sulawesi Selatan hampir sebagian besar di daerah Jeneponto dan Wajo yang berpotensi lebih terdampak dengan fenomena El Nino.
“Terutama daerah yang kekeringan secara ekstrem, dari tipologi tanah tidak El Nino saja sudah kering. Memang di Jeneponto itu kondisi tanah itu disusun batuan yang tidak menyerap air. Sungai-sungai di sana juga tidak bisa kita andalkan untuk air. Misalnya di daerah Wajo jika terkena kekeringan, itu sangat sulit mendapatkan air,” jelasnya.
Ia mengingatkan pentingnya pemerintah mewajibkan literasi mitigasi bencana di sekolah tingkat dasar hingga perguruan tinggi, agar setiap ada bencana apapun yang dihadapi mereka sudah punya pemahaman.
“Langkah pertama yang harus dilakukan adalah sosialisasi. Harusnya di SD sampai perguruan tinggi belajar literasi bencana itu seperti apa. Paling penting kita memberikan pemahaman dulu kepada masyarakat dari pola hidup,” tandas Adi.
Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG A Fachri Radjab, mengatakan pihaknya mengkategorikan zona musim di Indonesia menjadi 699 zona. Dari jumlah tersebut, 63 persen di antaranya telah memasuki musim kemarau. “Artinya, memang yang sudah terdampak langsung dari El Nino itu sekitar 63 persen wilayah zona musim tadi,” kata Fachri.
Dia melanjutkan, musim kemarau kali ini diperkirakan lebih kering dibandingkan tiga tahun sebelumnya.
“Jadi, ada beberapa wilayah yang memang kami prediksikan intensitas hujannya itu dalam kategori rendah,” katanya.
Begitu pula dengan Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal serupa terjadi juga di Pulau Kalimantan, seperti di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, serta Sulawesi, utamanya Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.
“Nah, itu yang berpotensi terjadi musim kering yang ekstrem,” tandasnya. (jun)

