MAKASSAR, BKM — Untuk menurunkan harga cabai rawit merah di wilayah DKI Jakarta, Badan Pangan Nasional (Bapanas) melakukan intervensi melalui fasilitas distribusi pangan (FDP).
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, mengatakan, langkah intervensi ini bertujuan memenuhi dan mempertahankan pasokan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Sehingga dapat mengendalikan harga.
”Harga komoditas cabai yang mengalami kenaikan ini kita tekan dengan memfasilitasi pengangkutannya dari daerah-daerah yang masih berproduksi dan harganya relatif lebih rendah. Kita sudah identifikasi sentra cabai di luar Jawa, seperti di Sulsel yang siap memasok ke wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya,” ungkap Arief, di Jakarta, Senin (6/11).
Tahap awal, kata dia, sebanyak 2,4 ton atau setara 80 koli cabai rawit merah dari petani Sulawesi Selatan (Sulsel) dikirim ke Jakarta pada Minggu (5/11).
Logistiknya difasilitasi langsung Bapanas untuk intervensi harga cabai yang beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan. Saat ini, kata Arief, komoditas cabai rawit merah, mengalami kenaikan harga yang signifikan di beberapa titik.
Berdasarkan pengamatan di Pasar Induk Kramat Jati, Sabtu (4/11), cabai rawit merah rerata dibanderol Rp70.000/Kg. Sedangkan harga di pasar tradisional/pengecer sekitar Rp80.000 sampai Rp90.000/Kg. Bahkan, di sejumlah daerah sudah tembus di atas Rp100.000/Kg.
Arief mengungkapkan, saat ini, produksi semua jenis cabai memang tengah mengalami penurunan akibat el nino dan saat ini belum memasuki panen raya.
”Dalam kondisi seperti saat ini, tentunya kami di Badan Pangan Nasional kembali mengingatkan para kepala daerah untuk saling membangun kerja sama antar daerah (KAD). Sehingga cabai di wilayah sentra produksi dan harganya stabil dapat mendistribusikan cabai ke daerah defisit atau daerah dengan harga cabai yang tinggi,” ujar Arief.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan, setelah kedatangan cabai dari Sulsel ini, Bapanas bersinergi dengan Dinas KPKP DKI Jakarta, Dinas Perdagangan DKI Jakarta, Satgas Pangan, PD Pasar Jaya, IKAPPI dan PIKJ untuk melakukan intervensi langsung di lima pasar tradisional atau pengecer di beberapa wilayah di Jakarta,
”Kedatangan tahap awal cabai dari Sulsel ini dipasok ke lima pasar tradisional atau pengecer, yaitu Pasar Inpres Senen sebanyak 1 ton, Pasar Serdang 300 kilogram, Jembatan Lima 500 kilogram, Kemayoran 300 kilogram, dan Cipete 300 kilogram. Selanjutnya, Bapanas akan terus memasok CRM ke pasar-pasar turunan sampai harga kembali normal,” ujar Ketut.
Ketut menerangkan, fasilitasi distribusi pangan untuk cabai rawit merah ini, dilakukan setiap hari dan selektif. Mengingat, ketersediaan produksi dan pasokan yang terbatas. Sedangkan penetrasi ke pasar atau pengecer, terus dilakukan.
”Termasuk ke pasar-pasar lainnya yang harganya tinggi atau pasar mitra pedagang PIKJ,” tambahnya.
Berdasarkan data Panel Harga Pangan NFA tanggal 6 November 2023 harga rata-rata nasional CRM di tingkat produsen sebesar Rp 54.910/kg, berada di atas Harga Acuan Pembelian/Penjualan (HAP) sebesar Rp25.000/kg-Rp31.500/kg. Harga terendah Rp38.000/kg di Sulawesi Selatan dan harga tertinggi Rp68.750/kg di Sulawesi Utara.
Sedangkan ditingkat konsumen, harga rerata nasional CRM Rp75.774/kg, lebih tinggi dibandingkan HAP Rp40.000/kg sampai Rp57.000/kg. Adapun harga terendah Rp50.000/kg di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan harga tertinggi Rp100.233 di Kepulauan Bangka Belitung. (jun)

