pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Kesedihan Akibat Kepunahan Ekosistem di ”Waktu Batu. Rumah yang Terbakar”

BKM/HIKMAH PEMENTASAN-''Waktu Batu. Rumah yang Terbakar'' yang dipentaskan di Benteng Rotterdam.

MAKASSAR, BKM — Pementasan teater ”Waktu Batu. Rumah yang Terbakar” mengundang antusias penonton untuk menyaksikannya. Tak terkecuali warga Jepang yang ada di Makassar.
Pementasan ini berlangsung, Selasa dan Rabu (5-6/12) di Benteng Rotterdam Makassar. Lokasi pertunjukan tampak dipenuhi pengunjung. Pentas teater ini merupakan kolaborasi antara Garasi Performance Institute dan Kemendikbud Ristek.
Sebelumnya, pada 1-3 Desember dilaksanakan pemutaran dokumentasi ”Waktu Batu. Rumah yang Terbakar.” Selama tiga hari, penonton datang untuk menyaksikannya. Jumlahnya terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Pada hari terakhir pemutaran diisi dengan sharing bersama sutradara dan pemain. Puluhan orang dari berbagai lata belakang hadir di lokasi. Ugoran Prasad dari Yogyakarta memimpin sesi ini bersama Sutradara Yudi Ahmad Tajudin dan Asisten Sutradara Luna Kharisma.

Pertunjukan ini mengusung tema tentang kesedihan akibat kepunahan ekosistem yang disebabkan oleh perubahan lingkungan dan modernitas
. Pesan yang ingin disampaikan melibatkan refleksi tentang perubahan dan waktu. Waktu diibaratkan seperti batu yang kokoh, sedangkan rumah menjadi simbol kehidupan kita.

Pertunjukan ini mengajak penonton untuk berpikir tentang bagaimana waktu memengaruhi hidup dan bagaimana kita merespons perubahan.
Yudi Ahmad Tajudin yang merupakan sutradara dan produser pertunjukan “Waktu Batu. Rumah yang Terbakar,” menyampaikan bahwa penggunaan ide baru yang melibatkan berbagai jenis media dalam karya tersebut bertujuan untuk lebih memperkuat pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.
”Dengan memadukan berbagai elemen media, pertunjukan ini diharapkan dapat lebih mudah dipahami dan dapat memberikan dampak yang lebih kuat pada penonton. Tujuannya yaitu agar pesan atau isi yang ingin disampaikan dapat lebih efektif mencapai masyarakat yang menontonnya,” ujarnya.
”Waktu Batu. Rumah yang Terbakar” merupakan versi terkini dari proyek panjang Waktu Batu, yang
dimulai sejak tahun 2001. Sepanjang 2002-2006 melahirkan beberapa versi pertunjukan yang
dipentaskan di beberapa kota di Indonesia, Singapura, Berlin, dan Tokyo. Pada tahun 2022 lalu, karya ini
diundang untuk diciptakan dan dipentaskan kembali di Festival Indonesia Bertutur, Borobudur, Jawa
Tengah.
Tahun ini, pertunjukan “Waktu Batu. Rumah yang Terbakar” ditampilkan di ARTJOG, Yogyakarta
dan Djakarta International Theatre Platform, Jakarta.

“Waktu Batu. Rumah yang Terbakar” disutradarai oleh Yudi Ahmad Tajudin, yang juga menyutradarai
Setelah Lewat Djam Malam yang dinobatkan sebagai Karya Seni Pertunjukan Pilihan Tempo 2022. Penulis
dan dramaturg “Waktu Batu. Rumah yang Terbakar” adalah Ugoran Prasad. Versi ke-4 Waktu Batu kali ini
berkolaborasi dengan seniman-seniman lintas disiplin (Majelis Lidah Berduri, Mella Jaarsma, Deden
Bulqini, Tomy Herseta, Tri Rimbawan, Yennu Ariendra, Retno Ratih Damayanti, Luna Kharisma, A Semali)
dan para performer lintas generasi (Andreas Ari Dwiyanto, Erythrina Baskorowati, Arsita Iswardhani,
Tomomi Yokosuka, Enji Sekar, Wijil Rachmadhani, Putu Alit Panca Nugraha, Syamsul Arifin, Putri Lestari).

Ecological grief, fokus tematik pertunjukan ini, merujuk pada perasaan kesedihan yang timbul akibat
kehilangan atau kepunahan yang terjadi atau akan terjadi, termasuk kepunahan spesies, ekosistem, dan
lanskap berharga, sebagai akibat dari perubahan lingkungan yang akut dan kronis. Berbagai penelitian
terkini menunjukkan bahwa individu dapat mengalami tahapan kedukaan dan mencari dukungan sosial
dalam menghadapi keputusasaan iklim dan kecemasan ekologis.

“Mendekati isu duka ekologis dari sudut pandang dunia ketiga, karya ini meletakkan krisis ekologi
sebagai hasil yang tak terhindarkan dari modernitas dan kolonialitas. Berdiam dalam ketimpangan dunia
global, karya ini hendak membuka percakapan tentang watak dan artikulasi duka ekologis selatan dunia. Ttermasuk pertanyaan atas praktik macam apa yang perlu dilakukan, puisi macam apa yang perlu
dituliskan, duka (atau bahkan murka) macam apa,” ungkap Ugoran Prasad.

Yudi Ahmad Tajudin selaku sutradara mengatakan, dalam meluaskan dan mendekati secara kritis
percakapan tentang tema duka ekologis, Teater Garasi menggarap ulang Waktu Batu. (pkl2-pkl4)



×


Kesedihan Akibat Kepunahan Ekosistem di ”Waktu Batu. Rumah yang Terbakar”

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link