MAKASSAR, BKM — Direktur Utama PSM Makassar Sadikin Aksa membantah kalau club sepakbola yang dipegangnya saat ini diakusisi oleh pihak lain.
Hal itu dia sampaikan kepada wartawan, Rabu (20/12). ”Siapa yang bilang PSM diakusisi? Saya heran itu berita dari mana,” ujarnya.
Menurutnya, mengaku informasi tersebut disebarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan telah memperkeruh suasana.
“Kalau mau tanam saham silakan. Saya tidak pernah melarang. Tapi kan di PSM itu ada beberapa pemilik saham. Harus ada rapat pemegang saham dulu sebelum mengambil keputusan. Saya tidak pernah tertutup dengan pihak lain yang ingin membantu PSM,” jelasnya.
Sadikin juga menegaskan bahwa PSM Makassar bukan milik Bosowa tapi milik Sadikin. Bosowa hanya sponsor, dan PSM sendiri sudah berbadan PT.
“Saya pemegang saham mayoritas. Jika kalian menghujat PSM, jangan menghujat Bosowa karena itu perusahaan ayah saya. Tidak ada hubungannya dengan PSM,” ujarnya sambil meneteskan air mata.
Dia mengaku semua kritikan dan hinaan suporter terhadap dirinya diterimanya dengan lapang dada.
Dia menjamin PSM tidak ke mana-mana dan tidak diambil pihak lain.
Terkait gaji yang telat, sudah dia selesaikan semua. Bahkan untuk tunggakan Mansaray juga sudah tuntas. Mansaray juga sudah meminta maaf atas kekeliruannya.
Begitu pula dengan staf skuad Juku Eja. Sadikin memastikan akan bertanggung jawab menyelesaikan problem finansial tersebut.
“Saya harus akui apakah kondisi keuangan PSM kali ini bagus? Tidak juga. Tapi apakah saya bertanggung jawab untuk menjalankan? Saya akan bertanggung jawab. Bertanggung jawab masalah PSM ke depan. Saya selesaikan,” tegasnya.
Sadikin mengatakan, dirinya secara khusus telah menemui Victor Mansaray yang sebelumnya mempermasalahkan tunggakan gajinya di PSM. Menurut Sadikin, tunggakan gaji yang dikeluhkan tersebut sudah diselesaikannya.
“Saya sudah bertemu Mansaray. Saya ngomong dan chemistrynya dapat. Dia mohon maaf dengan apa yang terjadi. Tapi sudah, lupakan yang di belakang, kita fokus ke depan,” tambahnya.
Sadikin mengungkap, tantangan menangani PSM musim ini jauh lebih berat dibandingkan musim lalu. Salah satunya status PSM yang keluar sebagai juara Liga 1 musim 2022/2023.
“Di luar dugaan Alhamdulillah, kita juara dan ternyata setelah menjadi juara tidak gampang. Bebannya berat. Beban utama pemain kita menjadi incaran semua klub di seluruh Indonesia dari 18 klub Liga 1, Liga 2, semua mengincar pemainnya PSM. Ujungnya apa? Kontraknya naik, iya kan. Kontrak naik, biaya naik,” jelasnya.
Di sisi lain, lanjut Sadikin, musim ini PSM mendapat sejumlah problem di luar dari perkiraan. Terutama aksi boikot suporter PSM yang membuat pendapatan dari tiket menurun drastis.
“Nah, tahun lalu kalau mau ditanya rekor PSM mendapatkan pendapatan dari penonton. Kami harap itu berlanjut momentum, ternyata tidak. Drop,” ungkapnya.
Sadikin juga menyinggung PSM yang tidak mendapat sponsor baru musim ini, meskipun keluar sebagai juara Liga 1.
“Banyak yang kira kita juara gampang dapat sponsor, nda juga karena waktunya mepet. Hari itu kita tidak ada waktu maju ke sponsor. Kalau mau ditanya sponsor, itu rata-rata akhir tahun, tidak ada di pertengahan tahun. Oleh karena itu agak berat,” pungkasnya. (jun)

