MAKASSAR, BKM — Penjabat Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin menyayangkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) saat ini bukan dikelola oleh ahlinya. Akibatnya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi minim.
Bahtiar menyinggung, BUMD justru dikelola oleh orang yang terlibat dalam tim sukses (timses) kepala daerah hingga rekanan dan kolega.
“Seluruh aset-aset kita ini harus dikelola secara bisnis, itulah disebut dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD),” ujar Bahtiar ketika memberi sambutan pada pertemuan antara pengusaha, BUMD dan Pemda se-Sulsel di Hotel Four Point, Rabu (10/1).
“Sayangnya, maafkan saya, BUMD kita selama ini ya alakadarnya. BUMD alakadarnya dikelola oleh teman-teman tim sukses, dikelola oleh teman-teman yang sudah pensiun bulan depan, para sahabat, om dan tante (keluarga ) kita,” sambungnya.
Padahal menurut dia, banyak investasi, khususnya di sektor pertambangan yang dapat didorong dibangun kerja samanya melalui BUMD.
“Padahal di sini uratnya nikel sampai di sini, di Sorowako mutar sini ke Maluku sampai ke pulau Fak-fak. Di sini semua nikel ini dan pusatnya ada di Luwu Timur,” terangnya.
Sejauh ini, kata Bahtiar, polanya masih di bawah manajamen Pemda. Hak itu tidak akan memberikan pendapatan yang besar. Seharusnya difasilitasi melalui BUMD.
“Ini ekonomi yang sangat besar, sayangnya ini dikelola oleh manajemen Pemda. Inilah persoalan kita. Tidak bisa dikelola ini dengan manajamen Pemda mengandalkan Dispenda, mengandalkan Bappeda, PTSP begitu-begituji,” sambungnya.
Olehnya itu, Bahtiar mengatakan pihaknya sedang mendorong ke BUMD agar dapat mengambil peluang untuk menggerakkan peningkatan pendapatan.
“Tidak bisa, harus ada tangan lain, kantong lain yang namanya kekayaan negara yang dipisahkan. Di daerah namanya kekayaan daerah yang dipisahkan. Oleh karenanya, inilah yang hendak kita bicarakan,” pungkasnya. (jun)

