KONTESTASI demokrasi lima tahunan telah usai dihelat pada 14 Februari. Menyambut dan menjalani masa pemerintahan yang baru ke depannya kiranya masyarakat harus tetap mengutamakan nalar kritis sebagai filter pada setiap kebijakan yang menuai pro dan kontra. Khususnya bagi anak-anak muda, dalam hal ini adalah generasi Z yang berperan sebagai sosial of control terhadap setiap kebijakan yang akan ditetapkan.
Sangat penting bagi para gen Z untuk tidak mengedepankan fanatisme dalam menilai suatu kebijakan. Karena setiap kebijakan harus dinilai secara dampak universal yang akan ditimbulkannya. Kritik yang konstruktif terhadap suatu kebijakan adalah hal yang baik bagi demokrasi, karena akan menimbulkan check and balance (keseimbangan) dalam tatanan politik itu sendiri.
Anak muda adalah garda terdepan dalam menilai suatu kebijakan sebagai fungsi dari kontrol sosialnya. Karena itu, kepada gen Z harus tetap ”berisik” dan kritis dalam rangka mewujudkan iklim demokrasi yang baik bagi bangsa dan negara. Hal ini mengingat secara aspek historis negara kita yang secara bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan dan pascakemerdekaan para tokoh-tokoh bangsa tetap memberikan kritik yang konstruktif pada setiap kebijakan yang dinilai perlu dikritisi.
Aspek historis ini juga yang dapat menjadi acuan kita dalam rangka tetap kritis, karena para founding fathers kita telah memeri contoh tersebut. Teladan yang ditunjukkan oleh para pendiri bangsa untuk tetap kritis harus tetap dijaga oleh seluruh elemen masyarakat, karena setiap kebijakan yang ditetapkan berdampak ke generasi-generasi berikutnya. Untuk itu kita harus pastikan bahwasannya kebijakan yang ditetapkan adalah kebijakan yang memiliki dampak positif pada semua tingkatan masyarakat. (yus/c)

