MAKASSAR, BKM — Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Annar Salahuddin Sampetoding menegaskan bahwa dirinya akan melawan jika ada kandidat atau bakal calon gubernur yang diloloskan tanpa mengikuti proses dari awal, seperti mendaftar, mengembalikan formulir hingga mengikuti uji kepatutan dan kelayakan atau fit and propert tes.
“Iya, pasti saya melawan jika ada kandidiat yang direkomendasikan tanpa mengikuti proses dari awal,” ujar Annar usai mengikuti uji kepatutan dan kelayakan sebagai bakal calon gubernur Sulsel di Swiss Belhotel Panakkukang, Makassar, Senin (22/7).
Menurut Annar, meski dirinya seorang kader PKS, namun tetap mengikuti proses dari awal. Berdasarkan keterangan yang disampaikan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Sulsel ada empat kandidat yang mengikuti uji kepatutan yakni Annar, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), Mayjen TNI (Purn) Andi Muhammad Mappanyukki (Panglimata), dan Mohammad Ramdhan ”Danny” Pomanto.
Annar yang fokus untuk 01 dan enggan maju untuk 02, mengemukakan alasannya demi bersumbangsih untuk memajukan Sulsel. “Saya tidak mau posisi wakil, hanya pelengkap,” cetusnya.
Jika mendapat amanah, dirinya akan memperjuangkan pemindahan ibu kota Sulel dengan pertimbangan melihat sisi ekonomi, Makassar sudah padat. “Kalau ibu kota dipindahkan, artinya Sulsel butuh pemerataan ekonomi. Luwu raya dari empat daerah, dua diantaranya tertinggal, termasuk Toraja dan Toraja Utara. Makassar tetap jadi kota bisnis atau ekonomi,” jelasnya.
Sedikitnya ada empat nama calon wakil yang diminati oleh Annar, yakni Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, Andi Yuslim Patawari dan putra Alwi Hamu, yakni Agussalim Alwi. Annar juga intens membahas koalisi dengan sejumlah elite partai politik.
Kandidat kedua yang hadir megikuti uji kompetensi yakni politisi Golkar IAS. Usai mengikuti uji kepatutan, IAS memberikan keterangan soal isu kotak kosong atau kolom kosong di pilgub Sulsel.
Menurutnya, isu itu adalah pembodohan publik. “Isu mempersiapkan kotak kosong itu pembodohan publik, sebab dinamika politik Sulsel tidak begitu bagus,” ujarnya.
Untuk itu, IAS berharap isu itu tidak terulang, sebab sangat tidak bagus dalam proses pendidkan politik.
IAS juga memuji uji kepatutan yang dilaksanakan oleh PKS, tidak seperti yang dilakukan Demokrat. “Kita sudah mendaftar dan mengembalikan formulir, belum dipanggil, kok sudah ada mengeluarkan rekomendasi,” sindir mantan calon gubernur yang didukung Demokrat dan PKS ini.
Sementara Danny Pomanto menjalani fit and proper test yang digelar PKS pukul 15.00 hingga pukul 16.00 Wita. Hadir Ketua DPW PKS Sulsel Amri Arsyid, Sekum Rustang Ukkas, Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Afriyanto. Ketua Bidang Kaderisasi Ruangsah Irwan Waji, Sekretaris Majelis Pertimbangan Wilayah PKS Sulsel Sri Rahmi, dan Ketua Dewan Syariah Wilayah Muammar.
Dikonfirmasi usai menjalani uji kelayakan dan kepatutan, Danny mengatakan dirinya merasa terhormat karena bisa berinteraksi secara politik, menggali pikiran bersama kader PKS dan ikut dalam fit and proper test.
Orang nomor satu Makassar itu mengatakan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dalam fit and proper test sangat dalam. “Saya kira mampu mengeksplorasi apa yang menjadi pikiran-pikiran kami untuk masa depan Sulsel. Garis besarnya mau diapakan ini Sulsel. Kemudian adakah kemampuan saya untuk membuat Sulsel maju. Interaksi politik kenapa ibu maju, saya juga maju. Itu saya jelaskan karena penjelasan di ruang udara berbeda. Komitmen di semangat yang sama untuk memajukan Sulsel,” ungkapnya.
Dia mengaku punya komitmen yang sama dengan PKS untuk memajukan Sulsel. Jadi tidak menutup kemungkinan jika di perhelatan pilgub Sulsel, dirinya berpaket dengan kader PKS.
“Diskusi bagaimana mencari jalan terbaik dari hubungan secara kandidat dengan PKS. Itu sah-sah saja. Misalnya saya cari sosok perempuan. Ternyata di sini ada sosok perempuan juga. Kan menarik sekali,” jelasnya.
Dia juga sempat menyinggung soal potensi kotak kosong di perhelatan pilgub Sulsel seperti yang ditanyakan wartawan. Menurutnya, isu kotak kosong bukan barang baru bagi Sulsel. Bahkan daerah populer karena kotak kosong.
“Itu salah satu proses walaupun banyak orang bilang, bukan saya ya, kalau itu tidak sehat namun bisa saja terjadi dalam perjalanan demokrasi. Karena banyak kekuatan yang membuat jadi kotak kosong,” tambah orang nomor satu Makassar itu.
Tapi ingat, lanjut Danny, di Makassar itu kotak kosong menang. Dan jika pilgub satu kontestan berhadapan dengan kotak kosong, apakah Sulsel sudah kekurangan pemimpin?
“Kalau arena pertandingan masak satuji. Kalau kita ingin pengujian publik terhadap kandidat, bagaimana kita mau menguji kalau kotak kosong. Kan begitu. Itu jadi hal yang misterius. Kalau kita mau maju, harus siap untuk berkompetisi,” jelas Danny.
“Kotak kosong akan mengumpulkan semua kekuatan yang tidak setuju dengan kondisi yang terjadi.
Kalau ada rencana manusia bikin kotak kosong, kita tunggu rencana Allah, apa yang jadi,” tandasnya.
Ketua DPW PKS Sulsel Amri Arsyid mengaku akan mensupport kader untuk mendapatkan rekomendasi sebagai calon gubernur. Ketika ditanya apakah DPP akan mengeluarkan rekomendasi kepada kandidat yang tidak mengikuti tahapan hingga uji kepatutan, Amri menegaskan bahwa DPP tidak akan memutuskan nama tanpa usulan dari DPW PKS Sulsel.
Amri menyampaikan, usai uji kelayakan ini, pihaknya akan segera menyerahkan hasilnya ke DPP. Selanjutnya DPP yang mengeluarkan rekomendasi siapa akan diusung di pilgub Sulsel.
Amir menegaskan jika rekomendasi PKS adalah mereka yang mengikuti uji kelayakan di DPW. Hasilnya yang direkomendasikan DPW PKS Sulsel yang menjadi acuan DPP.
“DPP tidak mungkin mengeluarkan rekomendasi di luar yang direkomendasikan DPW PKS Sulsel,” imbuhnya.
Untuk Andi Sudirman Sulaiman yang tidak ikut uji kelayakan karena tidak mengembalikan formulir pendaftaran, Amri punya jawaban tegas. “(Andi Sudirman) sudah mendaftar tapi tidak kembalikan formulir,” tandasnya.
Diketahui, PKS Sulsel mengontrol tujuh kursi di parlemen. Tapi untuk kursi pimpinan dipastikan lepas setelah digeser PKB dan PPP. (rif-rhm)

