MASIH banyak masyarakat yang beranggapan bahwa langkah golput alias golongan putih –sebutan untuk tidak memilih dalam pemilu– adalah sebuah solusi di tengah ketidakpercayaan terhadap dinamika politik. Namun, hal ini bukanlah sebuah solusi untuk merepresentasekan ketidakpuasan terhadap situasi politik yang ada. Sebab ketika kita tidak memilih, proses pemilihan akan tetap berlangsung. Sehingga ketimbang golput, kita lebih baik mendalami visi dan misi para kandidat.
Langkah golput juga akan menyebabkan rendahnya tingkat kepercayaan dan kredibilitas calon terpilih, sehingga pemerintah daerah tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik karena kurangnya dukungan politik. Sebaliknya, raihan suara yang meyakinkan, akan meningkatkan kepercayaan diri dan kredibilitas seorang pemimpin daerah. Dengan dukungan politik yang cukup besar, ia bisa melaksanakan amanat dan janji politiknya dengan keyakinan tinggi.
Di sisi lain, golput juga akan berpengaruh terhadap kerbelangsungan pemerintahan dan demokrasi. Dari segi jalannya pemerintahan dapat mengganggu program pemerintahan karena sikap apatis masyarakat terhadap pemimpin terpilih yang mengakibatkan ketidakoptimalan program kerja yang diusung.
Meminimalisir golput pada pilkada 2024 adalah sebuah langkah yang krusial untuk memperkuat fondasi demokrasi di Indonesia. Dengan adanya partisipasi setiap warga negara yang sudah mempunyai hak pilih, berarti kita telah membangun jembatan menuju pemerintahan yang mewakili seluruh elemen masyarakat.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa dalam menghadapi tantangan kompleks di era saat ini, partisipasi masyarakat adalah kunci untuk memilih pemimpin yang mampu membawa perubahan positif dan mencerminkan nilai-nilai masyarakat. Oleh karena itu jangan biarkan suara kita terdiam, sebab di dalamnya terkandung kekuatan untuk membentuk masa depan bangsa lebih bagus. Masyarakat diberi kesempatan untuk memilih pemimpin dengan visi, misi serta program kerja terbaik untuk menjadi pemimpin. Namun ketika kesempatan tersebut diabaikan, sementara parpol orang yang memiliki kepentingan memiliki pendukung aktif dalam memilih, maka hal tersebut akan berdampak pada kondusifitas demokrasi. Tidak peduli apakah pemimpin tersebut berkualitas atau tidak, tetapi karena memiliki jumlah suara yang tinggi, maka orang tersebut yang berhasil menduduki kursi sebagai kepala daerah.
Golput sudah seharusnya dihindari karena menjadi ancaman bagi proses demokrasi di Indonesia untuk menghasilkan suatu kekuasaan yang lebih baik. Sikap seperti ini biasanya timbul karena munculnya isu kecurangan dalam pelaksanaan tahapan pemilu yang berdampak menurunnya kepercayaan pada institusi demokrasi, seperti money politics yang dilakukan calon-calon serta kecurangan aparat pelaksana pemilu sendiri.
Meningkatkan kualitas demokrasi dengan partisipasi pemilih yang rendah cenderung menghasilkan kualitas demokrasi yang buruk. Oleh sebab itu kita harus datang ke tempat pemungutan suara, sebab golput bukan sebuah solusi. Kita harus aktif dalam menyalurkan suara, sehingga golput dapat diminimalisir. Karena ajang pilkada merupakan tonggak penting dalam kehidupan demokrasi. Sebagai warga negara kita harus memperbaiki pemerintahan kita dengan memilih calon pemimpin yang kredibel, peduli kepada rakyat, beriman serta berwawasan luas. (yus)

