pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Berawal dari Capek dan Macet Saat Antar Ponakan ke Sekolah

Aliyah Aidid, Pendiri TK Insan Cemerlang

MAKASSAR,BKM.COM–SESUATU hal yang tidak pernah direncanakan bisa saja terjadi. Seperti itulah yang dialami Aliyah Aidid. Ia merupakan pendiri lembaga sekolah swasta Taman Kanak-Kanak (TK) Insan Cemerlang. Sekolah ini berlokasi di Jalan Mannuruki, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

WANITA yang kerap disapa Aliyah ini mengaku bahwa sejak dulu dirinya tidak pernah sama sekali memiliki cita-cita untuk membangun sebuah sekolah TK. Apalagi waktu itu ia bekerja di Jakarta.
Namun, ketika libur tiba, ia pulang ke Makassar dengan niat untuk beristirahat dan melepas rindu bersama keluarga. Selama di kota ini aktivitas sehari-harinya adalah mengantar sang ponakan pergi sekolah. Hal itu membuatnya merasa capek lantaran sekolah sang ponakan sangatlah jauh. Apalagi Makassar memiliki jumlah penduduk yang padat hingga memicu terjadinya macet setiap hari.

“Sebenarnya pendirian sekolah ini tidak ada rencana sama sekali. Jadi, waktu itu saya lama tinggal di luar kota. Lalu pada tahun 2015 saya mengambil keputusan untuk pindah ke Makassar untuk break dulu sementara. Jadi saya kerja di Jakarta, terus break ke Makassar. Nah, saat break di Makassar, salah satu tugas saya adalah mengantar ponakan untuk pergi sekolah sore di daerah Panakkukang. Waktu itu setiap sore saya antar, jadi capek banget kan, panas, dan macet,” ungkap Aliyah Aidid saat diwawancarai tim Youtube Berita Kota Makassar di kediamannya.

Setelah mengalami rasa bosan dan lelah, wanita kelahiran Makassar, 18 Januari 1997 ini akhirnya mempunyai sebuah ide. Ia memutuskan untuk mengajar sang ponakan di rumah. Selanjutnya ia mengajak teman-teman ponakannya itu ikut bergabung dalam proses pembelajaran yang ia buat bersama dengan enam anak lainnya.

“Nah, di situ terbersit ide bahwa kenapa saya nggak ajar ponakan di teras rumah saja. Karena kebetulan Amira (nama ponakan Aliyah) umurnya sudah masuk pra-TK yang menuju usia empat tahun. Saya juga melihat banyak anak-anak yang berkeliaran di sore hari di jalanan. Jadi di situ saya berpikir dan bilang ke Amirah, bagaimana kalau kita ajak teman kamu untuk belajar bersama. Karena toh di usia itu sebenarnya pembelajaran harus lebih banyak materi bermain. Jadi kita main-main aja, sambil drawing. Kita nulis sambil ajak teman-teman tetangga,” ungkap Aliyah Aidid.
Dari situlah kemudian ia mulai keliling-keliling, door to door. ”Saya sampaikan, siapa tahu ada anakta yang mau belajar dengan Amirah? Nah, di situ Alhamdulillah ada anak tetangga di sebelah rumah masuk. Ada juga tetangga dekat, hingga akhirnya di situ ada enam orang yang terkumpul. Jadi sore hari kita mulailah belajar, menghitung, bernyanyi bersama,” bebernya.

Aliyah memaparkan bahwa strategi yang ia terapkan untuk menggaet murid-muridnya adalah dengan bertemu langsung. Langkah tersebut disambut antusias oleh para orangtua. Hal itu terbukti dari yang mulanya hanya ada orang murid, akhirnya mencapai 40 orang.

Berita Terkait:

“Karena saya lakukan door to door dan langsung menyampaikan kepada orangtua. Dari situ para orangtua tertarik, akhirnya saling panggil. Dalam satu bulan itu akhirnya menjadi 20 orang. Nah, dari teras kita pindah ke garasi mobil. Karena setiap minggu itu bertambah jumlahnya. Setelah itu, satu bulan kemudian bertambah hingga menjadi 30, dan akhirnya saat akhir tahun akhirnya mencapai sekitar 40-50 anak,” jelasnya.

Setelah berjalan beberapa waktu, Aliyah melihat ada orangtua sangat antusias dibanding dengan dirinya. Bahkan yang mulanya proses pembelajaran berlangsung di sore hari, ia pindahkan ke pagi hari. Hal itu ia lakukan sebagai respons dari permintaan para orangtua siswa.

“Seiring berjalannya waktu saya melihat antusiasme orangtua justru sangat bersemangat. Karena waktu itu kita belajar sore hari, mereka meminta bagaimana kalau belajarnya pindah ke pagi hari saja. Jadi ketika kakak-kakaknya berangkat ke sekolah, adiknya juga sekalian iku. Jadi mereka juga punya rasa semangat bersama kakak-kakaknya. Bagaimana juga kalau mereka punya seragam. Setelah itu pada bulan ketiganya kami pindah. Jadi awalnya itu Mei tahun 2015 baru kita pindah, sekitar September baru kita pindahkan ke pagi hari,”sambungnya.

Setelah menuruti saran dari para orangtua, Aliyah mengaku kembali dibuat bingung. Sebab orangtua siswa kembali mempertanyakan apakah sekolah yang ia bangun ada sertifikatnya, sementara sekolah yang ia dirikan belum mempunyai legalitas resmi.
Cobaan pun tidak sampai di situ. Ia kembali dibuat pusing lantaran harus berpikir bagaimana caranya membangun sekolah, sementara lahan yang tersedia tidak tercukupi.
Di saat bingung ia mengaku mempunyai ide, yaitu membeli gazebo. Akhirnya saat ini mempunyai lima unit gazebo.

“Nah, dari situ mulai lagi orangtua bilang ini bagaimana, ada nggak sertifikatnya. Jadi saya pikir sertifikat bagaimana yah. Berarti harus didaftarkan secara resmi izinnya. Nah, di situlah kami mulai datang ke dinas, tanya soal bagaimana sih sebenarnya prosedurnya untuk sekolah TK. Tapi karena kami sebenarnya nggak ada pikiran untuk bangun TK, akhirnya waktu itu kami pusing bangunnya bagaimana. Karena kalau mau menambah bangunan di halaman rumah tentu overcrowded kan. Terlalu rame pastinya. Nah, di situlah ide muncul. Bagaimana kalau beli gazebo saja. Karena dulu impiannya memang pengen ada gazebo di halaman rumah, dan akhirnya kami membeli. Seiring berjalannya waktu, lambat laun murid-murid bertambah. Kami kembali membeli gazebo, kedua, ketiga, keempat dan kelima,” terangnya.

Aliyah menjelaskan bahwa sekolah outdoor atau alam ini sebenarnya terbentuk dengan sendirinya. Setelah berjalan ia mengaku sistem tersebut sangat efektif untuk pendidikan anak di usia dini.
Melihat antusiasme dari orang tua murid dan siswa yang belajar, ia akhirnya mulai mencari tahu bagaimana dan apa saja prosedur untuk mendirikan sebuah sekolah. Apalagi sekolah yang ia dirikan tidak dalam ruangan. Konsep outdoor tersebut ternyata juga sudah lama diterapkan oleh negara-negara besar di Eropa.

“Konsep sekolah outdoor ini sebenarnya terbentuk dengan sendirinya, dan ternyata memang efektif. Semua berjalan sesuai yang kami harapkan dari pendidikan anak usia dini. Karena kami maunya memang anak-anak bebas bermain dan berlari-lari. Setelah ada permintaan bahwa ini harus diresmikan secara prosedur, di situ saya mulai bertanya-tanya, TK itu apa sih sebenarnya, persyaratannya apa saja. Nah, sambil tanya ke dinas, saya juga cari referensi di Youtube dan informasi dari luar. Dari beberapa sekolah yang ada di luar negeri, seperti Jepang, dan lainnya itu sistem outdoor memang justru mulai marak atau dikembangkan. Saya lihat di Indonesia juga sudah ada beberapa sekolah yang menerapkan sistem outdoor atau sekolah alam,” terangnya.

Saat ini sekolah TK Insan Cemerlang memiliki empat orang tenaga pendidik, dan satu diantaranya adalah kepala sekolah. Untuk biaya sekolahnya pun terbilang terjangkau. Sebab Aliyah mengaku memang sengaja menawarkan konsep bagi anak-anak yang kalangan menengah ke bawah. (jar)



×


Berawal dari Capek dan Macet Saat Antar Ponakan ke Sekolah

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link