MAKASSAR, BKM — Sudah dua hari proses belajar mengajar di
terhenti, khususnya pada kelas XII. Siswa melakukan aksi mogok belajar sejak Kamis (6/2) dan berlanjut hingga Jumat (7/2) kemarin.
Siswa kelas XII kompak tak masuk sekolah sebelum tuntutannya dipenuhi.
“Masih (mogok) kak. Dalam waktu yang tidak ditentukan hingga tuntutan diselesaikan secara tuntas,” kata Ketua OSIS SMA 17 Makassar Muhammad Arsyah Yusuf saat dikonfirmasi, Jumat (7/2).
Terdapat empat tuntutan siswa XII SMA 17 Makassar, Pertama, hak mereka berpartisipasi dalam Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) melalui jalur SNBP. Kedua, investigasi kondisi internal SMAN 17 Makassar yang dinilai tidak harmonis hingga akhirnya berdampak terhadap siswa-siswi,.
Ketiga, pencopotan kepala SMAN 17 Makassar karena kelalaian yang sangat fatal. Terakhir, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan internal tenaga pendidikan.
Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Humas SMA 17 Makassar Kartini Kurnia memaklumi sikap para siswa yang begitu kecewa.
Pihak sekolah hanya bisa memastikan keberadaan siswa aman bersama orangtua.
“Itu keinginan mereka. Itu haknya mengambil sikap. Mentalnya anak mau kita jaga. Memang ada informasi orangtua berikan anak ruang mengambil sikap dan orangtua tetap bertanggung jawab keberadaan anak selama tidak masuk sekolah,” ujar Kartini.
Meskipun siswa memlilih untuk mogok belajar sebagai bentuk protes, para guru tetap mengirim tugas untuk siswanya. Sehingga proses belajar tetap bisa berlangsung meski aksi protes masih berlangsung.
Sebelumya, salah satu orangtua siswa, Azhar Gazali mengungkapkan pihak sekolah sudah lalai dalam menjalankan tugasnya, padahal masa penginputan data siswa menurutnya sudah cukup lama.
“Ini menyangkut pendataan egilible. Mereka kami anggap lalai karena rentang waktu yang diberikan itu lama untuk menginput data, dari awal Januari hingga akhir. Itu tidak dipenuhi mereka,” ungkap Azhar Gazali ketika mendatangi kantor Disdik Sulsel baru-baru ini.
D
irinya menyebut kesalahan pihak sekolah sudah begitu fatal.
Sebab menyangkut juga masa depan siswa yang berharap masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBP.
“Saya kurang paham penyebabnya, tapi kami menganggap fatal sekali. Sehingga kami lakukan langkah strategis bertemu pihak sekolah, dan pihak sekolah mengakui lalai menjalankan tugasnya,” tandasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMA 17 Makassar Abu Hanafi terus memperjuangkan para siswanya ikut seleksi nasional berdasarkan prestasi (SNBP) sebagai bentuk pertanggungjawaban. Ia bersama operator telah mendatangi dua kementerian, yakni Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) serta Kementerian Pendidikan Dasar dan menengah (Kemendikdasmen). Turut mendampingi Pelaksana Harian (Plh) Kepala Disdik Sulsel Andi Ibrahim.
“Pertama kami kunjungi adalah Kemdiktisaintek di gedung D. Kami mengikuti birokrasi antre pada bagian pengaduan untuk memohon pembukaan akses upload nilai siswa, sekaligus bermohon untuk ketemu Panitia SNBP,” kata Abu Hanafi, Jumat (7/2).
“Tapi kami tidak dibukakan akses dan tidak dapat ketemu ketua panitia SNBP. Sehingga kami sampaikan kondisi sekolah kita pada bagian pengaduan,” lanjutnya.
Setelah itu, Abu Hanafi memimpin tim menuju Gedung C, tujuannya bertemu Dirjen Kemendikdasmen. Namun sayangnya, pertemuan tersebut tersebut urung terlaksana. Pihak SMA 17 Makassar juga menjalin komunikasi dengan legislator DPR RI Syamsu Rizal.
Abu Hanafi rencananya masih mendatangi Kemendikdasmen.
Tujuannya bertemu dengan Mendikdasmen Abdul Mu’ti.
“Kami butuh dukungan dan atau pihak yang bisa memfasilitasi ketemu dengan para pejabat kementerian untuk meloloskan upload data siswa,” jelas Abu Hanafi. (jun)

