pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Doti, Praktik Mistis Diangkat ke Layar Lebar

Kru Kesurupan, Kambing untuk Adegan Ritual Mati Mendadak

SEBUAH film horor lokal bertajuk Doti resmi tayang di bioskop mulai 24 Juli 2025. Bukan sekadar film bergenre horor yang menghadirkan teriakan dan ketegangan, Doti adalah sebuah karya yang menyatukan unsur budaya, lokalitas, spiritualitas, dan kritik sosial dalam satu layar. Film ini menjadi cermin tradisi mistis masyarakat Sulawesi yang selama ini hanya hidup di lorong-lorong cerita rakyat dan bisik-bisik warisan leluhur.

LINE Producer Muh Akbar Fattah yang akrab disapa Daeng Mangka, menyebut betapa luar biasanya animo masyarakat terhadap film ini. Tiket untuk penayangan perdana di malam hari sudah ludes sejak dua hari sebelum rilis. Hanya sesi siang yang masih menyisakan sekitar 30 persen tempat duduk.

“Genre horor memang paling cocok ditonton malam hari. Sensasi dan kemisteriannya lebih terasa. Tapi penonton siang juga masih bisa menikmati tensi yang sama,” ujar Akbar saat berbincang hangat bersama host siniar untuk kanal Youtube BKM News.

Film DOTI menyoroti praktik ilmu hitam yang selama ini dikenal secara lokal di Sulawesi Selatan. Berbeda dengan santet dari Jawa atau pelet dari Bali, Doti memiliki kekhasan ritual yang sangat spesifik, menggunakan media seperti darah, batang pisang, hingga iringan gendang dalam proses pemanggilan kekuatan astral.

Salah satu tokoh penting dalam film ini adalah Daeng Nuntung diperankan oleh Subhan Ekafriansyah, yang memerankan karakter pemimpin sekte dan dukun utama dalam alur cerita.

“Saya berperan sebagai pemimpin sekte di sebuah kampung. Murid-murid saya menjalankan berbagai praktik doti, mulai dari menyakiti hingga menarik simpati cinta,” terang Subhan yang hadir bersama Daeng Mangka.

Cerita yang diangkat tidak hanya soal dendam dan celaka, tetapi juga menyentuh sisi emosional manusia yang sering tergelincir karena cinta yang tak berbalas, iri hati, dan keputusasaan. Salah satu adegan bahkan memperlihatkan seorang perempuan yang menggunakan doti untuk merebut hati lelaki yang dicintainya sejak kecil. Sayangnya, niat itu justru berujung pada pengkhianatan dan penderitaan.

Meski bertemakan horor dan mistik, film ini tidak mengajak masyarakat untuk percaya atau mempraktikkan ilmu hitam. Justru sebaliknya, Doti hadir sebagai pengingat agar masyarakat menjauhi praktik-praktik menyimpang dan kembali ke nilai-nilai spiritual dan agama.

“Kami tampilkan bagaimana karena praktik doti masyarakat jadi takut keluar rumah, bahkan masjid kosong saat Magrib. Inilah yang ingin kami patahkan. Jangan sampai budaya mistik mengalahkan nilai agama dan sosial,” terang Akbar.

Film ini juga menampilkan bagaimana doti bisa begitu kuat mengakar bahkan lebih dipercaya daripada jalur hukum dalam menyelesaikan konflik.

“Survei kami menunjukkan bahwa masyarakat lebih banyak memilih doti daripada jalur hukum untuk menyelesaikan masalah. Ini realitas yang kami angkat dalam film,” lanjut Daeng Nuntung.

Menariknya, proses produksi film ini pun tidak lepas dari kejadian mistis. Salah satu pengalaman paling menyeramkan terjadi saat syuting di sebuah air terjun wilayah Kabupaten Gowa.

“Saat saya duduk di atas batu mengawasi syuting, tiba-tiba sesak napas. Salah satu kru bahkan kesurupan. Cewek kru lain menggila. Ada yang teriak-teriak minta syuting dihentikan. Itu bukan dia yang bicara, katanya,” kisah Akbar.

Tak hanya itu, kambing yang hendak digunakan untuk adegan ritual ditemukan mati mendadak pada jam 3 dini hari sebelum pengambilan gambar. Padahal, adegan pengorbanan kambing baru dijadwalkan beberapa hari kemudian. Kejadian tersebut membuat suasana di lokasi semakin mencekam dan kru harus menghentikan syuting untuk sementara.

Selain sisi mistis dan horor, film ini juga menjadi wadah promosi budaya dan wisata Sulawesi Selatan. Lokasi syuting dipilih secara cermat untuk menampilkan keindahan alam, rumah adat, serta suasana pedesaan yang otentik.

“Kami sengaja pilih lokasi seperti air terjun di Parigi karena masih alami. Rumah-rumah panggung, jalanan tanah, hingga langit malam yang pekat. Semua itu mendukung atmosfer Doti,” jelas Akbar.

Ia menambahkan bahwa selain menyuguhkan cerita, film ini juga membawa pesan promosi pariwisata. Jika diolah dengan baik, lokasi-lokasi syuting dapat menjadi destinasi wisata mistis yang banyak diminati wisatawan pecinta petualangan spiritual.

Film ini tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia dan menyasar penonton dari 45 kota besar. Daeng Mangka dan Daeng Nuntung pun mengajak masyarakat Makassar dan seluruh tanah air untuk ikut menyaksikan film ini.

“Kalau tidak nonton… kudoti,” canda Daeng Nuntung menutup wawancara, disambut tawa kru dan host.
(*)



×


Doti, Praktik Mistis Diangkat ke Layar Lebar

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link