MENJELANG Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, semarak merah putih mulai menghiasi sudut-sudut kota. Salah satu sosok yang turut menghidupkan semangat itu adalah Andi Rosmiati D, perempuan tangguh berusia 58 tahun yang setiap tahun tak pernah absen berjualan bendera dan atribut kemerdekaan.
Penulis:Maliqha Zahra-Ananda Putri
Rosmiati mengaku telah berjualan sejak beberapa tahun lalu, berpindah-pindah lokasi, salah satunya di Jalan Talasalapang. Namun satu hal yang tak pernah berubah setiap 17 Agustus, ia akan selalu hadir di lapak kecilnya, menggantungkan deretan bendera merah putih yang berkibar melawan panas dan debu jalanan.
“Ada modal atau tidak, insyaallah saya tetap jualan. Yang penting ada kepercayaan,” ujarnya.
Bukan tanpa alasan, 17 Agustus bukan sekadar hari kemerdekaan bagi Rosmiati, tapi hari itu juga sebagai hari spesial atau ulang tahunnya sendiri. Ia menganggap momen ini sebagai pengingat untuk terus semangat dan bersyukur.
Barang dagangannya ia peroleh dari keponakannya yang meneruskan usaha jahit bendera milik almarhum kakak iparnya. Rosmiati pun tak perlu modal besar, ia hanya mengambil barang secara titip jual, dan membayar setelah laku.
“Pendapatannya tidak menentu. Kadang Rp200 ribu, kadang Rp300 ribu, kalau ramai bisa sampai Rp500 ribu,” tuturnya.
Di luar momen kemerdekaan, Rosmiati mencari nafkah dengan ikut menjual kelapa atau membantu pekerjaan lainnya sebagai tenaga kerja. Ia berharap kelak bisa membuka usaha kecil menjual makanan atau sayur-sayuran di pinggir jalan.
Harapannya sederhana namun menyentuh. “Semoga Indonesia tetap merdeka, damai, dan Palestina juga bisa bebas. Saya juga diberi umur panjang, supaya tahun depan bisa jualan lagi,” katanya sambil tersenyum.
Semangat Rosmiati menjadi cermin bahwa kemerdekaan bukan hanya dirayakan, tapi juga diperjuangkan dalam kehidupan sehari-hari.(mg3-mg4)

