pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Teliti Strategi Adnan Purichta Kelola Birokrasi saat Pimpin Gowa, Ketua KPID Sulsel Raih Doktor

Irwan Ade Saputra memaparkan disertasinya pada promosi doktor di gedung LPPM Unhas, Kamis (21/8/2025).

MAKASSAR, BKM — Ketua KPID Sulsel, Irwan Ade Saputra menyampaikan hasil disertasinya pada Promosi Doktor yang digelar di Gedung LPPM Universitas Hasanuddin (Unhas) Tamalanrea, Makassar, Kamis (21/8/2025) pagi.

Irwan Ade yang juga dosen Ilmu Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas ini mengangkat disertasi dengan judul “Birokrasi Sebagai Instrumen Regenerasi Kekuasaan: Studi Kasus Kekuasaan Adnan Purichta Ichsan di Kabupaten Gowa”.

Pada pemaparannya, Irwan Ade mengatakan, peta politik Kabupaten Gowa sulit dilepaskan dari pengaruh keluarga Yasin Limpo.

Menurutnya, kemenangan Adnan Purichta Ichsan sebesar 91 persen saat Pilkada 2020 menjadi bukti kuat keberlanjutan kekuasaan keluarga Yasin Limpo.

“Sebelumnya ayahnya Ichsan Yasin Limpo menjabat Bupati Gowa dua periode 2005 hingga 2015. Sedangkan pamannya Syahrul Yasin Limpo memimpin pada 1994-2004. Rangkaian kemenangan ini merupakan kelanjutan dari dominasi politik keluarga selama hampir tiga dekade,” papar Ade dalam pendahuluannya.

Ade menjelaskan, penelitian yang ia lakukan fokus pada bagaimana Adnan Purichta memanfaatkan kekuatan birokrasi untuk memperkuat basis politiknya pada Pilkada 2020.

“Pengaruh keluarga yang telah mengakar membuat birokrasi menjadi subordinasi kekuasaan, terbentuk bukan hanya dari mekanisme koersif, tetapi juga tersintesa dalam struktur birokrasi akibat sejarah panjang hubungan politik-birokrasi Gowa,” tulis Ade.

Namun, Ade menjelaskan, jika Adnan menghadapi dilema karena ia mewarisi keuntungan sekaligus masalah dari dominasi panjang keluarganya.

Masalah yang muncul menurut hasil penelitian Ade adalah resistensi birokrasi akibat hambatan meritokrasi, polarisasi politik dalam birokrasi dan masyarakat serta keraguan yang muncul akan kapasitas personal dalam mengatasi persoalan daerah.

“Dalam tiga persoalan tersebut, akhirnya timbul masalah utama bagaimana Adnan menggunakan birokrasi sebagai instrumen mempertahankan kekuasaan di tengah melemahnya modal politik birokasi akibat perpecahan pasca-Ichsan,” tulisnya.

Ade menjelaskan, selama Syahrul, Ichsan dan Adnan di periode pertama, ada beberapa peta dukungan politik di Gowa. Yang pertama adalah antara dataran tinggi dan dataran rendah serta kalangan bangsawan atau kerajaan dan bukan dari kalangan kerajaan.

“Tapi di periode pertama, Adnan berusaha menghilangkan dikotomi itu dengan mengakomodir kepentingan dataran tinggi, dataran rendah serta kalangan kerajaan dan non kerajaan,” katanya.

Makanya, kata Ade, ketika Adnan maju kembali di periode kedua, ia berhasil meraih suara 91 persen.

Strategi Adnan untuk memutuskan semua sekat-sekat itu dengan penggunaan birokrasi sebagai instrumen regenerasi kekuasaan dengan tiga cara.

“Adnan menempatkan jabatan lurah berdasarkan keseimbangan geografis dan jaringan kekeluargaan yang dianggap mampu memperkuat legitimasi sosial,” katanya.

Dimana, kata Ade, lurah dijadikan aktor kunci dalam menjembatani hubungan antara elit politik dan masyarakat akar rumput, terutama wilayah yang pernah mengalami ketegangan politik.

Selain itu, Adnan juga menggunakan jabatan kepala dinas sebagai instrumen politik untuk membangun loyalitas sebagai norma birokrasi.

“Penempatan kepala dinas dengan pertimbangan geopolitik untuk menjangkau wilayah strategi pemilih. Kepala dinas juga dilibatkan dalam rekonsiliasi politik internal dan eksternal,” tulis Ade.

Di poin ketiga kesimpulan yang diambil adalah model birokrasi politik yang dijalanan Adnan yakni menggabungkan mekanisme integrasi politik dan pengelolaan birokrasi yang berpihak pada stabilitas kekuasaan,” tulis Ade lagi.

Sejumlah promotor melayangkan beberapa pertanyaan. Beberapa di antaranya penguji eksternal Prof Dr Murtir Jeddawi dan Prof Dr Muhammad.

Sementara pembimbing Irwan Ade, Prof Armin Arsyad lebih banyak memberikan nasihat ke Ade dan upayanya mendorong Ade menyelesaikan program doktoral.

Setelah sidang promosi diskors selama 10 menit, para promotor memutuskan Irwan Ade Saputra dinyatakan lulus dengan nilai sangat memuaskan.

Menurut Prof Armin, dari segi nilai Ade memenuhi syarat lulus dengan predikat cumlaude. Tetapi, masa studi yang membuat Ade hanya meraih predikat sangat memuaskan.

Bupati Gowa dua periode (2016-2025), Adnan Purichta turut hadir dalam promosi ini. Adnan hadir melalui Zoom Meeting.

“Selamat untuk Pak Ade atas gelar doktornya,” kata Adnan.

Adnan mengaku menyimak pertanyaan-pertanyaan dari para promotor dan penjelasan dari Irwan Ade Saputra.

Ia mengatakan, kepala daerah itu adalah jabatan politik. Berbeda dengan sekda dan kepala dinas itu adalah jabatan birokrasi.

“Oleh karena itu kita sebagai kepala daerah selain memerintah berdasarkan aturan, kita juga harus mengakomodir kepentingan-kepentingan politik,” katanya.

“Kita memanfaatkan birokrasi itu sebagai corong pemerintah sehingga program kita bisa sampai ke seluruh masyarakat,” tutup Adnan. (*)



×


Teliti Strategi Adnan Purichta Kelola Birokrasi saat Pimpin Gowa, Ketua KPID Sulsel Raih Doktor

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link