MAKASSAR, BKM – Duka mendalam begitu dirasakan anggota DPRD Kota Makassar Andi Tenri Uji Idris. Ia kehilangan dan harus merelakan dua staf andalannya, Muhammad Akbar Basri (Abay) dan Sarinawati (Syahrina Wati), dalam peristiwa kebakaran gedung DPRD Makassar, Jumat malam 29 Agustus 2025.
Kedua sosok yang selama ini setia mendampinginya, menemui ajal dengan cara mengenaskan di tengah kobaran api yang melahap kantor dewan di Jalan AP Petta Rani.
Dalam perjalanan mengantar jenazah Syahrina ke kampung halamannya di Bone, Sulawesi Selatan, Andi Tenri mencurahkan isi hati dan keresahannya melalui pesan yang ia unggah di media sosial. Dengan suara hati yang bergetar, ia menuliskan rasa kehilangan yang begitu dalam.
”Pak Prabowo, tidak apa-apa saya kehilangan mobil akibat massa semalam. Tapi saya kehilangan satu orang yang paling penting dalam hidup saya dan keluarga saya, dan satu orang lagi kesayangan kami semua di DPRD Kota Makassar. Mohon ketegasan bapak agar hanya saya yang merasakan kehilangan dua orang sekaligus dalam waktu bersamaan. Kami tidak pernah menuntut kenaikan gaji atau tunjangan, tapi kami yang harus menanggung akibat ulah orang-orang di pusat sana. Kami saat itu benar-benar rapat, bukan berjoget-joget. Almarhumah Sarina adalah anak tunggal yang dibesarkan ibunya dari hasil jerih payah sebagai pekerja migran di Arab Saudi, dan hingga kini ayahnya pun masih bekerja di Malaysia. Luka ini akan tergores seumur hidup saya. Saya harus bertanggung jawab di dunia dan akhirat. Saya mohon Tuhan tabahkan saya dan keluarga Sarina. Saya bingung harus setabah apa menghadapi takdir ini,” tulisnya.
Kesaksian menyayat hati lainnya datang dari rekan sesama anggota DPRD, Budi yang menceritakan kronologi detik-detik terakhir Abay dan Syahrina.
Menurutnya, seusai rapat paripurna, Abay sempat mengevakuasi anggota dewan, staf, dan petugas kebersihan ke lantai satu untuk menyelamatkan mereka dari kepulan asap. Namun, ia kemudian memutuskan naik kembali ke lantai dua untuk menolong Syahrina yang terjebak di ruang kerja pribadi Andi Tenri Uji Idris.
”Abay naik kembali ke lantai dua, tapi belum sempat menolong Syahrina, dia sudah dikepung asap dan api. Keduanya ditemukan saat evakuasi di depan ruang Fraksi PAN DPRD Kota Makassar,” ungkap Budi.
Tragisnya, sebelum ditemukan tak bernyawa, Abay sempat mengirimkan beberapa video ke grup internal DPRD. Dalam video itu ia terlihat sesak napas, dikelilingi asap dan kobaran api. Pesan terakhirnya begitu singkat namun memilukan:
”Kalau keluarka, Kak selesaikah…” singkatnya.
Pesan itu menjadi bukti keberanian dan pengorbanan Abay yang rela kembali ke lokasi berbahaya demi menyelamatkan rekan kerjanya.
Kematian dua staf setia ini menambah daftar panjang korban tragedi kebakaran DPRD Makassar yang memicu duka mendalam di kalangan pejabat dan pegawai dewan. Bagi Andi Tenri Uji, kepergian Abay dan Syahrina bukan sekadar kehilangan staf, melainkan keluarga sendiri.
”Saya tidak hanya kehilangan rekan kerja, tapi juga keluarga. Mereka adalah bagian dari perjuangan saya selama ini,” ucapnya. (ita)

