pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Peluncuran Buku, S. Sinansari Ecip Berpesan tak Boleh Berhenti Melangkah


‎MAKASSAR, BERITAKOTAMAKASSAR.COM–Kantor Redaksi Harian Fajar, Graha Pena Makassar, menjadi saksi peluncuran buku berjudul “Resonansi 80 Tahun S. Sinansari Ecip”, Senin (15/9) sore. Karya ini bukan sekadar perayaan usia, tetapi juga rekam jejak pemikiran dan kontribusi panjang seorang tokoh pers sekaligus penulis senior, S. Sinansari Ecip.‎


‎Acara tersebut dihadiri Pembina Fajar Group, H Syamsyu Nur. Hadir pula Komisaris Utama PT Media Fajar Indonesia H.M. Agus Salim Alwi Hamu, jajaran pimpinan Fajar Group, serta sejumlah tokoh media dan akademisi. Agenda ini merupakan kolaborasi antara Dr S Sinansari Ecip dan Prof Firdaus Muhammad yang sekaligus menjadi editor buku.


‎‎“Hari ini saya merasa bahagia karena bisa hadir di kegiatan ini, saya mengucapkan terima kasih banyak. Karena itu, saya teringat pada awal mula yang membangun hari-hari panjang. Kita tentu masih ingat pada tahun 1996, saat kita menjalani sebuah perjalanan bersama. Waktu itu hampir setiap kegiatan yang kita lakukan terasa sebagai pengalaman terbaik dalam dunia,”ungkapnya.‎


‎Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada HM Agus Salim Alwi Hamu. “Pak Alwi adalah tokoh utama yang pertama membuat koran yaitu Harian Sulsel. Beliau adalah orang yang membuat kita semangat untuk membangun media,” tambahnya.‎


‎Sejarah Harian Fajar memang tidak terlepas dari kiprah HM Alwi Hamu. Sebelum mendirikan Fajar pada awal 1980-an, ia lebih dahulu menerbitkan Koran KAMI Sulsel. Tekadnya yang kuat untuk menghadirkan media independen membuat FAJAR berkembang menjadi salah satu koran terbesar di kawasan timur Indonesia. Bahkan, Alwi Hamu dikenal sebagai tokoh pers yang berani bersuara kritis hingga pernah berhadapan dengan penguasa.


‎Buku “Resonansi 80 Tahun S. Sinansari Ecip” sendiri terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama memuat autobiografi yang ditulis langsung oleh Sinansari Ecip, sementara bagian kedua berisi 40 tulisan dari murid, sahabat, dan kolega. Proses penyusunannya berlangsung hampir dua tahun, sejak 2024 hingga 2025, dengan melalui tahapan seleksi dan penyuntingan yang cukup panjang. Dari 40 penulis yang berkontribusi, dua di antaranya Dr. Abdul Halik dan Dr Aswar Hasan telah wafat sebelum buku ini terbit.
‎‎Prof Firdaus Muhammad menilai, perjalanan hidup Sinansari Ecip dari Jawa Timur, merantau ke Sulawesi, berkarier di Jakarta, hingga kemudian kembali lagi ke Sulawesi adalah kisah penuh inspirasi.‎


‎“Buku ini sangat layak dibaca oleh mahasiswa, peneliti, maupun jurnalis muda. Dari beragam testimoni yang terkumpul, sosok beliau tergambar utuh,” ujarnya. Ia menambahkan, meski cetakan fisiknya terbatas sekitar seratus eksemplar, versi digital akan disebarkan agar bisa menjangkau lebih banyak pembaca.‎


‎Sementara itu, Sinansari Ecip mengaku terharu dengan peluncuran buku yang menghadirkan kembali kenangan perjalanan hidupnya.“Usia lebih dari 80 tahun adalah anugerah Allah SWT. Banyak hal sudah saya lalui, dan semoga sisa umur bisa memberi manfaat untuk banyak orang,” tuturnya.


‎‎Ia pun menitipkan pesan untuk generasi muda agar terus bersemangat dan tidak berhenti melangkah. “Indonesia adalah milik kita bersama, jangan sampai kita abaikan,” katanya.‎
‎Lebih jauh, Sinansari juga menyoroti perkembangan media saat ini. Menurutnya, jurnalisme massa kian terdesak oleh dominasi teknologi digital yang menghadirkan beragam fungsi dalam genggaman individu.


‎‎Peluncuran buku ini tidak hanya menjadi ajang penghormatan kepada S. Sinansari Ecip, tetapi juga momentum memperkuat silaturahmi insan pers, akademisi, dan pemerhati literasi di Makassar.(Jar)



×


Peluncuran Buku, S. Sinansari Ecip Berpesan tak Boleh Berhenti Melangkah

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link