MAKASSAR, BKM — Pernyataan mantan Wakil Ketua DPRD Sulsel yang juga alumni Universitas Hasanuddin (Unhas), Ni’matullah yang menyebut Unhas seperti tempat kursus, mendapat respons dari pihak Unhas.
Kepala Bidang (Kabid) Humas Kantor Sekretariat Rektor Unhas, Ishaq Rahman mengaku agak aneh membaca berita yang menyebutkan bahwa Unhas seperti tempat kursus.
“Jika melihat kondisi Unhas hari ini, kita akan terheran-heran dengan perspektif beliau (Ni’matullah, red),” tulis Ishaq dalam keterangannya ke BKM, Senin (27/10/2025) malam.
“Coba kita cermati. Tempat kursus mana yang memiliki hampir 1.600 dosen, dengan 475 guru besar, jumlah yang bahkan menjadi runner-up nasional?,” tanya Ishaq.
Ishaq juga mempertanyakan tempat kursus mana pula yang memiliki hampir 300 thematic research group (TRG), puluhan laboratorium penelitian di setiap fakultas, dan 86 program studi berakreditasi internasional? “Lagi-lagi, ini jumlah terbesar kedua di Indonesia,” katanya.
Kalau ini disebut tempat kursus, lanjut alumni Hubungan Internasional Unhas ini, mana mungkin Unhas dinobatkan sebagai salah satu dari 1.000 universitas terbaik dunia dan peringkat 201 Asia.
“Mana ada tempat kursus yang setiap tahun diperebutkan oleh 90.000 calon mahasiswa, hanya untuk diterima sekitar 10.000 yang terbaik,” tegas Ishaq.
Bahkan dengan nada bercanda, Ishaq mengatakan jika kursus ini sudah menghasilkan ratusan ribu “peserta” yang kini berkiprah di pemerintahan, bisnis, akademik, dan profesi strategis.
Bahkan, lanjut Ishaq, salah satunya pernah menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia dua kali.
“Sulit rasanya mencari lembaga kursus yang hasilnya bisa sedemikian berdampak pada negeri ini,” imbuh pria berkepala plontos ini.
“Kalau Unhas disebut tempat kursus, maka sungguh kita patut bersyukur: betapa berharganya kursus yang mampu melahirkan pemimpin, cendekiawan, dan tokoh-tokoh penggerak pembangunan bangsa,” sambung mantan Sekretaris Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas ini.
Dalam diskusi lintas generasi tersebut, berkembang argumentasi bahwa Unhas tidak lagi mempunyai tradisi akademik. Bahwa Unhas hanya menjadi tempat orang memburu ijazah. Hal ini yang jadi argumen menganggap Unhas seperti tempat kursus.
“Tentu saja, agar tidak terjadi bias konfirmasi, kita perlu memahami apa itu tradisi akademik,” Ishaq meluruskan.
Ishaq mengatakan, ada banyak rujukan untuk memahami istilah ini. Bisa menggunakan parameter UNESCO dalam World Declaration on Higher Education (1998), yang menyebut tiga parameter utama: kebebasan akademik, otonomi institusi, dan tanggung jawab sosial universitas.
“Apakah ada kekangan mengemukakan pendapat di Unhas? Pernahkah ada dosen atau peneliti yang dilarang meneliti? Usulan penelitian dosen Unhas setiap tahun melimpah. Sampai-sampai Unhas keteteran membiayainya. Itu karena bebasnya dosen berpikir dan bergagasan,” jelas Ishaq.
Ishaq mengungkapkan, jika mahasiswa, sebagai konstituen utama Unhas, tidak henti menorehkan prestasi, akademik maupun non akademik, nasional maupun internasional.
“Bisakah itu terjadi jika mahasiswa dilarang atau dibatasi berpikir? Dibatasi berekspresi dan berkreativitas?,” tanyanya lagi.
Ia menyebutkan, alumni-alumni Unhas dekade 1980-an atau 1990-an pasti merasakan. Betapa sulitnya bagi mahasiswa Unhas menorehkan prestasi di tingkat nasional ketika itu. Semua ajang adu pintar, adu kreatif, adu gagasan didominasi oleh kampus-kampus Jawa.
“Jarang, bahkan sangat jarang, kita mendengar nama wakil dari Unhas di ajang nasional,” tegasnya.
Sekarang, kata Ishaq, Unhas adalah juara nasional Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), ajang paling bergengsi dalam ajang kreatif mahasiswa. Itu pertama kali dalam sejarah 37 tahun PIMNAS, piala juara umum meninggalkan pulau Jawa.
Tahun ini, lanjutnya, dari 2% top saintist dunia, 7 orang diantaranya adalah dosen dan peneliti Unhas. Itu semua terjadi karena ruang kebebasan berpikir dan berkarya terbuka luas di Unhas.
“Jadi, jangan ragukan kebebasan berpikir dan berpendapat (pilar utama tradisi akademik) di Unhas. Bahkan, Kanda Ni’matullah yang mau berpikir bahwa Unhas adalah tempat kursus sekalipun, tidak dilarang,” katanya.
Yang paling penting dari semua itu, menurut Ishaq adalah mengajukan argumentasi.
“Buktikan dengan data. Ini juga tradisi akademik yang penting, berargumen basisnya adalah data. Bukan perasaan apalagi dugaan,” tutup Ishaq.(rls)

