BULUKUMBA, BKM–Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) selaku Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bulukumba Syamsir Paro menghadiri rapat multi stakeholders dengan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) di Ruang Pola Kantor Bupati Bulukumba, Kamis (11/12).
Syamsir Paro menegaskan bahwa orang yang pernah mengalami kusta merupakan bagian tak terpisahkan dengan masyarakat Bulukumba. Legislator tiga periode ini pun, mengajak semua elemen untuk bersikap lebih inklusif.
“Orang yang pernah menderita kusta adalah bagian dari kita. Mereka ada bukan untuk dimarjinalkan dalam tanda petik,” kata Syamsir Paro kepada wartawan.
Dengan demikian, menghapus stigma negatif terhadap orang yang pernah mengalami kusta merupakan langkah maju. Sebab, kata Syamsir Paro, mereka butuh diberikan hak-hak yang sama seperti warga masyarakat lainnya.
“Mereka juga butuh interaksi sosial tanpa ada diskriminasi. Mereka butuh akses layanan di semua fasilitas umum, juga fasilitas kesehatan dan fasilitas pendidikan tanpa ada kata “tapi”. Sebab sejatinya mereka juga punya hak untuk semuanya,” jelas politikus yang dikenal merakyat dan berjiwa sosial tinggi.
Pertemuan multi stakeholders ini dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Bulukumba melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) bekerjasama dengan Yayasan NRL Indonesia. Tampak puluhan OYPMK berdialog langsung dengan para Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemkab Bulukumba.
Pertemuan dengan OYPMK juga dihadiri oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Andi Baso Bintang yang mewakili Bupati Bulukumba, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba, dr. H. Muhamamd Amrullah, serta sejumlah tamu undangan.
Amrullah memaparkan bahwa penyakit kusta murni disebabkan oleh kuman. Ia pun menepis adanya mitos-mitos penyebab kusta, seperti adanya kutukan, santet atau doti, pengaruh makanan hingga faktor keturunan.
“Jadi bukan seperti yang saya sebutkan di atas penyebab kusta. Saya tegaskan kusta itu murni disebabkan karena kuman. Kusta bisa disembuhkan yang penting pengobatan terus berlanjut,” jelasnya.
“Di semua Puskesmas di Bulukumba ada obat kusta, dan ada pengelola yang menangani kusta. Makanya jangan pernah berhenti minum obat sesuai dengan dosis yang diberikan,” sambung Amrullah.
Inisiator OYPMK Bulukumba, Syamsul Imam memperkenalkan Sipakatau Inklusi di hadapan Pimpinan OPD dan stakeholders lainnya. Kata dia, Sipakatau Inklusi merupakan wujud memanusiakan manusia, sehingga OYPMK bisa kembali berbaur secara normal di masyarakat.
“Ada beberapa kawan kami yang pernah mengalami kusta. Mereka belum bisa hidup bermasyarakat, dan akhirnya meninggal. Bukan karena penyakit yang dideritanya, tapi karena stigma terhadap kusta,” ujar Syamsul Imam.
Lebih lanjut, Imam begitu ia akrab disapa mengaku pernah mengalami kusta. Sebab itu, ia berterima kasih atas pengobatan dan dukungan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba.
“Beberapa bulan lalu, saya menghadiri salah satu Kongres Internasional. Saya bicara di forum kongres bahwasanya OYMK masih kurang dilibatkan, karena stigma ini masih ada di masyarakat,” jelasnya.
“Sipakatau Inklusi ini bertujuan agar bisa berkumpul untuk menyuarakan hak-hak kita sebagai warga, seperti warga negara lainnya. Bulukumba harus bebas stigma dan dikriminasi terhadap OYPMK,” tambah Imam.
Usai pertemuan multi stakeholders tersebut, Syamsir Paro mengabadikan momen bersama puluhan OYPMK dengan foto bersama.(ful/rif)

