Seminggu di rumah orang tua, suami datang menjemput. Dia menekankan, apa yang dilakukan di THM bersama sang bos, karena dirinya dipaksa untuk menemani menemui rekan bisnis. Apalagi sang bos, Sinta, ingin membuka usaha baru. Hanafi dijanjikan akan masuk struktur karyawan teras jika usaha baru tersebut bisa berjalan.
“Jadi apa yang saya lakukan murni karena urusan kerja. Untuk kesejahteraan keluarga kita,” kata suamiku waktu itu dengan nada membujuk. Akupun luluh. Apalagi kedua orang tuaku juga memintaku untuk kembali ke rumah.
“Tidak baik meninggalkan rumah terlalu lama. Apalagi suamimu sudah datang minta maaf,” jelas ibuku.
Namun, kembali ke rumah, tetap terasa ada persoalan yang mengganjal. Apalagi, suamiku masih tetap menghabiskan waktu lebih banyak di luar rumah.
Tiga tahun perkawinan, saya hamil anak kedua. Karir suamiku pun mulai bercahaya. Dari supir menjadi orang kepercayaan sang bos Sinta, di perusahaan barunya yang bergerak di bidang entertaint. Otomatis waktu suami untuk keluarga semakin berkurang. Secara materi, aku tercukupi. Dengan uang tabungan yang kumiliki, aku mulai merintis usaha kecil-kecilan. Itu kulakukan untuk membunuh sepi karena kerap ditinggal suami. Apalagi, ketika tanggung jawabnya makin besar, dia makin jarang pulang.
“Saya konsentrasi merintis usaha itu. Tanggung jawab yang diberikan bos sangat besar,” begitu alasan suamiku ketika kutanya kenapa jarang pulang.
Komunikasi dengannya pun jarang dengan suami. Itu sudah biasa bagiku.
Hingga suatu hari, ketika saya menjemput teman dari luar kota yang berkunjung ke daerah ini di Bandara, pemandangan memilukan serta membuat darahku mendidih terlihat. Di bandara, kulihat suamiku dengan mesra, berpegang tangan dengan bosnya menuju salah satu kafe di sana. Kuikuti mereka hingga masuk ke kafe tersebut. Sangat mesra, laiknya suami isteri. Kudatangi mereka yang terbengong-bengong melihatku. Secara elegan, kukatakan pada suamiku,” kita bercerai,”.
Akupun berlalu dengan tegar tanpa mengeluarkan air mata. Sejak itu, aku muak dengan suamiku. Tak pernah kubalas dan kuangkat teleponnya. Kalau dia pulang ke rumah, aku sedapat mungkin menghindarinya. Aku juga menyibukkan dari merintis usaha yang mulai maju. Beberapa kali permohonan ceraiku ditolak. Bagiku, cukup sampai disini kebohongannya padaku. Saya tidak mau dikadalin lagi. Akan kuperjuangkan agar bisa lepas dari lelaki bajingan itu. (rhm/b)

