MAKASSAR, BKM — Sastra anak diyakini memiliki kontribusi besar bagi perkembangan anak dalam proses menuju kedewasaan.
Sastra anak diyakini mampu menanam, memupuk, mengembangkan, dan melestarikan nilai-nilai baik dan berharga bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Demikian alasan yang dikemukakan Hasriani ketika mempertahankan disertasinya dengan judul: “Representasi Nilai Pendidikan Karakter dalam Bacaan Sastra Anak Nonfiksi Biografi Pahlawan Nasional (Suatu Kajian Hermeneutika) pada Rabu (12/9) di Aula PPs UNM.
Hasriani memaparkan disertasinya di depan tim penguji: Ketua: Prof.Dr.Anshari,M.Hum. Anggota: Prof.Dr.Achmad Tolla,M.Pd., Prof.Dr.Muh.Rapi Tang,M.S., Dr.Andi Syukri Syamsuri,M.Hum., Dr.Ramly,M.Hum., dan Dr.Ery Iswary,M.Hum.
Temuan pertama, wujud nilai pendidikan karakter berupa religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif/bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Temuan kedua, isi nilai pendidikan karakter berupa nilai pendidikan karakter terhadap Tuhan Yang Mahaesa, diri sendiri, sesama manusia, dan masyarakat/kelompok/komunitas.
Temuan ketiga, fungsi pendidikan karakter dalam bacaan sastra anak berupa fungsi religius, kultural, edukatif, dan kemasyarakatan.
Menurut Prof.Dr.Anshari,M.Hum. kebaruan disertasi Dosen Unismuh itu adalah temuan karakter berbasis budaya atau kearifan lokal dari setiap asal daerah pahlawan nasional.
Misalnya, pahlawan nasional Sultan Hasanuddin ditemukan karakter sipakatau atau memanusiakan manusia. Demikian pula pahlawan nasional lainnya. Kebaruan inilah yang menjadi nilai lebih dari disertasi Hasriani.
Setelah menjawab semua bantahan dewan penguji, Hasriani dinyatakan lulus dengan IPK 3,91 dan predikat kelulusan pujian (cumlaude).
Hasriani merupakan doktor ke-728 di PPs UNM dan ke-53 di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia. (*)

