INNALILLAHI wainna ilaihi rojiun. Kabar duka datang dari keluarga besar Direktur Harian Berita Kota Makassar Mustawa Nur. Kakak kandungnya Firdaus Nur mengembuskan nafas terakhirnya, Rabu (24/10) pukul 17.00 Wita di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar.
Almarhum yang semasa hidupnya karib disapa Daus ini, berpulang akibat penyakit kelainan pembuluh darah yang dideritanya. Karena penyakit itu, HBnya selalu turun naik.
Kepergian Firdaus untuk selamanya membawa duka mendalam bagi keluarga, serta Fajar Grup. Sebelum fokus terjun di dunia event organizer (EO), almarhum tercatat sebagai wartawan Harian Fajar.
Dalam tiga tahun terakhir ia harus berjuang untuk sembuh dari penyakitnya. Puncaknya dalam tiga bulan terakhir. Firdaus tak lagi bisa beraktivitas. Hanya terbaring di rumah sakit.
Istri almarhum Andi Agni Soraya setia mendampingi sang suami hingga ajal menjemput.
”Sudah tiga bulan dirawat di sini (RS). Sejak dua tahun terakhir, sudah tiga kali keluar masuk rumah sakit. Selama menjalani perawatan, ada perubahan. Kata dokter, pembuluh darahnya bermasalah,” terang Andi Agni yang ditemui di kamar jenazah RS Wahidin, kemarin.
Ada hal yang tak akan pernah dilupakan oleh Agni selama mendampingi almarhum menjelang akhir hayat. ”Dia ingin sembuh. Makanya, selama tiga bulan itu ia rutin minum obat. Selalu semangat setiap harinya,” ujarnya sedih.
Bahkan, saat melihat kondisi kesehatan suaminya yang sudah mulai membaik, Agni berencana hendak berangkat ke Jakarta untuk sebuah acara. Ia menggantikan almarhum yang tidak bisa menghandle kegiatan tersebut.
”Rencananya saya sama anakku mau ke Jakarta. Tapi tidak jadi, karena diberitahu bapak tiba-tiba drop,” tuturnya.
Agni mengaku tidak punya firasat apa-apa bila suaminya akan berpulang. ”Dia sempat minta maaf ke saya dan anakku. Karena satu jam sebelum meninggal masih sadar. Bahkan sebelumnya masih sempat bicara, bilang mau minum obat supaya sembuh,” kenang Agni sambil mengusap butiran bening dari sudut matanya.
Almarhum disemayamkan di rumah duka Jalan Takabonerate nomor 29 kompleks Bukit Baruga, Antang. Jenazah akan dimakamkan hari ini, Kamis (25/10).
Duka mendalam begitu dirasakan kakak kandung almarhum H Syamsu Nur. Ia tak pernah menyangka adiknya itu akan pergi untuk selama-lamanya.
Almarhum merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Dikenal sebagai pekerja keras. Memulai karirnya sebagai wartawan hiburan di Harian Fajar, dan terakhir sebagai kepala Radio Fajar FM. Selanjutnya aktif menggelar event, hingga akhirnya dirawat di rumah sakit.
”Almarhum ini orangnya pekerja keras. Cinta sekali keluarga. Dalam bekerja, dia punya hubungan relasi yang bagus. Pembawaannya suka bersenda gurau dengan orang lain. Selama sakit dia tidak banyak mengeluh,” ujar H Syamsu Nur.
Hal senada disampaikan Mustawa Nur. Ia menyebut kakaknya itu sosok yang sangat humoris dan selalu tegar dalam menghadapi kehidupan. Bahkan selalu memberikan motivasi dan doa untuk dirinya.
“Dia ini sangat humoris dan selalu tegar menghadapi kehidupan. Dia juga yang selama ini memberikan motivasi dan doa. Kadang mengarahkan saya. Saya dan dia ikut bersama membangun Fajar. Saya lopernya, dia agennya. Saya digaji sama dia. Waktu saya ujian, dia liput sidang skripsi saya,” terangnya.
“Dia pula yang mengarahkan saya sampai berada di media. Almarhum ini santai dan suka bercanda. Hampir sering menyampaikan sesuatu itu dengan lelucon. Sering memberikan warna kegembiraan kalau beliau ada. Bahkan tadi sempat bercanda. Waktu saya tinggalkan RS kondisinya sudah baik. Tapi belum sampai di Graha Pena, saya dapat info dari keluarga bahwa kondisinya sudah kritis,” jelas Mustawa. (ita/rus)
Firdaus Nur, Sosok Humoris itu Kini Telah Tiada
×

