MAROS, BKM — Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dengan cara unik. Yakni perahu yang dihias dengan berbagai ornamen, juga dilakukan warga Kelurahan Soreang, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, Sabtu (1/12).
Ratusan warga yang terdiri dari anak-anak hingga orang dewasa berkumpul di bawah replika perahu Phinisi yang terpasang di halaman rumah warga. Para warga ini sengaja menunggu untuk mengambil bingkisan, berupa telur dan aneka makanan yang digantung dan tersimpan di replika perahu Phinisi tersebut.
Menurut seniman dan pemerhati budaya lokal Maros, Ilham Halimsyah, tradisi ini telah dilakukan turun-temurun dan digelar warga sebagai bagian dari tradisi Maudu Lompoa Cikoang di Takalar.
Berdasarkan kisah yang disampaikan tokoh masyarakat, warga Soreang Maros sudah mengenal tradisi maudu lompoa ala Cikoang tersebut sejak sekitar 80 tahun lalu. Warga Soreang yang menggelar tradisi ini masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al’ Aidid, ulama besar asal Aceh, cucu Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, keturunan Arab Hadramaut, Arab Selatan dan masih keturunan Nabi Muhammad SAW ke-27 yang tiba di Kerajaan Gowa pada abad 17, masa pemerintahan Sultan Alauddin.
Meski memiliki hubungan dengan tradisi maudu lompoa di Cikoang Takalar, namun perayaan Maulid perahu di Soreang Maros sudah menyesuaikan dengan kondisi geografis setempat. Yakni replika perahu hias hanya didirikan di daratan tanpa diarak atau dibawa ke sungai, seperti halnya di Takalar pada umumnya. (ari/mir/c)
Maudu Lompoa Juga Digelar di Soreang
×

