Namaku Bunga (nama samaran). Usiaku sekarang 23 tahun. Profesiku sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) yang kerap mangkal di salah satu jalan protokol di Kota Makassar jika malam tiba.
Tak banyak yang tahu, bahkan peduli kenapa saya memilih pekerjaan haram itu sebagai profesi. Tak lain dan tak bukan, karena tuntutan ekonomi dan rasa putus asa dalam menjalani takdir.
Sejak usia 15 tahun, saya sudah tidak perawan lagi. Itu karena bapak tiriku yang bejad menggagahiku. Lelaki temperamental itu memperkosaku dengan ancaman akan membunuh aku dan ibuku jika mengadukan perbuatan bejadnya itu.
Karena kondisi ekonomi, ibuku, Cora (48 tahun, nama samaran) harus berjuang membesarkanku dan tiga adik yang masih kecil-kecil dengan berprofesi sebagai tukang jualan kue keliling. Kadang menjelang sore baru pulang. Dia menikah dengan Markus (45 tahun, nama samaran) saat aku berusia 14 tahun. Dia bekerja serabutan. Kadang menjadi buruh bangunan, kadang jadi tukang ojek. Dia kerap minum dan pulang ke rumah dalam keadaan mabuk.
Lelaki itu menyetubuhi ketika rumah sepi saat ibu pergi berjualan dan adik-adikku sedang bermain di luar.
Aksi bejadnya itu dilakukan berkali-kali hingga aku hamil.
Ibuku akhirnya murka dengan perbuatan Markus. Diapun dilaporkan ke polisi dan ditahan. Ibuku yang tak kuasa menahan malu jatuh sakit dan akhirnya lumpuh.
Aku yang waktu itu akan ujian, terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan sedang hamil. Dalam kondisi berbadan dua, aku harus mengambil tanggung jawab sebagai orang tua di rumah. Akupun menjadi buruh cuci dengan imbalan yang tidak seberapa. Adik-adikku yang masih duduk di bangku sekolah dasar terancam putus sekolah karena tidak ada biaya. Beruntung beberapa tetangga yang baik hati mengulurkan tangan untuk membantu kami.
Akupun melahirkan seorang anak lelaki diusia 16 tahun lebih. Otomatis tanggungan yang harus saya biayai bertambah dengan kehadiran bayiku. Sebulan lebih aku tidak bekerja sejak melahirkan karena kondisiku yang masih lemah. Untuk menyambung hidup, terpaksa aku berutang ke sejumlah tetangga. Saat merasa sudah kuat, akupun melanjutkan profesiku sebagai buruh cuci. Namun, karena sudah memiliki anak, ditambah ibuku yang kesehatannya terus menurun butuh perhatian, aku tidak maksimal bekerja. Akibatnya uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tidak cukup. Ditambah utang yang mesti kubayar, semakin lengkaplah penderitaanku. Pernah terbersir dalam pikiranku untuk mengakhiri hidup. Namun, mengingat orang-orang yang kucintai, rencana itu kuurungkan.
Dalam kondisi putus asa, seorang teman mengajakku menjadi wanita penghibur di tempat hiburan malam. Akupun menerimanya. Kendati baru beberapa bulan sudah melahirkan, akupun harus melayani para hidung belang. Ternyata, hasil yang kudapat dari menjual diri cukup lumayan dibanding menjadi seorang buruh cuci. (rhm/cha/b)

