INNALILLAHI WAINNA ILAIHI RAJIUN. Sulsel kembali berduka. Seorang pejuang angkatan 45 wafat. Brigadir Jenderal TNI (Purn) Dr (HC) H Andi Sose berpulang ke rahmatullah, Selasa (26/3).
KEPERGIAN Puang Sose untuk selama-lamanya meninggalkan banyak kenangan bagi keluarga, sahabat, handai taulan, teman, serta orang-orang yang mengenalnya semasa hidup.
Tidak sedikit orang yang datang melayat dan memberikan penghormatan terakhirnya ke tokoh pejuang ini. Mereka terlihat di rumah duka Jalan Sungai Tangka nomor 37 Makassar.
Almarhum mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Selasa pagi pukul 07.00 Wita. Ia sempat mendapat perawatan akibat penyakit jantung yang sudah lama dideritanya. Almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang pada pukul 16.00 Wita.
Kepergian Puang Sose membawa duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Sebab, pada 15 Maret lalu, almarhum baru saja merayakan ulang tahunnya yang 89 di kediamannya. Andi Sose meninggalkan istri, 15 orang anak, dan 42 cucu serta cicit.
Andi Guntur Sose, putra kelima Andi Sose menuturkan, keluarga sangat kehilangan sosok panutan pemimpin keluarga. Bahkan di saat berjuang melawan sakitnya beberapa tahun ini, semangat dan kedisiplinan selalu diterapkannya.
Seperti di tahun 2018 lalu. Puang Sose harus duduk di kursi roda akibat terjatuh. Kejadian itu mengakibatkan saraf motorik badannya menjadi lemah. Sakit itu tidak membuat dirinya kelihatan lemah dihadapan keluarga.
“Dia sosok bapak yang selalu bersemangat. Setiap ada masalah tidak pernah mengenal lelah. Semangat juangnya dia selalu turun kepada anak-anaknya. Disiplin dan lain-lain,” terang Andi Guntur di rumah duka, kemarin.
Sosok pejuangnya pun terus ditunjukkannya meski dalam kondisi sakit. ”Ada kejadian, kakak hendak menyuapinya makanan. Tapi beliau tidak mau. Bilangnya, saya ini sosok tentara,” kenang Andi Guntur.
Dirinya juga tidak pernah melupakan momen ketika ayahnya divonis dokter menderita penyakit jantung dan harus dipasangkan cincin. Namun, Andi Sose menolak untuk melakukannya. Dua kali pertama di RS Awal Bross Makassar, dan di RS Singapura. Hingga akhirnya memutuskan menjalani terapi pijat di Kuala Lumpur, Malaysia.
“Yang tidak bisa saya lupa itu waktu bapak sudah divonis oleh dokter harus dipasangkan cincin di tiga titik. Tapi beliau tidak mau. Bilangnya, siapkan saya punya mobil. Saya mau pulang. Saya tidak sakit. Yang sakit itu rumah sakit,” terangnya.
Almarhum sudah berpesan kepada anak-anak dan keluarganya yang lain untuk tidak boleh sakit jantung sama dengannya. ”Saya perhatikan beliau luar biasa orangnya. Kita mengatur tiket untuk menuju Kuala Lumpur. Sampai di Kuala Lumpur, ada datuk di sana dan diurut. Setelah itu pulang dalam keadaan sehat,” tuturnya.
Hingga pada Senin malam (25/3), tiba-tiba kondisi Puang Sose mengalami drop. Selanjutnya dilarikan ke RS Wahidin pada pukul 20.15 Wita. Tepat pukul 07.00 pagi, Andi Sose berpulang.
”Kita bawa ke rumah sakit tanpa menggunakan ambulans, karena kondisinya sudah drop sekali. Kita sebenarnya mau siapkan jet pribadi untuk terbangkan ke Singapura. Tapi saya lihat justru akan membuat penderitaan panjang untuk bapak. Makanya kita panggil saudara, putra putrinya berkumpul untuk melihat bapak yangterakhir kalinya,” ucapnya menahan haru.
Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Surawahadi yang datang melayat ke rumah duka, menyebut Andi Sose sebagai suri teladan yang patut dicontoh oleh generasi militer maupun sipil. “Almarhum patut kita kita contoh sebagai suri teladan. Karena selain seorang militer, beliau juga punya kehormatan sebagai doktor karena kehebatannya,” ujar Mayjen Surawahadi.
Chairul Tallu Rahim, seorang anak dari pejuang 45 mengaku sangat sangat kehilangan sosok panutan. “Beliau orang yang sangat disiplin. Ketika beliau mendirikan Universitas 45, saya ditugaskan sebagai salah satu struktur pejabat, yaitu wakil dekan III Fakultas Pertanian. Karena beliau ini, begitu banyak yang diberikan kepada kita, yang tidak kita dapatkan di perguruan tinggi manapun. Misalnya kedisiplinan dalam menjalankan semua tugas telah diamanahkan. Kedua, beliau sangat menghargai waktu,” tandas Chairul.
Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto juga punya kesan tersendiri terhadap sosok Andi Sose. Ia menuturkannya usai melayat di rumah duka, kemarin.
“Almarhum adalah pejuang nasional angkatan 45. Beliau juga menjadi orang tua bagi kita semua, sekaligus dapat menjadi contoh dan panutan. Saya atas nama dari Pemerintah Kota Makassar merasa kehilangan sangat besar atas berpulangnya beliau,” ujar Danny.
Dalam kesempatan itu, Danny mengajak seluruh warga untuk memanjatkan doa untuk mendiang almarhum.
“Saya mengajak seluruh masyarakat, mari bersama-sama mendoakan beliau. Beliau adalah orang tua kita, pejuang kita, panutan kita. Tokoh yang harus menjadi contoh untuk masyarakat. Insyaallah akan dikenang sepanjang masa,” tandasnya. (ita-arf/rus)

