JUALAN songkok di Jalan Hertasning Raya dilakukan Samsiah hanya di bulan suci ramadan saja. Usai lebaran, perempuan kelahiran Ujung Pandang, 26 Oktober 1985 itu melanjutkan bisnis jualan kain bendera.
Laporan: ARIF QADRY
Sudah 10 tahun, Samsiah menghidupi empat orang anaknya dengan menjadi pedagang musiman. Ketika masuk bulan ramadan, ia jualan songkok. Masuk Agustus, jualan kain bendera, dan setiap akhir tahun ia jualan terompet. Ini dilakukan setelah dirinya memutuskan untuk berhenti menjadi karyawan di warung kopi (warkop).
Bagi Samsiah, menjadi karyawan itu baik. Setiap bulan bisa menerima uang dari hasil jerih payahnya bekerja. Hanya saja itu bukan semangatnya. Sejak dulu ia senang berdagang atau bisnis. Tidak peduli apa produknya baik itu kuliner atau pakaian, semua dapat ia jual. Sedangkan motivasi dan ide untuk jualan songkok dan kain bendera bersumber dari pengunjung warkop dulu tempatnya bekerja.
“Satu tahun saya pernah bekerja di warkop jadi pelayan. Gaji yang saya dapat waktu itu lumayan buat hidup satu bulan bersama keluarga. Tetapi saya tidak senang. Saya bekerja dulunya itu untuk mencari tambahan modal buka usaha yang saya buka namun bangkrut. Sedikit demi sedikit uang terkumpul dan di waktu bersamaan saya cerita dengan pengunjung warkop di mana beliau itu sudah lama jualan songkok setiap bulan ramadan. Saya tertarik dan akhirnya saya ajak suami saya ikut usaha seperti itu juga,” sebutnya.
Sebelum masuk bulan suci ramadan pada tahun 2008 silam, Samsiah sudah mulai sibuk mempersiapkan segala kebutuhan dan perlengkapan jualannya. Termasuk uang modal beli barang. Karena uang yang ditabung dari gajinya bekerja di warkop kurang, ia pun terpaksa menggadaikan BPKB kendaraan (motor) ke pembiayaan. Adapun uang yang dipinjam pada waktu itu yaitu sebesar Rp2 juta.
Awal Februari 2008, semua keperluan Samsiah untuk berdagang sudah siap. Nomor telepon selluler pengunjung warkop yang sempat dia ambilnya pun dia panggil. Samsiah menghungi orang itu bermaksud untuk minta ditemani belanja songkok di tempat orang tersebut. Lokasinya masih berada di Kota Makassar.
“Pertama kali saya beli songkok ditemani bapak pengunjung warkop yang saya kenal itu. Saya bertiga bersama suami ku juga berangkat. Modal awal cuma empat juta dapat cukup banyak model songkok. Dan saya jual di sini (Jalan Hertasning Raya). Kalau sekarang modal sudah bertambah jadi Rp 14 Juta karena saya ambil banyak barang. Apalagikan saya sudah tahu caranya jualan yang sangat beda waktu awal-awal saya jualan,” kisahnya.
Awal jualan aku Samsiah, dirinya tidak begitu banyak menjual songkok. Hal paling lucu dirasakan di mana pada puncak penjualan songkok malam takbir dirinya sudah tutup. Semua barangnya sudah disimpan rapi di rumahnya. Itu dilakukan karena belum mengetahui jika malam takbiran adalah pencuknya.
“Awal jualan dulu cukup lucu. Orang-orang semuanya masih banyak jualan malam takbiran, saya sudah tutup tiga hari jelang itu. Saya kira sudah tidak banyak pembeli, sudah banyak masyarakat mudik. Setelah saya keliling di kota malam takbiran bersama suami, saya tercengang banyak sekali orang belanja. Dan disitu saya baru tahu kalau malam takbiran puncak aktivitas jualan dan beli pakaian,” ujar warga domisili Takalar.
Setelah tiga kali ramadan bertemu dan jualan songkok, omzet yang berhasil cukup baik dan hasilnya memuaskan. Dia membeli satu unit rumah di Kabupaten Takalar dan sebagian lagi disimpan membeli kain bendera untuk di jualnya. Di tahun itu dia berpikiran berjualan bendera di tepi jalan menjelang momentum 17 Agustus. Pendapatan itu lagi kembali diputar untuk membeli terompet dan kembang api untuk dijualnya jelang hingga sampai malam pergantian tahun baru.
Dan sampai sekarang ini, Samsiah bersama suaminya masih tetap bertahan menjadi pedagang musiman. Ia bercita-cita suatu saat nanti dari hasil bisnis nya ini dapat membuka toko permanen untuk jualan. Tidak lagi terus ada berjualan di tepi jalan dan berhadapan dengan Satpol PP Kota Makassar.
“Sekarang model songkok yang saya jual bertambah, motifnya juga terbaru dengan harga yang tergolong murah. Untuk model peci haji dan kopiah hitam bahan kualitas baik saya pasarkan dari harga Rp 10.000 sampai Rp 90.000,” tutupnya.
Di waktu malam hari mulai pukul 17:00 WITA hingga pagi pukul 07:00 WITA, suami Samsiah yaitu Kaharuddin yang berjaga dan jualan. Dan paginya sejak pukul 07:00 WITA sampai malam pukul 17:00 WITA, giliran Samsiah jualan. Apa yang dilakukan keluarga ini untuk mengejar omzet dan berkah selama ramadan sebagai pedagang musiman jualan songkok.
Cukup banyak varian model dan motif songkok yang di jual Samsiah di lapaknya, mulai model peci haji hingga kopiah hitam dengan bahan berkualitas terbaik. Untuk harganya relatif murah, tergantung kualitas barang. Dari harga Rp10.000 sampai Rp90.000.
“Pendapatan tidak menentu, kalau hari-hari seperti ini masih sepi. Paling laris menjelang Idulfitri atau malam takbiran yang biasanya saya bisa bawa pulang Rp3 juta. Berbeda hari-hari biasa paling banyak Rp 400.000 saya bawa pulang. Tapi alhamdulillah menguntungkan juga,” sebut Samsiah kepada penulis. (*)

