MAKASSAR, BKM — Sudah sepekan lebih, tabung melon atau elpiji 3 kg mengalami kelangkaan di lapangan.
Warga mengeluh jika bahan bakar bersubsidi itu nyaris hilang di lapangan. Jika pun ada yang ditemukan, harganya melonjak drastis dari harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditentukan pemerintah.
Untuk tingkat pangkalan, harga normal elpiji sekitar Rp15.500. Sementara di tingkat eceran, seharusnya hanya berkisar Rp17.500 hingga Rp18.000 saja. Namun kondisi saat ini, kalaupun menemukan elpiji 3 kg, di tingkat eceran, harganya naik drastia hingga Rp25 ribu.
Sebenarnya, untuk di tingkat pangkalan, distribusinya tetap normal seperti biasa.
Salah satu agen penjualan gas elpiji 3 kg di Sarangan, Daya, Kecamatan Biringkanaya, Dg Ramang mengakui sudah seminggu yang lalu pasokan untuk agen eceran di Pertamina sudah dibatasi. Bahkan dirinya hanya mendapatkan tiga tabung gas dalam seharinya, dimana sebelumnya tidak ada batasan seperti saat ini.
“Sudah sulit memang kita dapat gas 3 kg, kita saja agen ini masing-masing punya jatah 3 tabung saja sehari. Dulu mau-mau ta ambil eceran berapa, tidak tau juga kenapa, tapi memang sedikit pasokan yang datang,” ungkapnya saat ditemui di warungnya, Kamis (25/7).
Akibat kelangkaan ini, kata Dg Ramang, sudah seminggu ini warga berebut membeli gas 3 kg. “Ini saja sudah lima orang datang mau beli, tapi kita kehabisan juga kasian, ini saja sudah dua hari kita cek kosong terus di Pertamina,” ujarnya.
Sementara itu, Warga Jalan Asal Mula, Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Wahyuni membeberkan sudah mendatangi beberapa agen eceran, namun tidak menemukan adanya pasokan elpiji 3 kg. Bahkan Pertamina sendiri tidak bisa menjamin adanya pasokan gas elpiji yang masuk setiap hari.
“Dari pagi saya cari ini, tapi tidak dapat. Keliling-keliling dari ujung tidak ada semua, habis katanya. Ini saya baru dapat jauh kesana harga Rp20 ribu, kalau mau bilang susah, susah ki memang karena kalau begitu terus kita mau masak apa di rumah kalau tidak ada yang jual,” katanya.
Hal senada dikatakan Ike warga Tamalate, ia mengaku sulit mendapatkan elpiji 3 kg setelah seharian mencari, bahkan sampai ke tengah kota. Ia mendapatkan dengan harga yang lebih tinggi, Rp20 ribu per kilogram, dimana biasanya ia mendapatkan harga Rp18 ribu di agen ecer dan harga Rp15 ribu di Pertamina langsung.
“Ini saya beli Rp20 ribu di toko pengecer, biasanya hanya Rp 18 ribu ji kalau di Pertamina Rp15 ribu. Mau diapa, dari pada orang di rumah kelaparan kita beli saja karena jarang-jarang ada, semua habis yang 3 kg,” tuturnya.
Oleh karena itu, dirinya berharap, secepat mungkin bisa ditangani oleh pihak pemeritah dan Pertamina. Pasalnya, jika kelanggaan gas elpiji 3 kg ini terus berlangsung harga di penjual eceran terus melambung naik.
Taming, warga Kecamatan Tallo juga mengaku sudah hampir setengah jam keliling mencari gas isi ulang 3 kilogram. Semua agen atau pengecer gas elpiji tempat langganannya membeli gas, stoknya habis alias kosong.
“Saya sudah setengah jam keliling cari penjual gas tapi kosong. Ada tadi sempat saya dapat di sekitaran Pasar Pannampu, tapi langsung habis juga. Orang antrian di sana beli gas. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini susah dapat beli gas,” keluhnya.
Dia berharap, pemerintah dan pihak pertamina menyikapi kondisi yang ada dan menyelesaikan. Sehingga keresahan masyarakat tidak berangsur lama. Khsusnya masyarakat yang menggunakan gas subsidi 3 kilogram.
“Tentu saya berharap pemerintah dan pertamina harus segera selesaikan ini. Karena orang di rumah mau masak, pasti terganggulah kalau gas elpiji susah,” harapnya.
Menyikapi kondisi itu, Ahmad, pengelola pangkalan elpiji 3 kilogram Cahaya Sukses Teknik Utama membantah terjadi kelangkaan.
Menurutnya, selama ini stok elpiji subsidi yang diterimanya dari Pertamina cukup banyak. Dia mensinyalir kelangkaan terjadi di tingkat pengecer.
Dalam sebulan, pihaknya mendapat jatah 80 hingga 100 tabung dengan harga ecer resmi 15.500 rupiah.
“Jadi tidak ada kelangkaan. Sebenarnya stok cukup aman. Cuma pengecer yang kadang-kadang bikin kelangkaan. Kalau di pangkalan itu aman. Ada terus,” ungkap Ahmad.
Sementara itu, Sales Eksekutif LPG Rayon II Wilayah Sulawesi Selatan bagian selatan, Muhammad Rizal mengatakan, pihaknya sebagai operator menyalurkan elpiji subsidi sesuai kuota yang diberikan pemerintah. Tak ada pengurangan.
Namun, kata Rizal, pihaknya memang meminta pangkalan agar membatasi pembelian oleh pengecer. Batasan pembeliannya yaitu 30 persen dari alokasi yang ada.
Kebijakan tersebut bertujuan untuk mengarahkan masyarakat membeli elpiji subdisi di pangkalan resmi serta mencegah permainan harga di tingkat spekulan.
Pihaknya mengakui jika penggunaan elpiji subdisi ini masih belum sepenuhnya dinikmati masyarakat miskin.
Berdasarkan hasil penelusuran, pihaknya mendapati konsumen elpiji subsidi sebagian besar adalah kalangan menengah ke atas bahkan industri rumahan.
Khusus di Makassar, konsumsi elpiji subsidi ini bahkan menembus Rp55 ribu tabung per hari. (rhm-ita)

