pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Stok Obat Menipis, Bagimana Nasib Penderita

MAKASSAR, BKM — Program pencegahan, penanggulangan, serta pengobatan HIV/AIDS hingga saat ini belum maksimal. Khususnya dari pemerintah, baik di tataran pusat hingga ke daerah.
Gerakan untuk penanggulangan HIV/AIDS, termasuk melakukan pendampingan terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) lebih dominan dilakukan oleh LSM atau NGO dengan mengandalkan dana dari luar negeri.
Hal itu memunculkan kekhawatiran, bagaimana jika nantinya tidak ada lagi global fund yang ingin membiayai kerja-kerja orang-orang yang peduli terhadap HIV/AIDS tersebut. Sementara, angka pengidap HIV/AIDS setiap tahun mengalami kenaikan.
Menurut Tengku Rodhan dari Yayasan Peduli Kelompok Dukungan Sebaya (YPKDS), setiap tahun banyak persoalan yang dihadapi para pendamping, maupun orang-orang yang terlibat dalam penanganan HIV/AIDS.
Dia memaparkan, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Makassar, hingga Maret 2019, komulatif penderita HIV/AIDS yang masuk dalam perawatan sebanyak 9.912 orang. “Angka itu sudah termasuk penderita HIV maupun AIDS,” ungkap Tengku Rodhan dalam diskudi mitra media terkait HIV/AIDS, Senin (19/8).
Dari angka tersebut, tercatat sebanyak 823 penderita yang meninggal dunia. Sementara berdasarkan hasil pemeriksaan, sebanyak 6.792 orang di antaranya memenuhi syarat atau direkomendasikan untuk mengonsumsi jenis obat yang disebut antiretroviral (ARV).
ARV bekerja dengan menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri, dan mencegah virus HIV. Namun sayang, kata Tengku Rodhan, tidak semua orang yang diharuskan mengonsumsi ARV setiap hari.
Berdasarkan data yang ada, dari angka tersebut, sebanyak 5.199 ODHA yang pernah memulai ARV. Namun, lagi-lagi tidak seluruhnya menjalani rutinitas konsumsi ARV tersebut. Ada 72 orang yang terdeteksi menyetop ARV. Sementara 795 lost follow up alias tidak terdeteksi lagi oleh para pendamping.
Lebih jauh dikemukakan, yang juga menjadi persoalan saat ini adalah kekhawatiran terhadap stok ARV yang disiapkan pemerintah dan selama ini didistribusikan untuk penderita HIV/AIDS.
Berdasarkan informasi, stok ARV semakin menipis. Hanya mampu bertahan hingga Oktober. Sementara untuk pengadaan selanjutnya, pemerintah harus melewati proses tender terlebih dahulu.
“Bagaimana jika kemudian ARV sudah habis, sementara proses pengadaannya belum selesai? Bagaimana nasib para penderitanya? Pemerintah harus serius memperhatikan ini. Karena sejak awal Januari tahun ini, informasi jika stok ARV menipis sudah terdengar,” tandasnya.
Sementara itu, Akbar dari Jaringan Indonesia Positif (JIP) lebih mengkhawatirkan keseriusan pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota dalam penanganan HIV/AIDS.
“Selama ini, yang banyak bergerak kan LSM, ormas, NGO, dan lembaga-lembaga di luar pemerintah. Saat ini, seperti JIP misalnya, beruntung karena masih mendapat donasi dari Global Fund. Pertanyaannya, apakah pemerintah pusat maupun daerah mempersiapkan skema atau program maupun skenario jika pendanaan luar negeri disetop?” cetus Akbar.
Dia hanya berharap penanganan terhadap penderita HIV/AIDS bisa berkesinambungan, agar peluang hidup mereka bisa lebih baik. Selain itu, optimisme para penderita untuk tetap menjalani hidup lebih baik bergantung pada itikad baik semua stakeholder terkait. Termasuk pada orang-orang yang mendedikasikan diri untuk persoalan ini. (rhm/rus)



×


Stok Obat Menipis, Bagimana Nasib Penderita

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar