MAKASSAR, BKM — Alumni Politeknik Maritim (Polimarim) AMI Makassar kini dituntut untuk memiliki sertifikat kompetensi. Hal itu erat kaitannya dengan tuntutan dunia kerja, yang menginginkan luaran pendidikan tinggi vokasi telah menguasai keterampilan di bidangnya.
”Kami mendukung sepenuhnya Polimarim AMI untuk menyelenggarakan training, dan membekali para alumninya dengan sertifikat kompetensi. Karena dengan sertifikat tersebut, akan memudahkan untuk diterima di dunia kerja,” kata Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IX Sulawesi Prof Dr Jasruddin pada ramah tamah wisudah Polimarim AMI di Upper Hills Convention Hall, Sabtu (14/12).
Ia menjelaskan, saat ini di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah dibentuk satu direktorat jenderal (ditjen) baru yang khusus mengurusi pendidikan vokasi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
”Dari keseluruhan perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia saat ini, 25 persen di antaranya adalah vokasi. Kita sangat berharap alumni perguruan tinggi vokasi ini bisa memberi kontribusi dalam mengatasi persoalan lapangan kerja. Setelah selesai mereka bisa langsung bekerja. Misalnya berlayar. Setelah empat atau lima tahun bekerja, mereka sudah bisa memiliki kapal dan membuka lapangan kerja baru,” ujar Prof Jasruddin.
Sebelumnya, Kepala Pusat Pengembangan (Kapusbang) Sumber Daya Manusia (SDM) Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan I Nyoman Sukayadnya, menegaskan bahwa saat ini tidak ada lagi perbedaan antara pendidikan tinggi swasta dan negeri. Status ijazahnya sama. Sehingga tidak boleh ada perlakuan yang berbeda.
”Kalau di luar sana anda mendapatkan perlakuan yang berbeda karena status ijazah, laporkan ke saya. Kita harus mengubah hal-hal yang tidak sesuai demi peningkatan kualitas SDM,” tegas I Nyoman yang menjadi inspektur upacara dalam wisuda.
Ia juga mendorong para taruna taruni Polimarim AMI untuk terus mengembangkan diri guna mendapatkan hal-hal baru. Sehingga bisa memiliki keterampilan serta kompetensi yang memadai dan dapat memenangkan persaingan di dunia kerja, khuusnya industri pelayaran.
Sebanyak 705 perwira pendidikan transportasi laut mengikuti wisuda dan pelantikan untuk tahun akademik 2019/2020. Mereka berasal dari tiga program studi diploma III. Masing-masing Program Studi Manajemen Pelabuhan 136 orang, Prodi Nautika 288 orang, dan Prodi Permesinan Kapal 281 orang.
Dengan wisuda ini, alumni Polimarim AMI telah mencapai 11.490 orang. Mereka tersebar dan bekerja di seluruh Indonesia, bahkan luar negeri.
Sembilan orang terpilih sebagai wisudawan terbaik. Untuk Prodi Permesinan Kapal, masing-masing Muh Arif Imam Riansyah dengan IPK 3,47, Ahmad Munawir IPK 3,36, dan M Idris dengan IPK 3,34. Prodi Studi Nautika, terbaik I Selfianda dengan IPK 3,24, M Parawangsa 3,24, dan Rati Purawati IPK 3,21. Sementara pada Prodi Manajemen Pelabuhan, wisudawan terbaik I ditempati Andi Melly Tenri Ola dengan IPK 3,83, Hasriana R IPK 3,75, dan Andi Nur Alimah dengan IPK 3,74.
Direktur Polimarim AMI Makassar Amrin Rani dalam laporannya, menyebut Program Pendidikan Transportasi Laut Polimarim AMI mengelola tiga pendidikan diploma III, ditambah satu diploma IV untuk Prodi Transportasi Laut.
”Penyelenggaraan prodi Transportasi Laut ini dimulai tahun 2019. Di tahun 2020 direncanakan menyelenggarakan Diklat Tanker Tingkat Dasar dan Lanjutan sesuai STCW dan amandemennya,” ujarnya.
Dikatakan pula oleh Amrin, apa yang menjadi harapan ketua LLDikti agar alumni Polimarim dilengkapi dengan sertifikat kompetensi, saat ini mulai direalisasikan. Sebagian dari mereka yang diwisuda telah memilikinya.
Meninggal Sebelum Wisuda
Ada suasana haru yang melingkupi wisuda Polimarim AMI kali ini. Seorang alumninya bernama Muhammad Maulana berpulang ke rahmatullah beberapa hari menjelang momentum yang telah ditunggu-tunggunya itu. Wisudawan kelahiran Palembang, 2 September 1994 ini menempuh perkuliahan di Program Studi (Prodi) Permesinan Kapal.
Untuk penerimaan ijazah dan sertifikat almarhum Maulana, dilakukan oleh neneknya Hj Junaedah, didampingi seorang tantenya Hadijah. Maulana merupakan sulung dari empat bersaudara pasangan suami istri Usman dan Rahma.
Dari sang nenek, diperoleh informasi kalau Maulana meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah. Ia mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Bhayangkara, Senin (11/11) setelah kurang lebih seminggu mendapat perawatan intensif.
”Waktu di rumah sakit, dia selalu ingatkan kalau toga untuk wisudanya masih ada di kampus dan belum diambil. Termasuk jadwal wisudanya yang dilaksanakan hari ini,” tutur Hj Junaedah terharu.
Direktur Polimarim AMI Amrin Rani menyerahkan langsung ijazah dan sertifikat almarhum Maulana kepada neneknya. Tak lupa ia menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas kepergian almarhum. (*/rus)

