pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Jualan Jalan Kotek Demi Hidupi Adik dan Nenek

POLEWALI, BKM — Menjadi anak tertua dari empat orang bersaudara, tentu menjadi beban berat bagi Nurhayati. Pasalnya, diusia yang baru saja tamat sekolah menengah atas (SMA), Nur begitu gadis ini akrab disapa, harus mencari rezeki sendiri untuk menghidupi tiga adiknya dan neneknya.
Beban berat dan himpitan ekonomi telah dirasakan Nurhayati ketika berusia sembilan tahun. Untuk menghidupi ketiga adiknya dan juga neneknya, Nur harus menjajakkan penganan ‘jalan kotek’. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan cukup jauh. Perjalanannya tiap hari dimulai dari depan lapangan sepakbola Rea Barat hingga jembatan Kampung Tangnga Matakali.
”Berjualan jalan kotek ini harus saya lakoni tiap hari sepulang sekolah. Karena kalau tidak, Nur bersama nenek dan adik adiknya tidak akan makan. Jadi keuntungan dari berjualan itulah digunakan untuk membeli beras, lauk-pauk dan kebutuhan lainnya.
Beban yang seharusnya ditanggung oleh seorang bapak dan ibu, terpaksa harus ditanggung Nur seorang diri. Saat ditemui di depan rumah mantan Kepala Desa Duampanua, Kecamatan Matakali, Nurhayati mengutarakan panjang lebar perjalanan hidupnya. ”Ibu ke Saudi Arabia, bapak saat ini tidak diketahui dimana rimbanya. Saya bersama tiga orang adik hidup bersama nenek yang sudah berusia tua. Kini saya sudah tamat SMA, tapi tetap harus jualan jalan kotek. Terus terang pak, saya terkadang risih juga jika bertemu dengan mantan teman SMA saat menyusuri jalan ini. Tapi semua ini saya lakoni demi adik-adik saya,” tuturnya dengan nada suara sedih.
Nur mengakui belakangan ini baru mengetahui kalau ibunya sudah menikah di Saudi Arabia. Begitu pula dengan bapaknya yang telah menikah di Takalar. ”Kalau dengan bapak saya tidak pernah jumpa lagi sejak pergi dulu. Kalau ibu saya pernah satu kali ketika kontrak kerjanya di Saudi Arabia telah habis. Ia ingin menitipkan anaknya dari suami barunya kepada saya. Tapi saya menolaknya. Saya sampaikan, mengurus tiga orang saja sudah minta ampun. Saya adalah anak pertama, sehingga tiga adik saya menjadi tanggung jawab saya. Sesungguhnya berjualan jalan kotek sepanjang jalan hingga jembatan dengan berjalan kaki, kadang juga saya malu. Karena saya sudah beranjak remaja. Tidak ada seusia saya yang berjualan seperti ini melewati jalan raya. Tapi apa boleh buat, demi adik-adik dan nenek saya. Sesungguhnya saya ingin kuliah. Tapi dengan berjualan jalan kotek, apa mungkin,” ujarnya sembari menata jalan kotek dagangannya yang disimpan di dalam keranjang. (dar/mir/b)



×


Jualan Jalan Kotek Demi Hidupi Adik dan Nenek

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar