MAKASSAR, BKM — Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah, menegaskan bahwa secara umum pemerintah pusat belum menyetujui daerah ini menerapkan kenormalan baru (new normal). Sebab syarat untuk menerapkan kebijakan tersebut belum dipenuhi oleh Sulsel.
Suatu wilayah dibolehkan menerapkan new normal jika terbukti bahwa penularan covid-19 sudah bisa dikendalikan. Situasi bisa dikatakan terkendali bila angka reproduksi (Rt)di bawah 1.
Meski begitu, Nurdin mengaku saat ini angka Rt saat di Sulsel sudah berada di angka 0,99. Beberapa hari terkahir ini menunjukkan kasus positif tidak terlalu signifikan. Sementara angka kesembuhan terus meningkat.
“Makanya saya bilang kita tidak boleh terpengaruh dengan R0 yang dimiliki. Tapi kita pastikan tidak lagi ada transmisi lokal yang terjadi,” ucap Nurdin Abdullah di kediamannya, Senin (1/6).
Strategi yang dilakukan pemprov untuk memasuki new normal atau tatanan kehidupan baru ialah mentracing dengan cepat penyebaran virus di tiap daerah. Nurdin Abdullah optimistis tidak ada lagi penambahan klaster baru di Sulsel. Program rapid test dan swab PCR akan dimasifkan. Wisata covid pun menjadi wadah yang dianggap bisa menekan penyebaran virus tersebut.
“Kalau penyebaran lewat transmisi lokal sudah kita tekan, meskipun 100 persen belum terlaksana. Masih ada enam daerah yang betul-betul kita fokus untuk melakukan tracing. Harus ada langkah yang lebih ketat dilakukan, karena bagaimanapun juga kita ingin pastikan bahwa betul transmisi lokal sudah tidak bisa terjadi,” ucapnya.
Menurut Nurdin, akan dilakukan rapid test secara massal. Ia sudah mengontak Kadis Kesehatan Sulsel untuk pelaksanaannya.
Nurdin menarget, warga yang terinfeksi corona, baik ODP maupun OTG terkumpul atau dirampungkan pada 6 Juni mendatang. Mereka akan diikutkan program wisata covid di hotel. Dengan begitu, kasus covid-19 bisa dikendalikan dan Sulsel siap untuk menyambut tatanan kehidupan baru.
“Kita sudah rencana untuk menerima klaster baru dan transmisi lokal. Makanya, tanggal 6 (Juni) kita temukan orang-orang itu. Diimbau dan didorong sesegara mungkin ODP dan OTG dipercepat untuk dikarantina. Kalau sudah selesai semua, berarti R0 kita sudah turun,” paparnya.
Kata mantan bupati Bantaeng dua periode ini, penetapan langkah-langkah di lingkungan kerja dan fasilitas-fasilitas umum sedang digodok. Mereka tetap melaksanakan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah dan WHO.
Nurdin bahkan merencanakan penjual di pasar-pasar tradisional dipindahkan ke pinggir jalan dengan mendesain penggunaan bahu jalan untuk menjual sayuran dan lain-lain. Jarak antarpenjual yang satu dengan lainnya akan diatur sedemikian rupa, sehingga pembeli tidak perlu lagi berdesak-desakan di pasar.
“Kemarin saya habis dari lelong Paotere. Di sana itu betul-betul tidak berjarak. Tidak ada physical distancing, apalagi memakai masker. Kalau bisa pasar dipindahkan ke jalan, tidak apa-apa untuk menghindari kontak,” tuturnya.
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pusat mengizinkan 102 daerah menerapkan tatanan kehidupan normal yang baru. Daerah tersebut tersebar di 23 provinsi di Indonesia.
Khusus di Provinsi Sulsel, hanya satu kabupaten diizinkan menerapkan new normal, yakni Kabupaten Toraja Utara. Pemberian kewenangan didasari atas kriteria epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan sesuai rekomendasi Badan Kesehatan Dunia atau WHO.
12 Kabupaten Aman
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel dr Ichsan Mustari, menyebut sampai saat ini sudah ada 12 kabupaten di Sulsel yang aman dari covid-19.
Hal ini mengacu angka reproduksi efektif (Rt) yang sudah di bawah satu.
“Sebanyak 12 wilayah yang dinyatakan aman dan dikelompokkan dalam Rt di bawah satu dengan jumlah pasien positif nol,” kata Ichsan.
Menurutnya, kasus covid-19 semakin menurun, dibuktikan dengan adanya 12 kabupaten yang dinyatakan aman.
“Sampai saat ini angka kesembuhan semakin tinggi dan kasus covid-19 semakin menurun. Bahkan angka reproduksi (Rt) virus pun menurun pada posisi di bawah satu, yang sebelumnya capai angka 3,8,” jelasnya.
Kabupaten yang telah dinyatakan aman dari covid-19 yakni Bantaeng, Barru, Bulukumba, Enrekang, Jeneponto, Selayar, Pangkep, Tana Toraja, Toraja Utara, Wajo, Palopo, dan Pinrang.
Ichsan juga mengungkapkan bahwa pernyataan Gubernur HM Nurdin Abdullah tentang berakhirnya pandemi corona pada akhir Mei 2020, dapat dimaknai sebagai proses penanganan covid-19 segera berakhir.
“Pernyataan itu berlandaskan pada indikator bahwa pada pertengahan Mei 2020, kurva orang yang terpapar covid-19 di Sulsel melandai. Jumlah pasien yang sembuh mencapai 39 persen lebih. Ini rasio tertinggi secara nasional,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, covid-19 memang tidak bakalan habis sama sekali sampai vaksin dan obat-obat ditemukan. Tetapi bisa ditangani secara medis dalam kondisi normal.
Jumlah persediaan kamar rumah sakit, dikatakannya jauh melebihi cukup. Demikian juga dokter dan fasilitas untuk karantina terpusat. Indikator-indikator tersebut dan sistem penanganan yang tertata baik dilakukan terpusat di Makassar ini, diharapkan bahwa pandemi covid-19 di Sulsel selesai akhir Mei 2020.
“Pandemi covid-19 memang berangsur melandai. Kejadian luar biasa atau pandeminya yang diharap selesai pada akhilir Mei 2020. Virus covid-19 tidak akan hilang, tetapi menjadi sakit biasa. Bukan lagi kajadian luar biasa atau pandemi,” tandasnya. (nug)

