MAKASSAR, BKM — Orang gila masih terlihat berkeliaran bebas di Kota Makassar. Kemarin, BKM masih mendapati dua orang gila di Jalan AP Pettarani. Satu anak muda mengenakan baju kemeja putih layaknya anak sekolah, dan yang satu berpakaian kumal dan bercelana pendek robek.
Meski kondisi ini tidak meresahkan warga, tetapi keberadaannya bisa mengurangi keindahan Kota Makassar. Sebenarnya, keberadaan orang gila dan orang-orang terlantar merupakan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah, seperti yang sudah tertera dalam UUD 1945.
Sejumlah pengguna jalan yang ditemui di Jalan Pettarani ada yang kasihan adapula yang mendesak Pemerintah Kota Makassar untuk menertibkan mereka.
Rasyid, warga kota menegaskan, keberadaan orang gila beberapa hari terakhir ini perlu ditertibkan. Selain tidur disembarang tempat rumah dan ruko warga, orang gila ini juga sering tidur di tempat umum seperti masjid, musala, halte dan sekolah-sekolah yang tidak memiliki pagar.
Tidak hanya di Jalan AP Pettarani, jelas Rasyid, orang gila juga kerap terlihat di Jalan Urip Sumoharjo, Ahmad Yani, Sudirman, Ratulangi dan sejumlah ruas jalan lainnya.”Kita kasihan melihat mereka, seharusnya ada perhatian serius dari pemerintah termasuk pihak Rumah Sakit Jiwa. Mereka juga manusia seperti kita,” ujar Rasyid.
Menanggapi permasalahan itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Makassar, H Yunus menegaskan, pihaknya tetap melakukan penertiban terhadap domain Dinas Sosial seperti orang gila, pengemis, anak jalanan dan lainnya.
Hanya saja, tim Patroli mengalami kendala karena kebanyakan mereka terutama orang gila berpindah-pindah tempat. Meskipun demikian kami tetap berupaya melakukan penertiban.”Kita juga meminta warga yang melihat mereka di jalan silahkan ke Call Center kami di 081356719919,” tegas H Yunus, Kamis (21/1).
H Yunus menambahkan, tahun 2015 lalu, sedikitnya 205 orang gila yang berkeliaran di dalam kota.” Data per 31 Desember 2015, psikotik orang gila sebanyak 205 orang yang berkeliaran di dalam kota,” tambah Yunus di ruang kerjanya.
Data orang gila itu didapatkan dari hasil patroli yang dilakukan setiap hari. Selain itu, juga dari laporan masyarakat melalui call centre kantornya. “Biasa kita dapat sampai tujuh orang perhari,” tambahnya.
Untuk menangani itu, jelas Yunus, pihaknya bekerja sama dengan rumah sakit jiwa untuk dilakukan perawatan dan pembinaan.
Pihaknya juga berupaya untuk mengembalikan kepada kelurganya walaupun di luar daerah. hanya saja, hambatan Dinsos, rata-rata mereka tidak tahu alamat dan keluarganya.
Menurutnya, hadirnya orang gila di dalam Kota Makassar berasal dari berbagai daerah di luar Makassar, kebanyakan dari mereka (orang gila) berusia 30 tahun keatas yang didominasi oleh kaum laki-laki.
Pertengahan bulan dan akhir tahun merupakan moment yang urbanisasi orang gila di Makassar.”Bulan-bulan 6 dan 7 paling banyak. Akhir tahun juga,” ucapnya. (man/b)

