MASIH ingat dengan Rizal, bocah usia 11 tahun penjual jalangkote yang menjadi korban perundungan? Anak lelaki itu tak lagi menjalani pekerjaannya. Sang orangtua trauma dengan perlakuan yang pernah menimpa putranya dan dilakukan sekelompok pemuda di Kampung Bonto-bonto, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep.
BKM kembali menyambangi kediaman orangtua Rizal, Rabu (8/7). Tujuannya untuk melihat seperti apa kondisi terkini dari anak bertubuh subur itu.
Kurang lebih setengah jam menunggu kedatangannya. Karena bocah kelas V SD Negeri 4 Tala itu tengah pergi bermain dengan rekannya.
Tidak terlalu banyak yang berubah pada fisik rumah yang terletak di ujung lorong kecil Kampung Tala, Kelurahan Talaka, Kecamatan Ma’rang ini. Hanya dinding sebelah barat dan bagian dapur yang berubah karena sudah ‘disulap’ menjadi bangunan permanen. Dinding itu sudah ditembok.
Tetapi kondisi dinding sebelah timur berbanding terbalik. Masih mempertahankan bangunan lama yang terbuat dari seng.
Saat bertandang ke rumah berukuran 6 x 12 meter itu tampak sedang ramai. Ada beberapa ibu-ibu yang juga kerabat Rizal sedang membuat persiapan makanan. Beberapa ibu lainnya sibuk mengantar makanan yang terdiri dari berbagai menu ke rumah tetangga.
Ketika baru tiba dirumah itu Musakkir, ayah kandung dari Rizal menyambut ramah. Dia menceritakan kalau keluarganya akan menggelar hajatan kecil-kecilan.
“Kami mau menggelar doa syukuran biasa. Sabtu depan dilanjutkan untuk acara aqiqah adiknya Rizal yang sudah berumur sebulan,” ujar Muzakkir.
Muzakkir mulai membuka cerita kalau bedah rumahnya hingga berbentuk semi permanen karena menerima bantuan materil dari PLN. Selanjutnya proses bedah rumah dilakukan aparat TNI dari Kodim 1421 Pangkep.
“Sumbangan materil bahan bangunan dari PLN. Sementara proses bedah rumah dipimpin Dandim 1421 Pangkep Letkol Inf Adi Sabaruddin. Bantuan ini yang terbaru untuk putra kedua kami Rizal,” tuturnya.
Ketika berbincang dengan ayah tiga putra ini, tetiba dari ujung lorong muncul Rizal yang berjalan sembari menyingsingkan baju kaos berlogo PSM hingga kelihatan perutnya. Bocah ini mengelus perutnya, sambil berteriak dalam bahasa Bugis, malupu’na (saya lapar). Waktu sudah memasuki duhur.
Saat diajak untuk difoto bersama ayahnya, Rizal langsung berucap. ”Kalau mau foto saya, bayar Rp500 ribu,” katanya dengan mimik serius.
Beberapa kali Muzakkir menenangkan anaknya yang terus berteriak. ”Elokka manre, malupu’na (saya mau makan, saya lapar,” ujarnya. Setelah itu dia pun menuruti ajakan untuk difoto bersama bapaknya, beserta sepeda yang dulu dipakainya ketika jadi korban perundungan.
Dari penuturan Muzakkir, keluarganya memperoleh hikmah besar setelah putra keduanya jadi korban perundungan. ”Anak saya (Rizal) banyak menerima bantuan beasiswa yang dikirim langsung melalui rekening. Termasuk ada yang memberikan bantuan sepeda sebanyak lima unit,” terangnya.
Dari buku rekening yang dipegang oleh istri Muzakkir, ada bantuan yang masuk sekitar Rp300 juta. ”Jumlah ini belum termasuk sumbangan dari Pak Gubernur Rp20 juta. Ada juga di atas Rp10 jutaan dari Pak None, adiknya Pak SYL. Ada juga sumbangan dari Hj Rismayani, istrinya Pak Bupati Pangkep dan beberapa istri pejabat dan pengusaha yang datang memberikan sumbangan,” beber Muzakkir.
Meski begitu, lelaki yang berprofesi sebagai pabentor ini juga menceritakan bila tidak sedikit pihak yang pernah menjanjikan beasiswa kepada Rizal, namun sampai saat ini belum sempat dikirimkan. Tetapi Muzakkir tidak ingin mempermasalahkan hal tersebut.
“Apa yang diberikan dan disumbangkan berbagai pihak, merupakan rezeki yang patut kami syukuri. Semua ini hikmah yang sangat bernilai, dan kami sekeluarga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang memberikan bantuan dàn perhatian,” imbuhnya dengan nada haru.
Muzakkir menambahkan jika pihak keluarga yang melakukan perundungan terhadap Rizal pernah datang untuk meminta maaf. “Kami sekeluarga telah menerima permohonan maàf tersebut. Tetapi proses hukum tetap saja berjalan di tangan penyidik,” tandasnya. (udi/c)

