LAPORAN FACHRUDDIN PALAPA — Takalar memiliki sejumlah destinasi wisata pantai yang eksotik di Sulawesi Selatan. Posisinya yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar menjadikan daerah ini mudah dijangkau. Sepanjang pantai di Galesong merupakan salah satu alternatif wisata pantai di Sulsel yang paling dekat di Makassar. Dari ibu kota provinsi Sulsel itu, Galesong bisa ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 30 menit.
Beberapa tahun terakhir ini, pemkab Takalar memang genjot mengembangkan wisata pantainya, terutama di Galesong. Partisipasi swasta juga berkontribusi positif dalam pengembangan wisata pantai di daerah ini. Sejumlah tempat wisata modern telah berdiri di sepanjang pesisir Galesong. Sebut misalnya objek wisata Pantai Sampulungan dan Bintang Galesong. Kedua destinasi yang dikelola swasta itu merupakan tempat wisata menarik di Galesong. Keduanya juga memiliki hotel dan cottage bagi tamu yang ingin menginap.
Galesong memang berada di kawasan pesisir Kabupaten Takalar. Tidak mengherankan jika sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Bukan nelayan biasa. Nelayan-nelayan di Galesong ini kerap dicap sebagai nelayan “ekstrem”. Disebut ekstrem karena mereka rela berbulan-bulan di laut dalam berburu ikan terbang (tuing-tuing). Patorani, begitu mereka sering disebut. Ya nelayan patorani.
Secara etimologis, kata patorani berasal dari kata torani atau to barani yang berarti orang berani. Mengapa dinamakan demikian karena patorani itu adalah orang-orang yang berani. Ikan tuing-tuing ini ditangkap jauh keluar (jauh dari tepi pantai) dan berhari-hari. Kalau nelayan itu tidak punya keberanian, maka tidak akan dapat ikan ini.
Konon menurut sejarah, dahulu, ketika orang Galesong pulang berperang dari Jawa, para pasukan hampir kelaparan di atas kapal karena persediaan makanan yang kurang. Hingga pada suatu ketika, pasukan yang kelaparan ini melihat kawanan ikan terbang beterbangan di atas permukaan air.
Untuk menghargai profesi para pemberani di Galesong ini, pemerintah kabupaten Takalar setiap tahun menggelar Festival Galesong. Banyak kegiatan yang dikemas dalam festival ini. Selain lomba balap perahu, juga digelar ritual patorani. Ritual ini selalu mengundang daya tarik wisatawan. Tidak hanya wisatawan domestik, tetapi juga beberapa pelancong mancanegara kerap menyaksikan ritual patorani di perairan Galesong.
Ritual patorani biasanya digelar selama seminggu. Ritual dimulai dari accini allo (melihat hari-hari yang baik untuk turun ke laut), abbeso biseang (menarik perahu dari pantai ke daratan), annisi bbseang (prosesi untuk mempersiapkan peralatan memancing selama enam hari), apparada (mengecat kapal agar terlihat lebih terang), angngalle leko kaluku (mempersiapkan daun kelapa sebagai pembungkus telur ikan terbang), dan appanai pakkajang (mengisi perahu dengan persediaan).
Upacara terbesar dari ritual patorani yaitu appanaung ri je’ne (mendorong perahu nelayan ke laut dan menyanyikan lagu-lagu tradisional). Appanaung ri je’ne dimaksudkan untuk memulai perahu nelayan ke laut sebagai pertanda musim berburu ikan terbang sudah tiba. Acara kemudian dilanjutkan dengan appassili (prosesi untuk mengapung persembahan ke laut) dan allappasa (melepaskan nelayan ke laut dengan gelombang keluarga).
Bupati Takalar, Burhanuddin Baharuddin mengatakan ritual patorani sudah menjadi event wisata Takalar. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahun sebelum neyalan patorani di Galesong memulai aktivitasnya berburu ikan terbang. Bupati mengakui kegiatan ini berdampak positif dalam mendorong tingkat kunjungan wisata ke Takalar.
“Ritual patorani yang menjadi rangkaian Festival Galesong sudah menjadi agenda rutin kegiatan pariwisata di Takalar. Mudah-mudahan event ini terus berkembang di masa-masa yang akan dating,” katanya. (*)
Ritual Patorani, Pesta Nelayan Pemberani
×

