pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Tusuk Gigi Tertancap di Samping Pintu Lift

Dari Hotel Menyintas Covid-19 (1)

APA yang ada di benak anda ketika dinyatakan positif terpapar virus corona, walau dengan kategori orang tanpa gejala alias OTG? Tentulah bercampur aduk. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah karantina. Lalu ke mana, di rumah atau tempat lain?

KARANTINA bagi yang positif covid-19, khususnya OTG dimaksudkan untuk mencegah meluasnya penyebaran virus. Apakah terhadap anggota keluarga serta orang-orang terdekat lainnya. Termasuk bagi rekan kerja yang berada di kantor.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel menyiapkan hotel untuk tempat karantina bagi OTG. Dua di antaranya adalah Hotel Swissbell dan Almadera. Hotel yang berlokasi di sekitar Pantai Losari, Makassar ini mengarantina mereka yang positif corona melalui Program Rekreasi Duta Pencegahan Covid-19.
Di Hotel Swissbell yang berada di bibir pantai, selain menjadi tempat karantina, juga berfungsi sebagai lokasi registrasi bagi para peserta program. Petugas yang ditempatkan di posko ini adalah relawan yang direkrut Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemprov Sulsel. Ada pula tim medis yang bertugas melakukan tes rapid dan swab. Jika kamar di tempat ini sudah terisi penuh, peserta yang baru tiba dan hendak menjalani karantina selanjutnya diarahkan ke Hotel Almadera.
Karena sudah cukup lama kedua hotel ini menjadi tempat karantina, ada persamaan yang cukup mencolok dapat dilihat ketika pertama kali memasukinya. Puluhan batang kayu berukuran kecil yang biasa dipakai untuk tusuk gigi usai makan di warung atau restoran, tertancap di samping pintu masuk lift. Wadahnya dari benda yang mudah tertembus lalu ditempel di dinding.
Untuk apa tusuk gigi tersebut disiapkan? Ternyata disediakan untuk digunakan oleh para peserta program memencet tombol lift ketika menggunakannya. Dengan cara seperti itu, potensi untuk menularkan ke orang lain bisa diminimalisir.
Jika di benak anda petugas yang ada di tempat ini semuanya mengenakan alat pelindung diri lengkap, khususnya hazmat, ternyata tidak ‘seseram’ itu. Mereka ‘hanya’ memakai masker sesuai standar medis.
”Insyaallah, semoga tidak,” tutur seorang perempuan yang bertugas sebagai pendamping peserta. Ia ditanya soal apakah dirinya tidak khawatir terpapar virus karena tak memakai hazmat. Apalagi orang-orang di sekelilingnya telah didiagnosa positif covid-19.
Walau tak mengenakan hazmat, namun mereka selalu menerapkan tiga M. Yakni memakai masker, menjaga jarak, serta rajin mencuci tangan. Langkah tersebut dilakukan, karena disadari bahwa yang mereka layani adalah orang-orang yang terpapar corona. Hal ini diyakini menjadi upaya efektif dalam menekan penularan virus yang hingga sekarang belum ditemukan obat serta vaksinnya.
Jawaban lain diperoleh dari seorang pemateri yang dihadirkan dalam sebuah kelas edukasi. Ia menerangkan alasan kenapa dirinya hanya memakai masker, tanpa APD lengkap ketika berdiri di depan para penyintas covis-19.
”Saya lebih suka berhadapan dengan para peserta yang dinyatakan positif dan dikarantina di tempat ini. Dengan begitu saya bisa menjaga diri. Saya akan selalu memakai masker, menjaga jarak, serta rajin cuci tangan. Menyiapkan juga hand sanitizer. Bagaimana dengan yang di luar sana? Saya lebih khawatir. Karena bisa saja banyak di antara mereka sudah masuk OTG namun tidak terdeteksi. Inilah yang berpotensi menularkan ke yang lain,” tuturnya. (*/rus)



×


Tusuk Gigi Tertancap di Samping Pintu Lift

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar