pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Pimpin Kelurahan Bersama Suami Tanpa Staf

St Subaedah, Srikandi Tangguh dari Pulau Barrang Caddi (1)

KETIKA seseorang menyebut nama Kota Makassar, langsung terlintas di benak kita sebuah kota metropolitan. Kota ramai yang sedang gencar-gencarnya menuju kota dunia. Namun ternyata, dalam wilayah ibukota Provinsi Sulawesi Selatan ini masih terdapat pulau-pulau yang memiliki cerita dan kisah tak pernah terbayangkan. Bahkan cukup memiriskan.

Laporan: Rahman

SEDIKITNYA ada empat kelurahan di Kota Makassar yang tersebar di pulau. Masing-masing Kelurahan Kodingareng, Barrang Caddi dan Barrang Lompo yang masuk dalam naungan Kecamatan Ujung Tanah, serta Kelurahan Lakkang di Kecamatan Tallo.
Khusus untuk Kelurahan Barrang Caddi, ada kisah yang cukup unik dan menarik dari sana. Bukan karena pulaunya yang indah, ataupun kehidupan sehari-hari warganya. Tapi lebih pada aparat pemerintahan di tingkat kelurahan.
Jika di kantor kelurahan pada umumnya di Kota Makassar terdapat struktur berjenjang yang diisi dengan personel yang lengkap, tidak demikian di kantor Kelurahan Barrang Caddi. Di sana hanya ada dua orang yang menjadi pelayan masyarakat.
Lurahnya seorang perempuan bernama St Subaedah. Sementara Sekretaris Lurah (Seklur) bernama ….. Yang menarik, keduanya adalah pasangan suami istri (pasutri). Selain mereka, tidak ada lagi yang membantu menjalankan roda pemerintahan di wilayah kepulauan tersebut. Jangankan kepala seksi atau semacamnya, staf biasa saja tidak ada.
Jika merunut ke belakang, cukup beralasan jika sangat minim aparat sipil negara yang ingin ditempatkan di wilayah ini. Sebab untuk sampai di Pulau Barrang Caddi, dibutuhkan waktu setengah jam perjalanan. Itupun harus menggunakan kapal dan mengarungi lautan.
Untuk menuju Pulau Barrang Caddi, kita harus naik kapal berukuran kecil di Pelabuhan Paotere. Keberangkatan kapal dilakukan pada pagi dan sore hari.
Tapi bagi St Subaedah, persoalan transportasi ini sudah diantisipasinya. Saat ini dia sudah memiliki sebuah kapal ukuran kecil untuk menunjang aktivitasnya, dari pulau Barrang Caddi ke kantor Kecamatan Ujung Tanah di Makassar ataupun sebaliknya.
Yang jadi permasalahan adalah ongkos perjalanannya. Setiap kali melakukan perjalanan dinas, khususnya ketika ke kantor kecamatan, ia harus merogoh kocek hingga Rp100 ribu. Uang itu dipakai untuk membeli bensin serta makanan.
Empat tahun sudah St Subaedah menjalani rutinitasnya sebagai Lurah Barrang Caddi. Segala pahit getir, suka dan duka telah ia lalui memimpin di pulau nun jauh dari keramaian pusat kota itu.
Bagi St Subaedah, menjadi seorang pejabat tidaklah mudah. Tanggung jawabnya sangat besar. Ia menjadi tumpuan dan harapan bagi banyak orang.
Seluruh aspirasi dan kebutuhan masyarakat harus dipenuhi. Tidak pandang tempat, keadaan, sulit ataupun mudah. Belum lagi loyalitas selaku bawahan harus ditunjukkan dan dijalankan sesuai keinginan pimpinan.
Dalam sebuah pertemuan dengan BKM di ruang khususnya di kantor Kecamatan Ujung Tanah baru-baru ini, wanita yang murah senyum itu menuturkan, bahwa menjadi pejabat dan menjalankan pemerintahan di wilayah pulau sangat berbeda dengan yang ada di daratan.
”Setiap hari saya harus bolak balik ke Pulau Barrang Caddi ke kantor kecamatan untuk melayani masyarakat. Saya harus menyeberangi laut dan biasa diperhadapkan dengan gelombang serta pasang surut air laut,” tuturnya.
Semua itu, diakuinya, sempat membuat hati dan perasaannya diliputi rasa was-was. Apalagi jika musim penghujan seperti saat ini, nyawa menjadi taruhannya.
Selain itu, biaya perjalanan yang cukup tinggi meski ia tanggung. Setiap hari ia harus mengeluarkan Rp100 ribu. Jumlah itu tidaklah sebanding dengan biaya operasionalnya sebagai seorang lurah, yakni Rp600 ribu per bulan.
”Sebenarnya biaya operasional yang diberikan tidak cukup. Hanya bisa dipakai satu minggu perjalanan pergi pulang (PP),” ujarnya sambil tersenyum.
Untuk menalangi tambahan biaya operasionalnya, St Subaedah mengaku menyisihkan sebagian gaji bulanannya. Meski tekor, ia bergeming. Subaedah tetap berusaha bekerja semaksimal mungkin memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat.
Biasanya, jika ke kantor kecamatan pada pagi harinya, Subaedah kembali ke Pulau Barrang Caddi pada malam hari. Bahkan terkadang pada pukul 21.00 Wita ia harus menyeberangi lautan.
Sesampainya di rumah, Subaedah tidak bisa langsung beristirahat. Dia masih harus menyisihkan waktu melayani masyarakatnya hingga tengah malam.
Lagi-lagi ini hal unik. Sebab ternyata Subaedah tidak hanya piawai dalam mengurusi pemerintahan. Ia juga terbiasa melayani ibu-ibu yang sedang hamil dan hendak melahirkan.
Usut punya usut, lurah yang satu ini memiliki latar belakang pendidikan bidang kesehatan dengan spesifikasi perawat. Tidak heran, semenjak dilantik menjadi Lurah Barrang Caddi, Subaedah kadang membantu lima ibu-ibu melahirkan dalam satu malam.
”Jadi seperti itu tugas saya melayani masyarakat di Barrang Caddi. Selain urusan administrasi dan kependudukan serta yang lainnya, juga membantu ibu-ibu hamil dan melahirkan,” terangnya. (*/rus/b)



×


Pimpin Kelurahan Bersama Suami Tanpa Staf

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar