pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Harga Melejit, Peternak Menjerit

Pemerintah Diminta Turun Tangan

SIDRAP, BKM — Hampir seluruh peternak ayam ras di Kabupaten Sidrap menjerit akibat pakan ternak yang harganya terus melonjak. Kondisi ini membuat peternak dilematis karena tak bisa menyesuaikan harga telur.

Bayang-bayang gulung tikar pun mulai mengintai para peternak jika salah satu bahan baku makanan ternak ayam ras petelur harganya terus meroket dan tak terkontrol.
Harga jagung dipasaran misalnya terus melambung naik, belum lagi stok mulai langka terutama di pasaran umum, sehingga peternak merasa kelimpungan mencari jagung untuk mendukung hasil produksi ternak mereka. Walaupun harus menanggung resiko kerugian akibat harga pasaran telur tidak menentu.
Salah satu pengusaha ternak ayam petelur di Sidrap Syarial Andi Syarifuddin, Senin (1/2) mengaku populasi 20 ribu ekor ayam ras miliknya membutuhan pakan ternak sedikitnya satu ton dihabiskan tiga sampai empat hari.
Namun disatu sisi, keluhan peternak saat ini, selain harga tinggi juga kelangkaan bahan baku seperti jagung akibat kondisi cuaca. Belum lagi harga telur tidak menentu dipasaran. “Sudah begitu pak kondisi sekarang, kelangkaan jagung terjadi ditambah harganya terus melangit, jadi kita terpaksa menyiasati dengan mengirit pakan ternak,” kata Syahrial, di Pangkajene kemarin.
Menurutnya, faktor utama terjadinya kelangkaan yang menyebabkan harga jagung tembus Rp 7 ribu perkilo gram karena pemerintah pusat menahan ratusan ribu ton jagung impor tersebut dengan alasan administrasi sejak Oktober 2015 lalu hingga sekarang ini.
Kata dia, jika pemerintah melalui Kementrian Pertanian tidak segera mengambil langkah antisipasi terhadap masalah itu, nasib peternak di Indonesia terancam gulung tikar akibat tidak mampu lagi menyesuaikan biaya operasional dengan hasil produksi.
“Untuk apa bertahan kalau aktivitas yang dilakoni sejak puluhan tahun lalu tidak lagi memberikan output yang dapat menunjang kelangsungan hidup mereka bersama sejumlah tenaga kerja lainnya yang ikut merasakan manfaat dari kegiatan ternak,”ujar Syahrial A Syarifuddin yang juga koordinator peternak se Ajatappareng ini.
Ditegaskannya, larangan impor yang diterapkan pemerintah saat terjadi musim panen, itu tidak akan menimbulkan masalah, tapi kalau kondisi saat ini memasuki musim tanam, maka kebijakan itu dinilai sangat merugikan, sehingga kebijakan itu dirasa perlu dilakukan pertimbangan, itupun kalau pemerintah pusat pro rakyat. (ady/C)



×


Harga Melejit, Peternak Menjerit

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar