BULUKUMBA, BKM — Tidak semua orang punya kemampuan untuk bisa menjadi pengawas pemilu yang sukses dan baik. Namun, bagi Ketua Bawaslu Bulukumba Ambo Radde Junaid, semua urusan dan tugas selalu dijalaninya dengan tulus dan sepenuh hati, walau sebenarnya berat. Dengan begitu, Tuhan akan membukakan jalan karena pengabdian dilandasi niat ikhlas akan menjadi jadi berkah baginya.
AMBO RADDE memiliki latar belakang di bidang manajemen keuangan dan perusahaan. Berbekal pengalaman kerja keras di dunia usaha, ia terus membangun koordinasi dan komunikasi ke semua pemangku kepentingan.
Hal itu cukup ampuh ketika ia terapkan selama memimpin Bawaslu Bulukumba. Tidak herak jika semua tahapan pilkada, hingga saat ini hampir tanpa masalah. Hal itu tercipta karena keterbukaan yang terus dijalin.
Ayah tiga anak dari buah pernikahannya dengan Irijane Maronda ini, tidak menampik bila pilkada dihelat di Bulukumba di masa kepemimpinannya sebagai ketua Bawaslu, wilayah ini diwujudkannya tetap dalam zona aman, meskipun sebelumnya diklaim masuk zona merah.
”Harapan kita bersama pilkada Bulukumba aman, tertib, dan lancar. Hal itu akan terwujud bila pengawasannya mengutamakan membangun sinergitas dan harmonisasi guna menghindari konflik,” tutur Ambo Radde.
Ditegaskannya, bagi pengawas pemilu, integritas dan netralitas, serta menguasai regulasi sangat diutamakan. Sebab itu menjadi ukuran kualitas Bawaslu.
Yang tidak kalah pentingnya menyikapi persoalan di Bulukumba, adalah memegang teguh sikap gotong royong dan toleran di atas perbedaan. Sebab kebersamaan di tengah kemajemukan, saling menghormati, dan menghargai, tanpa mengabaikan budaya dan adat, merupakan ciri khas orang Bulukumba yang dewasa dalam berdemokrasi.
”Karena itu buang pikiran negatif. Diubah dengan membangun komunikasi dan koordinasi yang cair untuk mencari persamaan, bukan perbedaan,” tandas Ambo Radde.
Alumni Fakultas Ilmu Manajemen dan Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini mengakui, dunia perusahaan berbeda dengan Bawaslu. Sebab walaupun sudah bekerja profesional, namun masih saja ada tekanan yang kuat lantaran kepentingan politik. Namun sebagai pengawas pemilu, pihaknya harus kuat dan tegas menegakkan aturan, khususnya terhadap pasangan calon yang mengabaikan regulasi.
Diakui Ambo Radde, bekerja sebagai pengawas pemilu memiliki tantangan sendiri. Bawaslu sebagai pengawas perlu kreasi membangun demokrasi sesungguhnya. Karena itu, pengawas harus bisa menempatkan diri sebagai masyarakat sipil dan juga sebagai relawan demokrasi. (min/c)

