pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Penjual di Pinggir Jalan Bisa Dapat Rp12 Juta Sehari

Demam Sepatu Roda Inline Skate Mewabah (1)

DEMAM sepatu roda kembali mewabah. Tapi bukan sepatu roda yang dikenal di era tahun 90-an. Namanya saat ini adalah inline skate.

Laporan: Arif Alqadri

BKM/ARIF ALQADRI
INLINE SKATE-Muliani melayani pembelinya yang datang ke tempat berjualannya di Jalan Abubakar Lambogo, perempatan Pasar Karuwisi. SEPATU roda yang dikenal oleh orang-orang tua kita dulu memiliki dua roda pada bagian depan dan dua roda lainnya di bagian belakang. Penjualannyapun sangat terbatas. Hanya bisa ditemukan di tempat-tempat khusus.
Pembeli dan peminatnya juga masih tergolong minim. Salah satu penyebabnya karena harganya yang terbilang mahal ketika itu.
Sementara sepatu roda inline skate yang lagi ramai saat ini berbeda dengan yang dulu. Modelnya pun beraneka ragam, dan harganya cukup terjangkau.
Inline skate memiliki empat roda di bagian bawah sepatu. Keempatnya terpasang secara lurus dari depan ke belakang. Sehingga untuk menggunakannya dibutuhkan keseimbangan.
Di Makassar dan daerah lainnya di Sulsel, orang yang memainkannya pun semakin banyak. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewan kini tertarik menggunakannya.
Untuk mendapatkan sepatu roda jenis ini tidaklah sulit. Bahkan bisa dibeli di pinggir jalan. Seperti yang terlihat di Jalan Abubakar Lambogo, tepatnya di perempatan Pasar Karuwisi. Penjualnya bernama Muliani (25), warga Jalan Satuan III, Kecamatan Makassar.
Dulunya ibu ini menjual pakaian khusus perempuan dari kantor ke kantor. Namun ia beralih berjualan inline skate setelah melihat kian maraknya penggunaan sepatu roda ini.
Bermodalkan meja kayu ukuran panjang 3 meter dan lebar 2,5 meter, Muliani membuka lapak jualan ‘dadakannya.’ Setiap pagi tempat ini buka pukul 08.00 Wita hingga pukul 17.00 Wita. Konsumennya sebagian besar ibu-ibu yang hendak membeli sepatu roda bagi buah hatinya.
Sembari mengelap satu persatu sepatu roda jualannya, wanita single kelahiran Makassar, 11 September 1990 itu mengaku masih terbilang baru berjualan inline skate.
”Saya baru 10 hari jualan sepatu roda. Dulu saya jual pakaian dari kantor ke kantor,” ujarnya.
Alasannya memilih berjualan sepatu roda, karena beberapa hari belakangan setiap sore di sekitar tempat tinggalnya ia melihat selalu ramai anak-anak yang asyik bermain sepatu roda. Tak ingin melewatkan peluang bisnis tersebut, ia pun meminta kepada saudaranya patungan mengumpulkan modal untuk membeli sepatu roda dan menjualnya di Pasar Karuwisi.
Alhasil, di hari pertama menjadi pedagang musiman yang menjual sepatu roda, wanita yang akrab disapa Muli itu sudah merasakan pemasukan yang cukup lumayan. Di awal buka ia bisa menjual sebanyak 20 pasang sepatu roda dengan harga standar.
Untuk sepasang sepatu roda yang ia beli dari Surabaya, Muli mengaku menjualnya dengan harga yang bervariasi. Mulai dari Rp250 ribu sampai dengaj Rp270 ribu. Tergantung dari motif dan warnanya.
Sementara untuk ukuran sepatu roda yang ia jual, mulai dari usia 3 tahun sampai 17 tahun. Namun yang paling banyak laku adalah untuk anak usia 7 serta 10 tahun.
”Yang banyak datang membeli biasanya ibu-ibu. Mereka membeli sepatu untuk anak-anaknya yang duduk di bangku SD,” ujar Muli.
Dalam sehari, Muli bisa membawa pulang uang Rp4 juta. Bahkan ia mengaku pernah sekali membawa pulang uang sebesar Rp12 juta pada saat pembeli ramai. Ia memperkirakan, setiap hari dapat menjual 13 sampai 20 pasang sepatu roda.
”Pernah saya bawa pulang uang Rp12 juta dalam sehari. Itu kalau banyak barang yang laku. Tapi itu jarang. Paling sering saya hanya bawa pulang sekitar Rp4 juta per hari. Itupun saya sisihkan untuk modal dan tabungan,” akunya.
Nur (36), seorang ibu-ibu yang datang ke tempat jualan Muliani, mengaku hendak membeli sepatu roda buat anaknya yang setiap hari selalu merengek meminta dibelikan sepatu roda yang sudah banyak dimiliki teman-temannya.
“Ini saya belikan untuk anak saya yang masih SD, karena setiap hari merengek minta dibelikan sepatu roda. Saya juga kasihan, karena sudah banyak teman-temannya yang punya. Tapi saya kasih catatan ke dia agar tidak malas belajar,” ujarnya.
Sementara Faiz, seorang murid SD mengaku sangat senang bisa dibelikan sepatu roda oleh orang tuanya yang sudah beberapa hari belakangan ia harapkan.
“Saya senang karena sudah dibelikan sepatu roda sama mamaku. Kalau sudah begini pasti tambah rajinka belajar di rumahnya temanku, karena bisami naik sepatu roda,” cetusnya. (*/rus/b)



×


Penjual di Pinggir Jalan Bisa Dapat Rp12 Juta Sehari

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar