PANDEMI covid-19 telah membawa dampak di berbagai sektor kehidupan. Mereka yang sebelumnya memiliki latar belakang ekonomi mapan saja merasakan akibatnya. Apalagi rakyat kecil dengan penghasilan tak menentu.
PADA sebuah rumah semi permanan di Jalan Veteran Utara, Lorong 297 Kelurahan Maricaya Baru, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Senin (30/11). Seorang bocah laki-laki digendong oleh ayahnya.
Namanya Muhammad Al Fatih. Ia merupakan putra pertama dari dua dua bersaudara, buah hati pasangan suami istri Irul dan Rahmawati. Usianya baru satu tahun lima bulan. Sementara adiknya masih berumur dua bulan.
Bila melihat sekilas, Al Fatih tampak seperti anak-anak lainnya. Namun, siapa sangka bila ia tengah mengalami kelainan kongenital yang menyebabkan anusnya tidak terbentuk dengan sempurna. Dalam istilah medis disebut atresia ani atau anus imperforata, salah satu jenis cacat atau kelainan sejak lahir.
Akibat kelainan ini, penderita tidak dapat mengeluarkan tinja secara normal. Kondisi ini biasanya terjadi karena gangguan perkembangan saluran cerna janin saat usia kehamilan 5-7 minggu. Gangguan pada perkembangan janin ini membuat bentuk rektum (bagian akhir usus besar) sampai lubang anus umumnya terbentuk tidak sempurna.
Menurut Irul, ayah Al Fatih, anaknya telah dua kali menjalani operasi. Rencananya akan memasuki operasi tahap ketiga. Hanya saja, itu tinggal rencana. Keluarga ini terkendala biaya. Orangtua Al Fatih yang berprofesi sebagai pedagang makanan dan minuman di kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar terkendala dampak pandemi covid-19. Mereka tak bisa mencari rezeki seperti biasa, karena kampus diliburkan.
Irul pun harus mencari pekerjaan lain guna memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Dia pun bekerja serabutan sebagai buruh bangunan.
Kondisi keluarga kian memprihatinkan setelah kelahiran anak kedua mereka bernama Arzaka. Usianya yang baru dua bulan dan lahir di tengah pandemi, membuat Irul harus rela bekerja apa saja, asalkan bisa mendapatkan uang untuk membiayai keluarganya.
”Saya harus bisa cari uang di tengah pandemi seperi saat ini. Apa saja yang bisa dikerja, yang penting halal,” ujar Irul yang ditemui di kediamannya, kemarin.
Keadaan memprihatinkan keluarga ini mengundang simpati dari mahasiswa Humanikom Fakultas Fisipol Prodi Ilmu Komunikasi Unismuh. Melalui program Humanikom Care, mereka menggalang donasi melalui sosial media dan menggelar aksi sosial. Program ini sebagai bentuk kepedulian bagi sesama yang membutuhkan, khususnya yang terdampak pandemi covid-19.
Di tengah kondisinya saat ini, Irul berharap ada uluran tangan dari dermawan untuk membantu meringankan beban keluarganya bagi kesembuhan Muhammad Al Fatih. (pkl)

