SEORANG ibu mampu merawat hingga membesarkan anak-anaknya bahkan dalam jumlah banyak. Namun, dari anak yang banyak itu belum tentu bisa merawat dan memelihara ibunya di masa tuanya. Daeng Bollo mengalami hal itu.
PADA sebuah gubuk kecil di Dusun Bontolebang, Desa Pattallassang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa. Berukuran 2×2 meter. Seorang perempuan tua menjalani hari-harinya dalam kesendirian. Namanya Daeng Bollo. Umurnya kira-kira 70 tahun. Kondisinya cukup memprihatinkan. Ia menderita kelumpuhan usai mengalami stroke.
Daeng Bollo kini hidup berdampingan dengan orang yang masih peduli dengan dirinya. Setiap hari ia dirawat oleh keluarganya. Sementara dari tiga anaknya, tak satupun yang pernah datang, walau sekadar untuk menengok guna memastikan apakah sang ibu sudah makan atau belum.
Kisah miris Daeng Bollo mendapat perhatian banyak kalangan. Ia diketahui baru satu setengah bulan yang lalu menetap di Dusun Bontolebang, Desa Pattallassang. Pihak keluarga yang membawanya tinggal di Pattallassang, belum pernah melaporkan keberadaan Daeng Bollo sebagai penduduk baru. Karenanya, pemerintah setempat sempat kaget begitu kisah ibu malang itu viral.
Begitu mengetahui kondisi yang dialami Daeng Bollo, aparat Desa Pattallassang bersama tim medis puskesmas setempat langsung mendatangi rumah gubuknya. Dikoordinir Rusli Husain, tim lapangan puskesmas turun bersama Kepala Desa Pattallassang H Mahmud Lurang dan kepala dusun setempat.
”Atas instruksi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa dr Hasanuddin, kami langsung menemui Daeng Bollo dan memeriksa kesehatannya, Alhamdulillah, dia sehat dan sangat bersih. Cuma beliau memang tidak bisa bergerak karena mengalami kelumpuhan usai stroke,” tuturnya.
Diakui Rusli Husain, Daeng Bollo banyak dibantu tetangga yang juga keluarganya. Mereka datang secara bergiliran membawakan makanan, membersihkan, serta memandikannya. ”Asupan gizinya tercukupi,” tambah Rusli Husain, Jumat siang (1/1).
Dari perbicangannya, Rusli mendapat informasi kalau Daeng Bollo sempat hidup luntang lantung lantaran tidak dipedulikan oleh anak kandungnya sendiri. Beruntung, masih ada kerabat yang bersedia merawatnya dengan tulus.
”Menurut kerabat yang memeliharanya, mereka secara rutin bergiliran membawakan makanan dan memandikannya setiap hari, sehingga kondisi Daeng Bollo bersih dan sehat. Hanya satu kekurangannya, yaitu tinggal terpisah dan sendirian. Tapi itupun atas permintaan Daeng Bollo sendiri, yang mengaku tidak mau merepotkan keluarganya. Dia hanya sedih lantaran tiga anak kandungnya tidak pernah sekalipun datang untu sekadar melihat keadaan ibunya,” jelas Rusli Husain.
Kades Pattallassang Mahmud Lurang, menjelaskan bahwa dari keterangan keluarga dekat, Daeng Bollo baru tinggal sekitar 1,5 bulan di Bontolebang. Keberadaannya belum pernah dilapor keluarganya ke pemerintah desa dan kecamatan.
“Iya (tidak pernah dilaporkan). Makanya, kami selaku pemerintah desa juga kaget karena tiba-tiba viral di medsos ada warga telantar dan tidak diperhatikan pemerintah. Karena itu kami mengimbau kepada masyarakat agar jika ada yang masuk ke desa ini, bagaimanapun kondisinya, agar dilaporkan ke pemerintah agar kita bisa diketahui dan segera bisa menangani bila warga tersebut membutuhkan bantuan,” jelas Mahmud Lurang.
Mahmud mengaku sudah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan untuk segera melakukan antisipasi dan penanganan yang lebih baik kepada Daeng Bollo.
Sejak viral, banyak warga maupun komunitas yang kemudian menyambanginya. Bantuan pun mengalir ke gubuk Daeng Bollo yang sengaja dibuat oleh keluarganya.
Salah satunya yang bertandang ke Daeng Bollo adalah Komunitas Jurnalis Berbagi. Para jurnalis berbagai media di Makassar ini memberikan bantuan kebutuhan pokok untuk wanita tua tersebut.
Saat gubuknya dikunjungi, Jumat (1/1), Daeng Bollo tampak senang.
Dari cerita Daeng Bollo, ia sudah lama sakit lumpuh. Awalnya, ia dirawat oleh anaknya. Namun karena sudah tidak sanggup untuk merawat lagi ibunya, sang anak pun membiarkan Daeng Bollo dengan kondisinya. Ironisnya, tempat tinggal milik Daeng Bollo uang ditempati sebelumnya, pun telah dijual oleh sang anak. Tak satupun harta yang dimiliki, hingga akhirnya kerabatnya yang lain mengambil Daeng Bollo dan merawatnya di Pattallassang.
“Alhamdulillah, kami dari Komunitas Jurnalis Berbagi kembali turun untuk membantu warga yang kurang mampu. Ini merupakan bentuk kepedulian dan wujud empati terhadap warga kurang mampu mapun orang-orang yang tidak beruntung di sekitar kita,” ujar Echa Panrita Lopi selaku koordinator Komunitas Jurnalis Berbagi.
Saat ini, Daeng Bollo dirawat oleh adiknya bernama Daeng Sompa. Semula mereka tinggal dalam satu rumah. Namun, Daeng Bollo tidak ingin merepotkan adiknya itu. Dia lalu meminta untuk tinggal sendiri di gubuk kecil. Setiap hari Daeng Sompa maupun keluarganya yang lain bergantian merawat Daeng Bollo.
“Sewaktu ditelantarkan oleh anaknya, saya minta tinggal di rumah tapi tidak mauki. Karena itu saya berinisiatif untuk buatkan gubuk di sini. Setiap hari kami antarkan makanan dan minuman. Juga datang untuk memandikan dan yang lainnya. Terima kasih juga saya ucapkan kepada masyarakat sekitar dan dermawan yang telah membantu kakak saya. Semoga Allah membalas kebaikanta semua,” kata Daeng Sompa saat menerima kunjungan Komunitas Jurnalis Berbagi ini. (saribulan)

