MAKASSAR, BKM — Pandemi covid-19 telah membawa dampak yang cukup banyak di tengah masyarakat. Mereka dengan ekonomi bawah dan duafa salah satunya. Sangat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Pengurus Masjid Sultan Alauddin Kompleks Perumahan Dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) hadir guna meringankan beban mereka.
DI teras masjid yang berlokasi di Jalan Prof Dr H Abdurrahman A Basalamah, terdapat seperangkat peralatan menyerupai automatic teller machine atau anjungan tunai mandiri (ATM). Namun, itu bukanlah ATM milik bank. Fungsinya bukan pula untuk mengambil uang secara tunai.
Alat ini diperadakan oleh pengurus Masjid Sultan Alauddin. Isinya adalah beras. Karena itu diberi nama anjungan terima mandiri (ATM) beras. Peruntukannya bagi kaum duafa. Mesin ini buatan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1980.
Ketua Pengurus Masjid Sultan Alauddin Dr Ir H Amir Tjoneng,MS menuturkan, pengoperasian ATM beras ini diresmikan oleh Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah pada hari Rabu (6/1) usai salat subuh. Kehadirannya bertujuan untuk membantu masyarakat kurang mampu. Apalagi di tengah pandemi covid-19 saat ini, banyak masyarakat yang terdampak dari segi ekonomi.
Pengadaan ATM beras ini melalui BSM Makassar. Ada 16 pengurus masjid yang terlibat di dalamnya, yang merupakan sinergi program antara Mandiri Syariah dan Laznas BSM Umat. Dananya diperoleh dari BSM pusat dan para donatur. Rinciannya, Rp62 juta per enam bulan dari BSM pusat dan Rp12 juta dari para donatur.
”Setiap kali pengambilan beras, penerima akan mendapatkan empat liter. Sejauh ini sudah ada 150 orang yang terdaftar untuk menerima bantuan,” terang H Amir Tjoneng.
Dijelaskan, ATM beras ini memiliki daya tampung 260 liter. Sejak dioperasikan, sudah dua kali dilakukan pengisian.
Bagi para penerima, jadwal pengambilan beras ditentukan seminggu sekali pada hari Rabu. Untuk sementara, duafa yang bisa mengambil beras di ATM ini adalah masyarakat yang bermukim di Jalan Prof H Abdurrahman A Basalamah. Namun ke depan cakupannya ditargetkan lebih luas lagi agar penyaluran bantuan lebih efektif.
Syarat untuk menerima bantuan melalui ATM beras ini, cukup dengan KTP. Namun, terlebih dahulu harus dilakukan verifikasi. Setelah itu didaftarkan untuk selanjutnya mendapatkan kartu khusus yang bisa digunakan. Kartu ini diprogram khusus agar bisa terkoneksi dengan ATM beras.
”Sejauh ini mayoritas penerima bantuan memakai KTP dan telah terdaftar. Mereka memiliki kartu elektronik yang telah terprogram dan teridentifikasi status kepemilikannya. ATM beras ini telah dilengkapi dengan perangkat elektronik untuk mengontrol dan pemantauan,” jelas Amir Tjoneng lagi.
Untuk cara kerjanya, pemilik kartu cukup menempelkan kartu elektornik yang telah diprogram. Secara otomatis ATM akan mengeluarkan beras dalam jumlah tertentu.
Mesin ATM beras ini didesain pula bagi para donatur yang ingin menyumbang berupa uang. Telah disediakan lubang khusus mirip yang ada di celengan. Di sinilah para donatur memasukkan uang sumbangannya.
”Mesin ATM beras ini hanya ada dua di Sulawesi Selatan, yakni di Masjid Sultan Alauddin dan milik organisasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang digunakan untuk membantu Palestina,” ungkap Amir Tjoneng.
Ia berharap, kehadiran ATM beras ini bisa membantu kaum duafa dalam memenuhi kebutuhannya, khususnya beras. Terutama dalam menghadapi kesulitan yang terjadi akibat pandemi. (pkl)

