pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Saya Dipukul Sampai Kencing, Bu…

Istri dan Anaknya Jadi Korban KDRT oleh Suami

MAKASSAR, BKM — Minggu pagi, (14/2) menjadi hari nahas bagi Rita (25). Ibu tiga anak ini sedang berada di rumah, ketika suaminya Zainal terbangun pukul 07.00 Wita. Zainal kemudian mengakses gawai miliknya. Alat komunikasi menyala itu namun layar sentuhnya tak bisa bergerak. Rita kemudian dituding menjadi biang kerusakan gawai tersebut.
”Kau rusak HPku toh? Bangun tengah malam pakai,” ujar Rita menirukan kalimat Zainal. Setelah itu, Zainal membanting gawai tersebut. Selanjutnya mengambil besi batang kipas angin lalu memukulkannya ke pergelangan tangan kanan Rita.
Rita berusaha menghindar, namun tetap saja terkena pukulan. Saat istrinya meringis kesakitan, Zainal bergeming. Ia tetap memukulinya dari pangkal tangan kiri hingga ke kaki. ”Saya mau patahkan kakinya,” kata Zainal sambil terus memukul, lagi-lagi seperti ditirukan Rita.
Ketiga anaknya menangis melihat anaknya dipukuli menggunakan besi. Tidak ada tetangga yang melerai. Karena rumahnya berada di Blok X Perumnas Antang berjarak jauh dengan rumah lainnya.
Awalnya, anak sulungnya mencoba melerai tapi tidak berhasil. Tangan kirinya malah terkena besi hingga lebam. ”Ini juga dipukul sama bapakku pakai besi,” tuturnya.
Akibat perbuatan suaminya, Rita sangat menderita dan kesakitan. ”Saya kencingi diriku, Bu. Sakit sekali,” ujar Rita dingin.
Zainal langsung menyuruh istrinya membersihkan air kencingnya di lantai. Rita kemudian mengganti celana dan baju. Ketika duduk, ia kembali ditanyai. Zainal memaksa istrinya memperbaiki HP miliknya yang rusak itu.
Rita menangis saja. Tangis permohonan untuk dikasihani. Tapi Zainal melanjutkan pelampiasan amarahnya. Namun, emosi itu tak kunjung reda. Rita menangis sambil mengingatkan perjanjian yang telah disepakati di Pusat Pemberdayaan Perempuandan Perlindungan Anak (P2TP2A) pada 17 Desember 2020, sambil memohon agar tidak dipukul.
”Hanya kita tempatku bersandar. Ibuku sudah meninggal. Kakakku di Riau. Saya sudah tidak punya keluarga lagi,” kata Rita.
Zainal tidak peduli dengan ucapan dan permohonan istrinya. Ketiga anaknya yang tengah kelaparan diabaikannya. Batang kipas angin diacungkan lagi ke arah istrinya. Hingga akhirnya Zainal capek sendiri dan tertidur.
Saat itu Rita berkemas dan mengambil beberapa lembar pakaian. Ia bersama anaknya meninggalkan rumah, lalu berteduh di Masjid Al-Muttaqin. Hujan deras membawanya bernaung di dalam masjid, sambil memeluk anaknya.
Seorang ibu-ibu jamaah Masjid Muttaqin menaruh iba dan memberikannya makan siang. Tapi karena tidak beranjak dari pagi hingga ashar, warga kemudian melaporkan kebaradaan Rita dan anaknya ke Ketua RW 08 M Sabir. Ia langsung datang ke masjid. ”Rita lagi,” ujarnya dengan nada kaget.
”Ini kasus berulang, Bu Kadis,” kata M Sabir melalui telepon selular malam pukul 22.00 Wita. Ia menghubungi Kadis Perlindungan Perempuan dan Pemberdayaan Anak (DPPPA) Kota Makassar Tenri A Palallo.
Sabir yang juga ketua Shelter Warga Hidayah Manggala itu langsung mengirim gambar Rita dan anaknya yang tengah makan malam. Tim shelter warga lainnya ditelepon, hingga tim TRC tiba di Polsek Manggala.
Rita memilih ke Polsek Manggala untuk melaporkan suaminya Zainal. Malam itu juga dibuatkan surat pengantar visum, dan akhirnya kembali ke kantor UPTD untuk bermalam.
Pagi-pagi, Senin (15/2), Kadis DPPPA Tenri A Palallo bersama piket Andi Rahman dan Muslimin Abdullah berbincang-bincang santai dengan Rita yang sementara bermain bersama tiga anaknya. Sungguh diluar dugaan Rita yang sudah menjalani visum memperlihatkan luka yang dideritanya keTenri A Palallo. “Sungguh-sungguh, saya tidak sangka separah ini,” kataTenri.
Rita tanpa air mata menyatakan tekadnya untuk mengakhiri ikatan pernikahannya dengan Zainal. Ia harus menjalani hidup tanpa suami. Ibunya yang sudah meninggal, mengaku membesarkan Rita tanpa ayah sejak dalam kandungan. Kakak laki-lakinya telah terpisah sejak lama. Kabar terakhir ia ada di Riau.
“Saya bisa mencuci dan menyetrika. Saya juga biasa jadi buruh bangunan,” katanya. Tiga anaknya yang masih kecil ditatapnya dengan keyakinan bahwa hidup akan mereka jalani.
“Betulki mau cerai?” tanya Tenri lagi. “Ya bu. Saya tidak tahan lagi dipukul. Semoga kemarin itu terakhir kalinya saya mengencingi diri sendiri. Sakit sekali,” ujar Rita yang menikah pada usia 17 tahun ini. Rumah yang ditempati Rita selama merupakan rumah orangtua Zainal.
Mereka tidak punya harta yang harus dibagi. ”Saya bisa hidupi anakku,” kata Rita yakin. (rls)



×


Saya Dipukul Sampai Kencing, Bu…

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar