MENCIPTAKAN generasi penerus bangsa yang peduli terhadap kondisi sosial yang ada tidaklah semudah membalik telapak tangan. Apalagi dengan melihat realitas yang ada saat ini, khususnya di dunia pendidikan, telah terjadi ketimpangan pemerataan pendidikan antara yang ada di desa dan perkotaan.
DUA orang mahasiswa bergabung di studio mini Harian Berita Kota Makassar, Jumat (5/3). Masing-masing Asrawan dan Surianto Jaya Syam. Asrawan adalah penasihat Koin untuk Negeri (KUN), sementara Surianto selaku ketua KUN.
Dalam sesi Podcast BKM yang dipandu Wahyuni Wahid, terungkap bahwa komunitas KUN merupakan wadah tempat berkumpulnya para pemuda dalam upaya mewujudkan pemerataan pendidikan di seluruh pelosok negeri. Dilakukan melalui pengumpulan donasi dalam bentuk koin, alat tulis, dan pakaian bekas. Mereka yang mayoritas berstatus sebagai mahasiswa merasa terpanggil untuk memperoleh kesempatan berbagi melalui beberapa program KUN yang telah dicanangkan.
Berdiri sejak 1 Januari 2016, komunitas ini melakukan pengabdian di beberapa daerah. Di antaranya Maros, Sinjai, Gowa, Pinrang, dan Palopo.
Mereka melaksanakan pengabdian di daerah-daerah pelosok karena melihat kondisi pendidikan yang ada saat itu sangat jauh dari kata layak.
“Lama perjalanan yang ditempuh sekitar tiga jam menggunakan kendaraan motor, kemudian lanjut berjalan kaki lima sampai delapan jam untuk tiba di lokasi tujuan,” ucap Asrawan.
Hal itu mereka lakukan demi menyalurkan bantuan dari dusun ke dusun yang berada di area pegunungan di Kabupaten Maros. Juga melaksanakan pemberdayaan terhadap masyarakat dalam bentuk mengajarkan cara mengemas produk lokal, seperti madu hutan, gula aren dengan cara pengemasan yang menarik dan higienis agar mampu bersaing.

Kemudian, dalam proses pembelajaran mereka mengadakan beberapa kelas. Yakni kelas alam, kelas kreativitas, kelas agama, dan kelas inspirasi yang mampu mengasah kecerdasan dari siswa-siswa di pelosok. Serta membenahi fasilitas sekolah yang kondisinya tak berlantai dan hanya berdindingkan kayu. Selain di bidang pendidikan, mereka juga bergerak melakukan pembangunan masjid di Kabupaten Sinjai.
Surianto Jaya Syam selaku ketua KUN, berharap apa yang dilakukannya ini bisa mewujudkan pemerataan pendidikan. ”Jangan hanya terpusat di perkotaan. Sekali-kalilah pemerintah coba sentuh adik-adik yang berada di pedesaan, sebagaimana tercantum dalam sila ke-5 Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kalau berkaca dari kondisi adik-adik yang ada di sana, keadilan sosial itu betul-betul belum ada, khususnya di bidang pendidikan,” terangnya.
Diapun mengajak kepada masyarakat untuk mengambil peran dalam proses peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini, baik bergabung sebagai relawan maupun menyalurkan donasinya melalui komunitas KUN.
KUN memiliki sejumlah program. Yakni Tunjuk Satu Koin (TSK), Sekolah Jejak Nusantara (Sejara), bakti sosial, serta Ayo Berbuat untuk Negeri. TSK merupakan program pertama yang dijalankan. Di sini elemen masyarakat diajak untuk menabung setiap bulan dalam bentuk celengan. Dari hasil tabungan yang terkumpul kemudian disalurkan dalam bentuk perlengkapan sekolah berupa tas, ATK, dan sepatu. Program ini dilaksanakan secara berkesinambungan dan dilakukan di tiap bulan.
Sementara program Sejara, diluncurkan oleh komunitas KUN di awal tahun 2017. Program ini dibentuk atas dasar kepedulian terhadap kondisi pendidikan di daerah terpencil dan terpinggirkan. Sejara merupakan wadah pembinaan generasi muda dengan menekankan pada peningkatan kualitas hidup melalui pendidikan alam berbasis lokal, pengembangan kreatifitas, skill, inovasi, dan kemandirian dengan mengedepankan pembelajaran yang ramah lingkungan, santai, insiprasi dan inovasi agar keinginan dan semangat belajar mereka semakin bertambah.
Pembinaan dilakukan selama enam bulan atau satu semester. Proses pembelajaran dibagi dalam empat kelas, yakni kelas alam, kelas literasi, kelas inspirasi, dan kelas kreatifitas. Pembelajaran dilakukan di luar jam sekolah formal dengan memanfaatkan ruang terbuka atau outdoor.
Untuk bakti sosial, pelaksanaannya tiap enam bulan sekali di lokasi binaan. Kegiatan ini cenderung melibatkan orangtua siswa atau masyarakat umum yang ada di lokasi dengan melakukan penyuluhan hidup sehat, sekaligus pemeriksaankesehatan. Program ini diselenggarakan atas prinsip kerja sama dengan pemerintah setempat serta instansi terkait.
Ayo Berbuat untuk Negeri merupakan program jangkapendek dengan mengajak seluruh warga sekolah melalui kerja sama untuk mendonasikan perlengkapan sekolah yang masih layak pakai. Program ini hanya dilakukan setiap bulan April-Agustus. Alasannya, karena pada bulan ini momen yang tepat setelah penyelenggaraan ujian nasional (UN) atau ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Program ini khusus untuk siswa yang duduk di bangku kelas VI, IX, dan XII karena telah mengikuti ujian. (pkl)

